Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbarui bagi manusia agama bapak mereka, Ibrahim ‘alaihissalam, dan menunjukkan kepada mereka bahwa ibadah adalah hak Allah Ta’ala semata. Tidak boleh memalingkan sedikit pun dari ibadah kepada selain-Nya, Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang-orang musyrik karena pengagungan mereka terhadap berhala-berhala mereka.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ
“Maka apakah kalian telah memperhatikan Lata dan ‘Uzza, dan Manat, yang ketiga, yang paling kemudian?” (QS an-Najm: 19–20)
Lata, ’Uzza, dan Manat termasuk berhala yang paling terkenal dan paling diagungkan pada zaman jahiliah. Mereka dahulu meminta kepada berhala-berhala tersebut agar memberikan keberkahan kepada diri mereka, anak-anak mereka, dan harta benda mereka. Dengan perbuatan itu, mereka menjadi orang-orang musyrik dengan syirik besar, karena mereka menyembah berhala-berhala tersebut selain Allah ketika mereka meminta keberkahannya. Padahal, semua itu hanyalah angan-angan yang mereka khayalkan dan tidak memiliki hakikat. Berhala-berhala tersebut hanyalah pohon-pohon dan batu-batu yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan mudarat.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian menamakannya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuknya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu.” (QS an-Najm: 23)
Adapun perbuatan sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Islam berupa mencari berkah dari kuburan, pohon, dan batu, maka hal itu sejenis dengan perbuatan orang-orang musyrik dalam mencari berkah tersebut. Oleh karena itu, seorang muslim wajib tidak menggantungkan hatinya kecuali kepada Allah semata dan tidak bergantung kepada selain-Nya. Barang siapa melakukan hal itu, maka ia telah menyerupai mereka dalam perbuatan mereka. Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. Adapun berkah adalah langgeng dan banyaknya kebaikan. Tidak ada kebaikan yang lebih langgeng dan lebih banyak daripada kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pengertian dan Pembagian Tabarruk
Tabarruk terbagi menjadi dua bagian:
Pertama: Tabarruk yang disyariatkan, yaitu mencari keberkahan dari sesuatu yang berdasarkan syariat diketahui memiliki keberkahan, seperti meminum air zamzam dengan tujuan memperoleh kesembuhan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ
“Sesungguhnya air zamzam diberkahi. Sesungguhnya ia adalah makanan yang mengenyangkan.” (HR Muslim no. 2473)
Dalam riwayat lain:
زَمْزَمُ طَعَامُ طُعْمٍ، وَشِفَاءُ سُقْمٍ
“Zamzam adalah makanan yang mengenyangkan dan penyembuh penyakit.” (HR al-Bazzar dalam Musnad al-Bazzar no. 3929)
Kedua dari jenis-jenis tabarruk: Tabarruk yang dilarang, yaitu mencari keberkahan pada sesuatu yang tidak diizinkan oleh syariat, seperti orang yang meyakini bahwa sesuatu memberikan keberkahan dengan sendirinya, seperti orang yang mencari berkah dari pohon-pohon, batu-batu, atau kuburan orang-orang saleh untuk memperoleh manfaat atau menolak mudarat. Hal itu merupakan syirik besar.
Adapun orang yang meyakini bahwa sesuatu merupakan sebab diperolehnya keberkahan dari Allah, seperti orang yang mengusap-usap Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, atau orang-orang saleh, maka hal itu merupakan syirik kecil. Jika ia meyakini bahwa perbuatan tersebut termasuk sesuatu yang dengannya seseorang mendekatkan diri kepada Allah, maka perbuatan itu haram dan merupakan sarana menuju kesyirikan.
Lata, ‘Uzza, dan Manat: Tabarruk Kaum Musyrikin
Ibadah orang-orang musyrik kepada berhala-berhala mereka yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla tidak lain terjadi dengan berpalingnya hati kepada berhala-berhala tersebut karena mengharapkan diperolehnya apa yang mereka harapkan melalui keberkahannya, berupa mendatangkan manfaat atau menolak mudarat. Dengan demikian, berhala-berhala itu menjadi sembahan yang disembah selain Allah. Maka mencari berkah dari kuburan orang-orang saleh adalah seperti Lata, dan mencari berkah dari pohon-pohon dan batu-batu adalah seperti ’Uzza dan Manat. Hal itu sejenis dengan perbuatan orang-orang musyrik tersebut terhadap berhala-berhala itu. Barang siapa melakukan perbuatan seperti itu, maka ia telah menyerupai para penyembah berhala-berhala tersebut dalam apa yang dahulu mereka lakukan terhadapnya berupa kesyirikan ini. Bahkan, apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini terhadap sembahan-sembahan mereka lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu tersebut.
