316. Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kepala beliau dari rukuk, beliau mengucapkan,
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji, sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelah itu. Engkaulah yang berhak atas segala pujian dan keagungan. Itulah perkataan yang paling benar yang diucapkan seorang hamba, dan kami semua adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan, dan kekayaan serta kedudukan seseorang tidak akan bermanfaat baginya di hadapan-Mu..” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 477)
PENJELASAN
Ibnu Hajar rahimahullah membawakan hadis ini dalam Bab Sifat Shalat untuk menjelaskan bacaan yang diucapkan oleh orang yang shalat setelah bangkit dari rukuk.
Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kepala beliau dari rukuk, beliau mengucapkan,
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ
“Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji.”
Kata (اللَّهُمَّ) berarti, “Wahai Allah.” Yakni, “Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji.” Ini merupakan salah satu bentuk bacaan yang diriwayatkan dalam ucapan setelah bangkit dari rukuk. Diriwayatkan pula bacaan:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
“Ya Allah, wahai Rabb kami, dan bagi-Mu segala puji.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 795 dan Muslim no. 471) Yaitu dengan menggabungkan keduanya.
Diriwayatkan pula:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
“Rabb kami, dan bagi-Mu segala puji.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 689 dan Muslim no. 392)
Diriwayatkan pula:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ
“Rabb kami, bagi-Mu segala puji.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 722 dan Muslim no. 477)
Dengan demikian, terdapat empat bentuk bacaan dalam kalimat ini dan semuanya diperbolehkan, karena seluruhnya telah diriwayatkan dalam sunah.
Yang lebih baik adalah engkau mengucapkan bacaan yang ini pada suatu waktu dan bacaan yang lainnya pada waktu yang lain. Maksudnya, janganlah terus-menerus hanya menggunakan satu bentuk bacaan, karena semua bentuk tersebut diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika engkau hanya membatasi diri pada satu bentuk saja, berarti engkau meninggalkan bentuk-bentuk yang lainnya. Namun, jika engkau menggunakan yang ini pada suatu waktu dan yang lainnya pada waktu yang lain, berarti engkau telah mengamalkan sunah.
Adapun sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki setelah itu,” para ulama mengatakan bahwa makna kalimat ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala dipuji atas segala perbuatan-Nya dan atas segala kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya. Perbuatan-perbuatan-Nya telah memenuhi langit dan bumi serta memenuhi apa yang ada di antara keduanya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala senantiasa dan akan selalu menciptakan di langit dan bumi ini. Segala sesuatu yang Allah adakan di langit dan bumi, maka Dia ‘Azza wa Jalla berhak mendapatkan pujian atasnya. Dengan demikian, pujian tersebut memenuhi langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya. Sebab, segala sesuatu yang terdapat di dalam semua itu merupakan ciptaan-Nya. Dia menghidupkan dan mematikan, memberikan kekayaan dan menjadikan miskin, menetapkan kesengsaraan dan kebahagiaan, serta berbagai perbuatan-Nya yang lainnya, yang atas semuanya itu Dia berhak mendapatkan segala pujian.
“Sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki setelah itu.” Hal itu karena sebelum adanya langit terdapat sesuatu, dan setelah langit pun terdapat sesuatu. Demikian pula, langit dan bumi dahulu belum ada, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan keduanya. Kemudian pada Hari Kiamat keduanya akan menjadi tiada. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ، وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ
“Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS az-Zumar: 67)
Setelah penghuni Neraka berada di dalam Neraka dan penghuni Surga berada di dalam Surga, langit dan bumi akan lenyap, sehingga tidak ada lagi langit dan bumi.
Adapun apa yang akan ada setelahnya, sebagaimana dalam sabdanya, “sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelah itu,” maka Allah lebih mengetahui tentangnya. Akan tetapi, apa yang ada setelahnya bersifat terus-menerus dan kekal. Sesungguhnya penghuni Neraka akan kekal di dalam Neraka selama-lamanya, dan demikian pula penghuni Surga akan kekal di dalamnya selama-lamanya.
Ada pula kemungkinan bahwa sabda, “sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelah itu,” bermakna: sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki di luar langit dan bumi, bukan “setelahnya” dalam pengertian waktu. Maksudnya, terdapat makhluk-makhluk yang mungkin tidak kita ketahui. Di antaranya, misalnya, ‘Arsy dan Kursi. Kita tidak mengetahui hakikat dan bagaimana keadaan Kursi, dan tidak ada yang mengetahui kadar kebesaran ‘Arsy selain Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan demikian, sabdanya, “sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelah itu,” dapat bermakna: sepenuh makhluk-makhluk lain di luar itu yang tidak kita ketahui.
Adapun sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, (أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ) “Yang berhak atas segala pujian dan keagungan,” boleh diucapkan (أَهْلُ الثَّنَاءِ) dan boleh pula diucapkan (أَهْلَ الثَّنَاءِ).
