DZIKIR SETELAH SHALAT: ISTIGHFAR, TAUHID, DAN PENYERAHAN DIRI KEPADA ALLAH

DZIKIR SETELAH SHALAT: ISTIGHFAR, TAUHID, DAN PENYERAHAN DIRI KEPADA ALLAH

240. Dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan pada setiap selesai shalat fardhu,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan. Kekayaan seseorang tidak dapat memberikan manfaat kepadanya di hadapan-Mu.” (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 844 dan Muslim no. 593)

241. Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memohon perlindungan dengan doa-doa berikut setelah shalat:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada usia yang paling lemah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6374)

242. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai dari shalatnya, beliau memohon ampun kepada Allah sebanyak tiga kali, kemudian mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Ya Allah, Engkaulah as-Salam (Yang Mahasejahtera), dan dari-Mulah keselamatan. Mahaberkah Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 591)

PENJELASAN

Ketika al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan hadis-hadis yang menjelaskan tata cara shalat, beliau kemudian menyebutkan hadis-hadis yang menunjukkan apa yang diucapkan seseorang setelah selesai shalat.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah ketika berdiri, ketika duduk, dan ketika berbaring.” (QS an-Nisa’: 103)

Maka setelah shalat fardhu terdapat dzikir, sedangkan setelah shalat sunah tidak terdapat dzikir khusus.

Adapun dzikir setelah shalat fardhu, maka dimulai dengan ucapan:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

“Aku memohon ampun kepada Allah, aku memohon ampun kepada Allah, aku memohon ampun kepada Allah.”

Hal itu diucapkan langsung setelah salam, karena seseorang tidak terlepas dari kekurangan dalam shalatnya, baik kekurangan dalam perbuatan-perbuatannya, ucapan-ucapannya, maupun dalam kehadiran hatinya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seseorang apabila telah selesai shalat untuk memohon ampun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memerintahkan untuk beristighfar apabila telah selesai melaksanakan manasik.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا

“Apabila kamu telah menyelesaikan manasik hajimu, maka berdzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, bahkan berdzikirlah lebih banyak daripada itu.” (QS al-Baqarah: 200)

Demikian pula, sudah sepatutnya seseorang apabila berbuka puasa memohon ampun kepada Allah, sebagaimana Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa mengucapkan ketika berbuka,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Ya Allah, ampunilah aku.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam ad-Da’awat al-Kabir, 2/99)

Dengan demikian, istighfar setelah shalat dilakukan karena adanya kekurangan dan ketidaksempurnaan yang terjadi dalam shalat, sebab seseorang tidak akan terlepas dari kekurangan. Maka ia memohon ampun kepada Allah atas kekurangan yang terjadi dalam shalatnya. Kemudian ia mengucapkan,

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Ya Allah, Engkaulah as-Salam (Yang Mahasejahtera), dan dari-Mulah keselamatan. Mahaberkah Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.”

“Ya Allah, Engkaulah as-Salam.” Dengan ucapan ini, seseorang memuji Allah ‘Azza wa Jalla bahwa Dia adalah as-Salam, Yang Mahaselamat dari segala kekurangan dan cacat, Yang Mahaselamat dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keagungan-Nya ‘Azza wa Jalla.

Maka Rabb ‘Azza wa Jalla Mahasempurna sifat-sifat-Nya dan Mahaselamat dari segala kekurangan. Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak ditimpa keletihan, tidak pula mengantuk, tidur, ataupun lalai. Dia Mahahidup dan tidak akan mati, serta berbagai sifat lainnya yang Allah sifatkan bagi diri-Nya berupa kesempurnaan sifat-sifat-Nya.

“Dari-Mulah keselamatan,” maksudnya, dari-Mulah keselamatan itu berasal. Engkau-lah yang memberikan keselamatan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki dari makhluk-makhluk-Mu, dari segala kekurangan dan cacat.

Ini merupakan penyerahan segala urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ini merupakan isyarat atau bentuk tawasul agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan bagimu shalat yang baru saja engkau selesaikan itu, menjadikannya ikhlas, dan menyempurnakan pahalanya.

“Mahaberkah Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.”

