ADAB BERBICARA (1)

ADAB BERBICARA (1)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ، إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS al-Isra’: 36)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya Surga.” (Takhrijnya akan disebutkan kemudian)

Adab-adab

1. Menjaga Lisan

Termasuk perkara yang semestinya sangat diperhatikan oleh seorang muslim adalah lisannya. Hendaklah ia benar-benar menjaganya dengan sebaik-baiknya, menjauhi ucapan yang batil, kesaksian palsu, ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), perkataan keji, dan seluruh ucapan yang buruk. Inti dari semua itu adalah menjaga lisannya dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

Seseorang terkadang mengucapkan satu kata yang membinasakan dunia dan akhiratnya. Sebaliknya, terkadang ia mengucapkan satu kata yang dengannya Allah mengangkatnya beberapa derajat.

Bukti dari hal tersebut adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، فَيَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ 

Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kata tanpa memikirkan akibatnya, lalu karena kata itu ia tergelincir ke dalam Neraka sejauh jarak antara timur.”

Dalam riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan:

أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sejauh jarak antara timur dan barat.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6477 dan lafaz ini adalah lafaznya, Muslim no. 2988; dan Ahmad no. 8703)

Dalam riwayat Ahmad yang lain:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يُضْحِكُ بِهَا جُلَسَاءَهُ، يَهْوِي بِهَا مِنْ أَبْعَدَ مِنَ الثُّرَيَّا

Sesungguhnya seseorang mengucapkan suatu kata untuk membuat teman-teman duduknya tertawa, lalu karena kata itu ia terjerumus lebih jauh daripada bintang Tsurayya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 8967)

Sebagaimana sebuah perkataan dapat menjadi sebab datangnya kemurkaan Allah, demikian pula sebuah perkataan dapat menjadi sebab diperolehnya kedudukan yang tinggi dan kebahagiaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang diridhai Allah, sementara ia tidak menganggapnya penting, namun Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan itu. Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang dimurkai Allah, sementara ia tidak menganggapnya penting, namun karena perkataan itu ia terjerumus ke dalam Jahanam.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6478 dan lafaz ini adalah lafaznya; Ahmad no. 8206; dan Malik no. 1849 dengan lafaz yang berbeda dari lafaz al-Bukhari dan Ahmad)

Dalam pertanyaan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam Surga dan menjauhkan dari Neraka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyebutkan kepadanya rukun-rukun Islam dan beberapa pintu kebaikan. Kemudian beliau bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟

Maukah aku beritahukan kepadamu pokok yang menguasai seluruh itu?

Aku (Mu’adz) menjawab, “Tentu, wahai Nabi Allah.”

Beliau memegang lisannya dan bersabda,

كَفَّ عَلَيْكَ هَذَا

Jagalah ini.”

Aku (Mu’adz) berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kami benar-benar akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan?”

Beliau menjawab:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

Semoga ibumu kehilanganmu, wahai Mu’adz! Bukankah yang menelungkupkan manusia ke dalam Neraka di atas wajah-wajah mereka —atau di atas hidung-hidung mereka— hanyalah akibat dari ucapan-ucapan yang dipetik oleh lisan mereka?” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2616 dan ia berkata, “Hadis hasan sahih.” Juga diriwayatkan oleh Ahmad no. 21511 dan Ibnu Majah no. 3973)

Bahkan perkara ini tidak berhenti sampai di situ. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menjamin Surga bagi orang yang menjaga lisannya dan kemaluannya. Beliau bersabda,

مَنْ يَضْمَنُ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya Surga.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalur Sahl bin Sa’d no. 6474, Ahmad no. 22316, dan at-Tirmidzi no. 2408 dengan beberapa perbedaan lafaz)

Maka hendaklah seorang muslim menjaga lisannya dan kemaluannya dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah, demi mencari keridaan-Nya dan mengharapkan pahala-Nya. Hal itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan baginya.

