322. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan di antara dua sujud,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي
“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku keselamatan, dan berilah aku rezeki.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 874, at-Tirmidzi no. 292, Ibnu Majah no. 898, dan al-Hakim 1/500)
PENJELASAN
Penulis rahimahullah membawakan hadis ini dalam bab “Sifat Shalat” untuk menjelaskan apa yang diucapkan oleh orang yang shalat di antara dua sujud, yaitu:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي
“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku kesehatan, dan berilah aku rezeki.”
Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon ampunan kepada Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berdoa dengan doa ini di antara dua sujud. Dari hal itu dipahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tuma’ninah dalam duduk tersebut, berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang beranggapan bahwa tidak ada tuma’ninah di dalamnya, dan bahwa seseorang hanya mengangkat kepala dari sujud pertama lalu langsung sujud kembali. Pendapat ini keliru dan bertentangan dengan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya,
ثُمَّ ارْفَعْ ـ يَعْنِي: مِنَ السُّجُودِ ـ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا
“Kemudian angkatlah dirimu —yakni dari sujud— hingga engkau tenang dalam keadaan duduk.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6251, Muslim no. 397, Ahmad no. 9352, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i no. 874, dan Ibnu Majah no. 1060)
Dzikir pada tempat ini mencakup kebaikan dunia dan akhirat.
Ucapan beliau, “Ya Allah, ampunilah aku,” di dalamnya terdapat permohonan ampunan atas dosa-dosa, yaitu agar Allah Ta’ala memaafkan hamba-Nya dan menutupi dosanya. Inilah makna ampunan, yaitu memaafkan dan menghapus dosa, sehingga seseorang tidak dihukum karenanya, serta menutupinya dari hamba-hamba Allah sehingga tidak seorang pun mengetahuinya.
Adapun ucapan beliau, “Rahmatilah aku,” maka ini adalah permohonan rahmat yang dengannya diperoleh apa yang diinginkan, yaitu agar Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu dan memasukkanmu ke dalam rahmat-Nya.
Dengan demikian, doa memohon ampunan mengandung keselamatan dari sesuatu yang ditakuti dan hilangnya sesuatu yang tidak disukai, sedangkan doa memohon rahmat mengandung tercapainya apa yang diinginkan. Karena ampunan berarti diangkatnya hukuman akibat dosa-dosa, sedangkan rahmat berarti didatangkannya berbagai manfaat dan kebaikan.
Rahmat mencakup seluruh nikmat agama dan dunia. Nikmat dunia berupa harta, kemuliaan, kedudukan di tengah manusia, dan martabat di sisi mereka. Adapun nikmat akhirat berupa ilmu, iman, ketaatan, dan yang semisalnya. Intinya, rahmat mencakup seluruh kebaikan agama dan dunia.
Adapun permohonan keselamatan dalam ucapan, “Berilah aku keselamatan,” maka mencakup keselamatan dari penyakit-penyakit badan, keselamatan dari penyakit-penyakit hati, keselamatan dalam hak-hak manusia sehingga engkau tidak menzalimi mereka atau menyakiti mereka, serta keselamatan dari gangguan manusia sehingga mereka tidak menzalimimu dan tidak menyakitimu. Empat perkara ini semuanya termasuk dalam ucapan, “Berilah aku keselamatan.”
Yang paling berat di antaranya adalah penyakit-penyakit hati —wal-‘iyadzu billah.
Penyakit hati memiliki banyak jenis. Di antaranya adalah penyakit yang berkaitan dengan keyakinan. Penyakit seseorang dari sisi ini terletak pada adanya keraguan di dalam hatinya terhadap apa yang telah diberitakan Allah, baik yang berkaitan dengan Diri-Nya ‘Azza wa Jalla, maupun tentang hari akhir, tentang berita umat-umat terdahulu, atau selain itu.