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ
“Apakah untuk kalian anak laki-laki dan untuk-Nya anak perempuan?” (QS an-Najm: 21)
Maksudnya: Bagaimana kalian menjadikan berhala-berhala perempuan ini sebagai tandingan-tandingan bagi Allah dan menamakannya sebagai tuhan-tuhan? Hal itu karena mereka mengambil nama Lata dari Ilah, ’Uzza dari ’Aziz, dan Manat dari Mannan. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.
Ada pula yang mengatakan: Apakah kalian menetapkan bagi diri kalian apa yang kalian sukai, yaitu anak laki-laki, sedangkan kalian menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan? Hal ini berasal dari perkataan mereka bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ
“Kalau demikian, itu benar-benar pembagian yang tidak adil.” (QS an-Najm: 22)
Maksudnya: suatu kezaliman dan kebatilan.
Dalam hadis dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain, sedangkan kami baru saja meninggalkan kekafiran. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon bidara yang mereka berdiam di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut Dzatu Anwath. Kemudian kami melewati sebuah pohon bidara, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَىٰ: اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
“Allahu Akbar! Sesungguhnya itu adalah jalan-jalan yang telah ditempuh. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan sebagaimana yang dikatakan Bani Israil kepada Musa, ‘Buatkanlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.’ Musa berkata, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui.’ (QS al-A’raf: 138) Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian.” (HR at-Tirmidzi no. 2180. Dinilai sahih oleh at-Tirmidzi. al-Albani mensahihkannya dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Makkah, banyak penduduknya masuk Islam. Sekelompok dari mereka kemudian keluar bersama beliau menuju Hunain. Dalam perjalanan menuju Hunain, mereka melihat sebuah pohon bidara milik orang-orang musyrik yang disebut Dzatu Anwath. Orang-orang musyrik menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut, mengagungkannya, berdiam di sisinya, dan mencari berkah darinya.
Ketika itu, orang-orang yang baru masuk Islam tersebut meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau membuatkan bagi mereka sebuah pohon seperti pohon itu untuk mereka mencari berkah darinya. Mereka menyangka bahwa hal tersebut merupakan perkara yang dicintai oleh Allah. Mereka tidak bermaksud menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, karena mereka baru saja masuk Islam, mereka belum mengetahui bahwa perkara tersebut termasuk kesyirikan. Berbeda dengan orang-orang selain mereka yang telah lebih dahulu masuk Islam, karena mereka tidak akan tidak mengetahui hal tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingkari orang-orang yang meminta kepada beliau agar membuatkan bagi mereka sebuah pohon untuk mereka mencari berkah darinya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika mendengar sesuatu yang tidak layak bagi keagungan dan kebesaran Allah, sebagai penyucian terhadap Allah dari kesyirikan. Beliau menyerupakan perkataan mereka dengan perkataan Bani Israil kepada Musa ‘alaihissalam:
اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ
“Buatkanlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.” (QS al-A’raf: 138)
Kesamaan antara perkataan mereka dan perkataan Bani Israil adalah bahwa masing-masing dari keduanya meminta agar dibuatkan bagi mereka sesuatu yang mereka jadikan sebagai tuhan dan mereka sembah selain Allah. Maka barang siapa mencari berkah dari pohon-pohon dan batu-batu, sungguh ia telah menjadikannya sebagai tuhan-tuhan.
Makna (يَعْكُفُونَ) adalah mereka berdiam, menetap di sisinya, dan mengagungkannya. ‘Ukuf adalah tetap tinggal, berdiam, dan menetap pada sesuatu di suatu tempat dalam rangka beribadah, mengagungkan, dan mencari berkah. Mereka berdiam di sisinya hanya karena mengharapkan keberkahan yang ada padanya, sebagaimana para penyembah kubur pada masa sekarang berdiam di sisi kuburan-kuburan dan tinggal di dekatnya. Sedekah dan nazar pun diberikan untuk kuburan-kuburan tersebut. Maka ibadah mereka terhadapnya dilakukan dengan pengagungan, berdiam di sisinya, dan mencari berkah. Dengan tiga perkara ini —berdiam di sisinya, mengagungkan, dan mencari berkah— berhala-berhala disembah selain Allah.
Perubahan nama tidak mengubah hakikat. Hal ini menunjukkan bahwa mencari berkah dari pohon-pohon dan batu-batu merupakan syirik besar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan perkataan mereka dengan perkataan Bani Israil. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersumpah atas hal tersebut meskipun tidak diminta untuk bersumpah, sebagai tambahan peringatan, kesempurnaan kasih sayang, penegasan terhadap berita ini, dan pengagungan terhadapnya.