Faedah:

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, [Hammad bin Zaid berkata: aku tidak mengetahui kecuali bahwa hadis ini marfu’], beliau bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ أَعْضَاءَهُ تُكَفِّرُ اللِّسَانَ، تَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا، فَإِنَّكَ إِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا، وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

Apabila anak Adam memasuki waktu pagi, maka seluruh anggota tubuhnya merendahkan diri kepada lisan seraya berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami. Sesungguhnya jika engkau lurus, kami pun akan lurus. Jika engkau menyimpang, kami pun akan menyimpang.’” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 11498 dan ini adalah lafaznya. Para pentahqiq Musnad Ahmad berkata, “Sanadnya hasan.” (18/402), no. 11908. Juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2407)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “anggota tubuhnya merendahkan diri kepada lisan” maksudnya adalah bahwa anggota-anggota tubuh tunduk kepada lisan, merendahkan diri kepadanya, dan mengakui ketaatan kepadanya. Mereka seakan-akan berkata, “Jika engkau, wahai lisan, lurus, maka kami pun akan lurus. Jika engkau menyimpang serta keluar dari jalan yang lurus, maka kami pun akan ikut menyimpang, karena kami hanyalah pengikutmu. Maka bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami.”

Tidak ada pertentangan antara hadis ini dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dalam hadis an-Nu’man bin Basyir:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

al-Thibi berkata, “Sesungguhnya lisan adalah penerjemah hati dan wakilnya pada bagian lahiriah tubuh. Karena itu, apabila suatu urusan disandarkan kepadanya, maka hal itu termasuk majas dalam penetapan hukum, sebagaimana perkataanmu, ‘Dokter telah menyembuhkan pasien.’”

al-Maidani berkata mengenai ucapannya, “Seseorang dinilai dengan dua perkara yang paling kecil darinya,” yaitu yang dimaksud dengan keduanya adalah hati dan lisan.

Maksudnya, seseorang tegak dan sempurna maknanya dengan kedua hal tersebut. Kemudian ia membawakan syair karya Zuhair: “Lisan seseorang adalah setengah dirinya, dan setengah lainnya adalah hatinya. Maka tidak tersisa selain bentuk daging dan darah. Betapa banyak engkau melihat orang yang diam lalu membuatmu kagum. Kelebihan atau kekurangannya tampak ketika ia berbicara.”

2. Berkata yang Baik atau Diam

Ini adalah adab Nabi berupa petunjuk lisan bagi orang yang hendak berbicara agar ia tidak tergesa-gesa, melainkan menimbang dan memikirkan perkataan yang ingin diucapkannya. Jika perkataan itu baik, maka itulah ucapan yang baik dan hendaklah ia mengucapkannya. Namun jika perkataan itu buruk, maka hendaklah ia menahan diri darinya, karena hal itu lebih baik baginya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6018 dan lafaz ini miliknya, Muslim no. 47, dan Ahmad no. 7575)

Mengenai sabda beliau “hendaklah ia berkata yang baik atau diam,” Ibnu Hajar berkata, “Ini termasuk jawami’ul kalim (ungkapan yang singkat namun mencakup makna yang luas), karena seluruh ucapan tidak lepas dari tiga keadaan: baik, buruk, atau mengantarkan kepada salah satu dari keduanya. Maka segala ucapan yang dituntut syariat, baik yang wajib maupun yang dianjurkan, masuk dalam kategori kebaikan. Karena itu, seseorang diizinkan untuk mengucapkannya sesuai dengan berbagai jenisnya. Demikian pula termasuk di dalamnya segala sesuatu yang mengantarkan kepada kebaikan. Adapun selain itu, yaitu yang merupakan keburukan atau mengantarkan kepada keburukan, maka ketika seseorang hendak membicarakannya, ia diperintahkan untuk diam.”

3. Perkataan yang Baik adalah Sedekah

Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang telah lalu menunjukkan bahwa seseorang diperintahkan untuk berkata baik atau diam. Kemudian syariat mendorong seseorang untuk mengucapkan perkataan yang baik, karena di dalamnya terdapat pengingat kepada Allah, perbaikan agama dan kehidupan dunia mereka, perbaikan hubungan di antara mereka, serta berbagai bentuk manfaat lainnya.