Hal ini banyak terjadi pada kalangan ahli kalam yang mengingkari sifat-sifat yang Allah sifatkan bagi diri-Nya sendiri —wal-‘iyadzu billah— dan mereka memalingkan kalimat-kalimat dari makna yang semestinya. Ini merupakan tingkatan yang lebih buruk daripada sekadar keraguan —wal-‘iyadzu billah. Mereka bukan hanya ragu, bahkan mereka meyakini dengan pasti bahwa makna lahiriah yang tampak dari al-Qur’an dan as-Sunnah bukanlah yang dikehendaki. Menurut mereka, yang dikehendaki adalah makna lain yang mereka sangka-sangka sendiri. Dengan demikian, mereka telah berdusta atas nama Allah ‘Azza wa Jalla.
Demikian pula termasuk penyakit-penyakit hati adalah syirik, seperti riya’, suka memperlihatkan amal kepada manusia, serta ingin agar manusia mengetahui ibadahmu, seakan-akan engkau beramal untuk hamba-hamba Allah, bukan untuk Allah —wal-‘iyadzu billah.
Obat penyakit ini adalah engkau menyadari bahwa manusia tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu, dan bahwa Dzat yang di tangan-Nya terdapat segala kebaikan dan manfaat hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla. Hendaklah engkau mengharapkan dengan amalmu pahala akhirat. Apabila seseorang mengharapkan pahala akhirat, maka urusan dunia tidak lagi menjadi perhatiannya, baik manusia memujinya maupun mencelanya. Sebab, ia beramal untuk sesuatu yang akan diperolehnya di masa depan.
Apabila seseorang menampakkan amalnya kepada manusia agar mereka meneladaninya, mengambil contoh darinya, dan mengamalkannya, maka hal itu terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat dan memperlihatkan shalat beliau kepada manusia. Bahkan suatu ketika beliau naik ke atas mimbar untuk memperlihatkan kepada mereka bagaimana beliau shalat, lalu beliau bersabda,
إِنَّمَا فَعَلْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي
“Sesungguhnya aku melakukan ini agar kalian mengikuti aku dan agar kalian mempelajari tata cara shalatku.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 917 dan Muslim no. 544)
Demikian pula apabila seseorang menampakkan suatu kebaikan agar manusia meneladaninya dalam perbuatannya sehingga mereka melakukan hal yang sama. Misalnya ia berkata, “Aku sedang berpuasa pada hari Senin,” atau “hari Kamis,” atau “hari-hari putih (ayyamul bidh),” bukan agar manusia mengetahui puasanya, tetapi agar ia mendorong saudara-saudaranya untuk berpuasa.
Yang penting adalah bahwa amal-amal itu tergantung pada niatnya. Jika ia berniat baik dengan menampakkan ketaatan, maka itu adalah kebaikan. Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla memuji orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, karena mereka mengharapkan kemaslahatan dalam hal tersebut.
Di antara penyakit hati yang buruk adalah adalah penyakit zina —wal-‘iyadzu billah— dan kecintaan kepada perempuan —wal-‘iyadzu billah— sebagaimana Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman tentang istri-istri Nabi:
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
“Wahai istri-istri Nabi, barang siapa di antara kalian mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya azab baginya akan dilipatgandakan dua kali lipat. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS al-Ahzab: 30)
Demikian pula termasuk penyakit hati adalah membenci sebagian dari apa yang Allah turunkan, menyimpan kedengkian terhadap hamba-hamba Allah, hasad di antara manusia, dan berbagai penyakit lain yang memengaruhi hati.
Demikian pula kita memohon keselamatan kepada Allah dari penyakit-penyakit badan, yaitu penyakit-penyakit yang bersifat fisik.
Adapun sabda beliau, “Berilah aku petunjuk,” maka petunjuk memiliki dua makna: petunjuk ilmu dan petunjuk taufik.