“Mahaberkah Engkau,” maksudnya, keberkahan terdapat dalam mengingat-Mu dan menyebut nama-Mu, dan kebaikan-kebaikan-Mu sangat banyak, meliputi segala sesuatu, serta tetap dan terus ada.

“Wahai Pemilik keagungan,” maksudnya, wahai Pemilik keagungan dan kebesaran.

“Kemuliaan,” maksudnya, wahai Pemilik kemuliaan. Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang berhak dimuliakan. Dia berhak untuk dimuliakan. Dia juga memuliakan siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang berhak mendapatkan kemuliaan. Dia memuliakan para penghuni Surga dengan kenikmatan abadi yang Dia anugerahkan kepada mereka.

Kemudian setelah itu, engkau berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan dzikir yang disebutkan oleh penulis rahimahullah dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan setiap selesai shalat fardhu,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Ini adalah kalimat tauhid:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah.”

Maksudnya, tidak ada sesembahan yang benar dan berhak disembah selain Allah.

“Semata,” merupakan penegasan, maksudnya, engkau menegaskan bahwa Allah tidak memiliki sekutu.

“Milik-Nya segala kerajaan,” seluruh kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah semata.

“Milik-Nya segala pujian,” maksudnya, milik-Nya sifat-sifat sempurna yang karenanya Dia ‘Azza wa Jalla dipuji.

“Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,” tidak ada sesuatu pun di langit maupun di bumi yang dapat melemahkan-Nya.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا

“Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang dapat melemahkan Allah. Sesungguhnya Dia Mahamengetahui lagi Mahakuasa.” (QS Fathir: 44)

“Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan,” maksudnya, apabila Engkau telah menetapkan suatu pemberian, maka tidak seorang pun dapat menghalanginya. Apabila Allah menghendaki untuk memberikan rezeki berupa ilmu kepada seseorang, tidak akan ada seorang pun yang mampu menghalangi ilmu tersebut. Apabila Allah menghendaki untuk memberinya harta, tidak akan ada seorang pun yang mampu menghalangi harta tersebut. Apabila Allah menghendaki untuk memberinya anak-anak, tidak akan ada seorang pun yang mampu menghalangi anak-anak tersebut. Maka, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang telah Allah berikan.

“Tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan,” maksudnya, apabila Engkau menahan sesuatu, maka tidak seorang pun mampu memberikannya. Apabila telah ditakdirkan atas seseorang untuk menjadi miskin, maka tidak seorang pun dapat menjadikannya kaya. Apabila telah ditakdirkan untuk menjadi orang yang tidak berilmu, maka tidak seorang pun dapat memberinya ilmu. Apabila telah ditakdirkan bahwa ia tidak memiliki istri dan anak-anak, maka tidak seorang pun dapat memberinya rezeki berupa istri dan anak-anak. Maka, seluruh urusan berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla.

“Kekayaan seseorang tidak dapat memberikan manfaat kepadanya di hadapan-Mu,” maksudnya, kekayaan, keberuntungan, kemuliaan, dan kedudukan tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun di hadapan Allah. Apabila Allah menghendaki keburukan menimpa seseorang, maka tidak ada yang dapat menolaknya, sekalipun ia adalah orang yang paling kaya dan paling kuat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ۝ تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah, ‘Wahai Allah, Pemilik segala kerajaan, Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Engkau memberikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.’” (QS Ali ‘Imran: 26–27)

Seluruh urusan berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka sudah sepatutnya bagi kita setiap selesai shalat fardhu untuk mengucapkan dzikir berikut:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan. Kekayaan seseorang tidak dapat memberikan manfaat kepadanya di hadapan-Mu.”

Baca juga: HUKUM-HUKUM SHALAT

Baca juga: SIFAT SHALAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Baca juga: HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT KEPADA KERABAT YANG MISKIN

Baca juga: HIKMAH LIMA RUKUN ISLAM DAN MANFAATNYA BAGI KEHIDUPAN

Baca juga: DORONGAN UNTUK BERIMAN KEPADA NAMA-NAMA ALLAH TA’ALA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Bulughul Maram