Syariat menetapkan pahala atas hal tersebut. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ: يَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَيُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

Setiap persendian manusia wajib dikeluarkan sedekah untuknya setiap hari ketika matahari terbit. Berlaku adil di antara dua orang adalah sedekah. Membantu seseorang pada tunggangannya, lalu menaikkannya ke atas tunggangan itu atau mengangkatkan barang bawaannya ke atasnya, adalah sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah yang ia ayunkan menuju shalat adalah sedekah. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2989 dan lafaz ini miliknya, Muslim no. 1009, dan Ahmad no. 27400)

Betapa banyak perkataan yang baik dapat menjauhkan pengucapnya dari Neraka.

Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Neraka, lalu beliau memalingkan wajahnya dan memohon perlindungan darinya. Kemudian beliau menyebut Neraka lagi, lalu memalingkan wajahnya dan memohon perlindungan darinya. Kemudian beliau bersabda,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Lindungilah diri kalian dari Neraka walaupun hanya dengan sepotong kurma, dan jika tidak menemukannya, maka dengan perkataan yang baik.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6563 dan lafaz ini miliknya, Muslim no. 1016, Ahmad no. 17782 tanpa bagian terakhir, dan an-Nasa’i no. 2553)

4. Keutamaan Sedikit Bicara dan Dibencinya Banyak Bicara

Terdapat banyak hadis yang mendorong untuk mengurangi pembicaraan. Hal itu karena banyak bicara dapat menjadi sebab seseorang terjatuh ke dalam dosa. Orang yang banyak berbicara tidak aman dari ketergelinciran dan kesalahan lisannya. Oleh karena itu, syariat menganjurkan untuk sedikit berbicara dan melarang banyak bicara.

al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتْ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu, menahan hak orang lain dan banyak meminta, mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan, serta membenci bagi kalian perkataan ‘katanya dan katanya’, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5975, Muslim no. 593 dalam Kitab al-Aqdhiyah, Ahmad no. 1781, dan ad-Darimi no. 2751)

Mengenai sabda beliau, “serta membenci bagi kalian perkataan ‘katanya dan katanya’,” yang dimaksud adalah membicarakan berita-berita manusia serta menceritakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan dirinya dari keadaan dan perilaku mereka. Demikian yang dikatakan oleh an-Nawawi.

Banyak bicara merupakan sesuatu yang tercela dalam syariat.

Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الثَّرْثَارُونَ، وَالْمُتَشَدِّقُونَ، وَالْمُتَفَيْهِقُونَ

Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian serta yang paling jauh tempat duduknya dariku pada Hari Kiamat adalah tsartsarun, mutasyaddiqun, dan mutafaihiqun.”

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui siapa yang dimaksud dengan tsartsarun (orang-orang yang banyak bicara) dan mutasyaddiqun (orang-orang yang berbicara dengan dibuat-buat), lalu siapakah orang-orang yang mutafaihiqun itu?”

Beliau menjawab,

الْمُتَكَبِّرُونَ

Orang-orang yang sombong.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi melalui jalur Jabir no. 2018, dan lafaz yang disebutkan adalah lafaz riwayat at-Tirmidzi. at-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan gharib.” Juga diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur Abu Tsa’labah al-Khusyani no. 17278)

Faedah:

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada kebaikan dalam ucapan yang berlebihan.”

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa banyak bicaranya, maka akan banyak pula kesalahannya.”

Ibnu Qasim berkata, “Aku mendengar Malik berkata, ‘Tidak ada kebaikan dalam banyak berbicara. Perhatikanlah hal itu pada perempuan dan anak-anak. Kebiasaan mereka terus-menerus berbicara dan tidak diam.’”

Penyair berkata, “Seorang pemuda bisa binasa karena ketergelinciran lisannya, sedangkan seseorang tidak binasa karena ketergelinciran kakinya. Ketergelinciran dari mulutnya dapat menjatuhkannya ke dalam kebinasaan, sedangkan ketergelinciran kaki akan sembuh sedikit demi sedikit.”

Baca juga: BERKATA BAIK ATAU DIAM

Baca juga: AKHLAK YANG BAIK

Baca juga: BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Baca juga: BERTAKWA DAN MENGUCAPKAN PERKATAAN YANG BENAR

Baca juga: LARANGAN BERKATA DUSTA DAN BERAKHLAK BURUK SAAT BERPUASA

(Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub)

Adab Kitabul Adab