Petunjuk ilmu adalah Allah ‘Azza wa Jalla mengajarkan kepadamu apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui dari perkara-perkara yang engkau butuhkan dalam urusan agama dan duniamu. Adapun petunjuk taufik adalah Allah memberikan taufik kepadamu untuk mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Sebab, sebagian manusia mengetahui, tetapi tidak mengamalkannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى
“Adapun kaum Tsamud, maka Kami telah memberi mereka petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk.” (QS Fushshilat: 17)
Maksudnya, Kami telah menjelaskan kepada mereka jalan yang benar dan mengajarkan mereka, akan tetapi mereka —wal-‘iyadzu billah— lebih memilih kesesatan daripada petunjuk, sehingga mereka kafir dan terus-menerus bertahan dalam kekafiran mereka.
Dengan demikian, makna sabda beliau, “Berilah aku petunjuk,” yaitu bahwa engkau memohon kepada Allah dua perkara:
1. Petunjuk kepada kebenaran dan kebaikan, dan
2. Taufik untuk mengikutinya.
Sebab, manusia yang tidak berada di atas kebenaran terkadang penyebabnya adalah kebodohan sehingga ia tidak mengetahui kebenaran. Terkadang pula penyebabnya adalah sikap membangkang dan sombong. Ia mengetahui kebenaran, tetapi tidak menginginkannya —wal-‘iyadzu billah.
Keadaan yang kedua lebih buruk. Orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak menginginkannya lebih buruk daripada orang yang tidak mengetahui kebenaran sehingga tidak mengamalkannya. Sebab, yang kedua menyerupai orang-orang Yahudi. Mereka mengetahui kebenaran, tetapi tidak mengikutinya. Adapun yang pertama menyerupai orang-orang Nasrani. Mereka menginginkan kebenaran, tetapi tidak diberi taufik untuk mendapatkannya.
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Barang siapa di antara ulama kami yang rusak, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang-orang Yahudi. Barang siapa di antara ahli ibadah kami yang rusak, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan orang-orang Nasrani,” karena seorang alim dapat menjadi rusak setelah mengetahui kebenaran, tetapi ia tidak menginginkannya —wal-’iyadzu billah. Adapun seorang ahli ibadah, ia sangat bersemangat untuk beribadah dan menginginkannya, tetapi ia tidak mengetahui tata caranya, sehingga ia beribadah kepada Allah di atas kebodohan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun sabda beliau, “berilah aku rezeki”, maka engkau memohon kepada Allah rezeki.
Rezeki adalah segala sesuatu yang dengannya tubuh manusia dapat tegak dan bertahan, baik yang halal maupun yang haram. Bahkan yang haram pun termasuk rezeki, hanya saja rezeki yang haram memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Seseorang akan dihisab karenanya dan berdosa karena memperolehnya. Adapun rezeki yang halal, maka tidak ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan dan tidak ada dosa padanya.
Muhammad as-Saffarini rahimahullah berkata dalam kitab akidahnya, “Rezeki adalah segala sesuatu yang dimanfaatkan, baik yang halal maupun lawannya (yang haram). Maka lepaskanlah dirimu dari anggapan yang mustahil.”
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Tidak satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam Kitab yang nyata.” (QS Hud: 6)
Banyak manusia —meskipun bukan mayoritas mereka— diberi rezeki melalui cara yang haram, seperti berjudi —wal-’iyadzu billah— atau melakukan transaksi yang diharamkan. Meskipun demikian, Allah tetap memberikan rezeki kepada mereka. Dengan demikian, rezeki mencakup segala sesuatu yang dengannya tubuh dapat tegak dan bertahan.
Demikian pula, segala sesuatu yang dengannya agama seseorang dapat tegak adalah rezeki. Ilmu adalah rezeki. Bahkan apabila Allah memberikan taufik kepada seseorang untuk memperoleh ilmu, maka rezeki berupa ilmu itu lebih utama daripada rezeki berupa harta. Sebab, ilmu adalah cahaya yang dengannya seseorang memperoleh petunjuk serta dapat memberi petunjuk kepada orang lain. Adapun harta, manfaatnya terkadang hanya dirasakan oleh pemiliknya, dan terkadang juga dapat dirasakan oleh orang lain.