Jika engkau mengucapkan (أَهْلُ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ), maka maknanya: “Wahai Dzat yang berhak atas segala pujian dan keagungan.” Adapun jika engkau mengucapkan (أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ), maka maknanya: “Engkaulah Dzat yang berhak atas segala pujian dan keagungan.”
Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat yang berhak atas segala pujian dan keagungan. Dialah yang diseru dengan sifat ini: (يَا أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ) “Wahai Dzat yang berhak atas segala pujian dan keagungan.”
(الثَّنَاءُ) adalah mengulang-ulang pujian, sedangkan (الْحَمْدُ) adalah menyifati Dzat yang dipuji dengan kesempurnaan dan kebaikan.
Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat yang berhak atas segala pujian dan Dzat yang memiliki segala keagungan, yaitu kebesaran dan kekuasaan.
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perkataan yang paling benar yang diucapkan seorang hamba.” Maksudnya, inilah perkataan yang paling benar yang diucapkan seorang hamba, yaitu pujian kepada Allah. Sesungguhnya memuji Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya merupakan perkataan yang paling benar yang diucapkan seorang hamba, karena Allah ‘Azza wa Jalla memang berhak mendapatkannya. Dia adalah al-Haqq (Yang Mahabenar), sehingga menyifati-Nya dengan sifat-sifat yang memang layak bagi-Nya merupakan kebenaran yang paling hakiki.
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan kami semua adalah hamba-Mu.” Maksudnya, kami semua adalah hamba-hamba-Mu. Semua yang berada di langit dan di bumi adalah hamba Allah. Allah Ta‘ala berfirman:
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا
“Tidak seorang pun di langit dan di bumi melainkan akan datang kepada ar-Rahman sebagai seorang hamba.” (QS Maryam: 93)
Bahkan orang-orang kafir pun merupakan hamba-hamba Allah, dalam pengertian bahwa mereka berada di bawah kekuasaan, kepemilikan, dan rububiyah-Nya.
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan. Kekayaan dan kedudukan seseorang tidak akan bermanfaat baginya di hadapan-Mu.”
Maksud dari “Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan,” adalah bahwa tidak seorang pun mampu menghalangi apa yang Allah berikan. Apabila Allah telah menetapkan untukmu suatu pemberian, karunia, kebaikan, rezeki, anak, ilmu, atau selainnya, maka tidak seorang pun mampu menghalanginya.
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan.”
Apabila Allah menahan sesuatu darimu, maka tidak seorang pun mampu memberikannya kepadamu. Bahkan sesuatu yang datang kepadamu melalui ayahmu, saudaramu, atau temanmu, pada hakikatnya berasal dari Allah. Dialah yang menyampaikannya kepadamu melalui tangan orang tersebut. Oleh karena itu, janganlah engkau mengatakan, “Orang-orang inilah yang memberiku harta, pakaian, dan makanan; mereka mengajariku dan membantuku dalam berbagai urusanku.”
Pada hakikatnya, semua itu bukan semata-mata berasal dari mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala menundukkan mereka untuk membantumu. Memang benar, merekalah yang secara langsung menjadi perantara dalam memberikan semua itu. Akan tetapi, pada asalnya, yang menanamkan dalam hati mereka rasa kasih dan perhatian kepadamu adalah Allah ‘Azza wa Jalla.
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kekayaan serta kedudukan seseorang tidak akan bermanfaat baginya di hadapan-Mu.”
(الْجَدُّ) berarti keberuntungan, kekayaan, kekuasaan, kemampuan, dan kekuatan. Setiap orang yang memiliki kekuasaan, kemampuan, kekuatan, harta, dan berbagai hal lainnya yang membuatnya merasa tidak membutuhkan orang lain, tetap saja tidak pernah dapat merasa cukup dari Allah. Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kekayaan serta kedudukan seseorang tidak akan bermanfaat baginya di hadapan-Mu.” Maksudnya, keberuntungan, kekayaan, dan kekuasaannya tidak akan dapat memberikan manfaat kepadanya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
“Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan tidak ada bagi mereka pelindung selain Dia.” (QS ar-Ra’d: 11)
Dengan demikian, apabila kita mengucapkan, (سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) “Allah mendengar orang yang memuji-Nya,” maka selayaknya kita mengucapkan:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji, sepenuh langit, sepenuh bumi, dan sepenuh apa pun yang Engkau kehendaki setelah itu. Engkaulah yang berhak atas segala pujian dan keagungan. Itulah perkataan paling benar yang diucapkan seorang hamba, dan kami semua adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan, dan kekayaan serta kedudukan seseorang tidak akan bermanfaat baginya di hadapan-Mu.”
Baca juga: AKIDAH ISLAM
Baca juga: BAHAYA PUJIAN
Baca juga: SIFAT SHALAT NABI – BANGKIT DARI RUKUK
Baca juga: LANGIT ADALAH BENDA YANG MEMILIKI WUJUD FISIK
Baca juga: KEUTAMAAN TAUHID DAN DOSA-DOSA YANG DIHAPUS KARENANYA
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