Ilmu jauh lebih utama daripada harta. Bahkan, seorang alim yang memberi manfaat kepada manusia dengan ilmunya tidak dapat disamakan dengan pemilik harta yang melimpah, meskipun ia banyak bersedekah dan menginfakkan hartanya di jalan Allah. Kenyataan menjadi saksi atas hal tersebut.
Kita mengetahui dari sejarah bahwa banyak orang kaya, raja, dan khalifah memberikan manfaat kepada manusia semasa hidup mereka. Mereka membangun masjid-masjid, mendirikan sekolah-sekolah, dan melakukan berbagai kebaikan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, nama mereka terlupakan dan tidak lagi dikenal oleh banyak orang. Sebaliknya, kita mengenal para ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelah mereka. Allah mengabadikan nama mereka melalui ilmu yang mereka wariskan kepada umat. Padahal, telah berlalu ratusan tahun sejak wafatnya mereka, dan mereka tidak meninggalkan warisan berupa harta yang besar. Namun, karena ilmu yang mereka sebarkan, nama mereka terus disebut dan dikenang oleh manusia. Bahkan, penyebutan nama mereka jauh lebih banyak daripada penyebutan nama para khalifah dan orang-orang kaya yang dahulu memberi manfaat kepada manusia dengan harta mereka semasa hidupnya.
Kesimpulannya, rezeki dalam ucapan beliau, “berilah aku rezeki,” mencakup rezeki agama dan rezeki dunia. Rezeki agama meliputi ilmu, iman, dan amal saleh. Adapun rezeki dunia mencakup segala sesuatu yang dengannya jasad dapat tegak dan bertahan, berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan pasangan. Semua itu termasuk dalam makna ucapan beliau, “berilah aku rezeki.”
Tidak diragukan lagi bahwa seorang mukmin ketika mengucapkan, “Ya Allah, berilah aku rezeki,” sesungguhnya ia memohon kepada Allah Ta’ala rezeki yang halal, bukan rezeki yang haram. Sebab, sebelumnya ia telah mengucapkan, “berilah aku petunjuk.” Adapun orang yang mencari harta melalui jalan yang halal maupun yang haram, berarti ia belum memperoleh petunjuk. Oleh karena itu, ketika engkau mengucapkan, “Ya Allah, berilah aku rezeki ,” maksudnya adalah “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku rezeki yang halal yang dengannya tubuhku dapat tegak dan bertahan. Anugerahkan pula kepadaku rezeki yang dapat menghilangkan kebodohanku dan menambah ilmuku,” yaitu rezeki berupa ilmu dan harta.
Kelima kalimat ini selayaknya dibaca oleh seseorang ketika duduk di antara dua sujud. Hendaklah ia memberi isyarat dengan jari telunjuknya pada setiap kalimat doa, karena pada keadaan ini jari-jari tangan dalam posisi digenggam, yaitu jari kelingking, jari manis, ibu jari, dan jari tengah. Adapun jari telunjuk, maka digunakan untuk memberi isyarat dan digerakkan pada setiap kalimat doa.
Setiap kali engkau mengucapkan, “رَبِّ اغْفِرْ لِي”, engkau mengangkat jari telunjuk tersebut. Demikian pula ketika mengucapkan, “وَارْحَمْنِي”, dan seterusnya hingga seluruh kalimat doa selesai. Sebagaimana engkau juga melakukan hal itu ketika tasyahud, yaitu memberi isyarat dengan jari telunjuk dan mengangkatnya pada setiap kalimat doa.
Allah-lah Yang Memberi taufik.
Baca juga: TAWAKAL KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA
Baca juga: REZEKI TELAH DITETAPKAN DAN DITULISKAN
Baca juga: MENCARI REZEKI DENGAN BERTAWAKAL KEPADA ALLAH
Baca juga: SIFAT SHALAT NABI – UCAPAN KETIKA DUDUK DI ANTARA DUA SUJUD
Baca juga: TAKWA MENDATANGKAN JALAN KELUAR DAN REZEKI DARI ARAH YANG TIDAK DISANGKA
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