Sesungguhnya mencari berkah dari pohon-pohon dan batu-batu menjadikannya sebagai tuhan-tuhan meskipun mereka tidak menamakannya sebagai tuhan. Maka apa yang dilakukan oleh orang yang memiliki keyakinan terhadapnya, berupa mencari berkah darinya, berdiam di sisinya, dan menyembelih untuknya merupakan syirik besar, meskipun ia menamai perbuatannya dengan nama apa pun yang ia kehendaki. Orang-orang pada zaman ini menamakan kesyirikan mereka sebagai tawassul dan meminta syafaat, padahal hal itu termasuk kesyirikan yang paling besar.
Dalam hadis tersebut terdapat salah satu tanda kenabian, yaitu bahwa kesyirikan pasti akan terjadi pada umat ini.
Di dalamnya juga terdapat pelajaran agar takut terhadap kesyirikan, dan bahwa seseorang terkadang menganggap baik sesuatu yang ia sangka dapat mendekatkannya kepada Allah, padahal sesuatu itu justru termasuk perkara yang paling menjauhkannya dari Allah.
Di dalamnya juga terdapat larangan menyerupai orang-orang jahiliah dan Ahli Kitab dalam apa yang dahulu mereka lakukan, kecuali perkara yang ditunjukkan oleh dalil bahwa hal itu termasuk syariat kita. Apa yang Allah cela dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, sesungguhnya Allah menyebutkannya kepada kita agar kita mewaspadainya. Oleh karena itu, tidak boleh mencari berkah dari orang-orang saleh, karena para sahabat tidak pernah melakukannya terhadap selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak terhadap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu maupun selainnya. Para tabi’in juga tidak melakukannya terhadap para pemimpin mereka dalam ilmu dan agama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa hidup beliau memiliki banyak kekhususan yang tidak boleh dimiliki bersama oleh orang lain. Karena itu, tidak boleh seorang pun dari para imam dikiaskan kepada beliau, karena tidak adanya kedekatan dalam kedudukan, terlebih lagi kesetaraan dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keutamaan dan keberkahan.
Demikian pula, kesalehan seseorang tidak dapat dipastikan, karena kesalehan tidak dapat terwujud kecuali dengan kesalehan hati. Sekalipun kita menyangka seseorang sebagai orang saleh, kita tidak dapat merasa aman bahwa kehidupannya akan diakhiri dengan akhir yang buruk. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa ia tidak akan terkena fitnah dan merasa kagum terhadap dirinya sendiri.
Tidak pula mencari berkah dari Ka’bah ataupun selainnya, sebagai upaya menutup jalan menuju kesyirikan. Bahkan, para fukaha berselisih pendapat mengenai meletakkan tangan pada mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mimbar itu masih ada. Malik dan ulama lainnya memakruhkannya karena hal itu merupakan bid’ah. Disebutkan pula bahwa ketika Malik melihat ‘Atha’ melakukannya, ia tidak mengambil ilmu darinya.
Sebab-Sebab Terjerumus dalam Tabarruk yang Dilarang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang terjadinya kesyirikan pada umat ini karena menyerupai umat-umat terdahulu dari kalangan Yahudi dan Nasrani, yang menyembah tuhan-tuhan bersama Allah.
Beliau bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian.” (HR al-Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669)
Ini merupakan berita yang mengandung makna celaan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikannya kepada kita hanya agar kita mewaspadainya. Kesyirikan telah terjadi pada umat ini sebagaimana yang telah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan kepada kita. Hal ini merupakan salah satu tanda kenabian.
Para penyembah kubur pada masa sekarang telah menjadikan kuburan-kuburan sebagai tuhan-tuhan bersama Allah. Mereka berdiam di sisinya, mencari berkah darinya, memberikan sedekah dan nazar kepadanya, serta meminta kepadanya agar memenuhi berbagai kebutuhan sebagaimana mereka meminta kepada Rabb mereka.
Di antara sebab-sebab terjerumus dalam tabarruk yang dilarang adalah:
Pertama: ketidaktahuan tentang tauhid serta perkara-perkara yang menafikan dan bertentangan dengannya. Jarang sekali engkau mendapati orang yang mempelajari tauhid dan mengajarkannya kepada anak-anaknya.
Kedua: bersikap berlebihan terhadap orang-orang saleh dan berlebih-lebihan dalam mengagungkan mereka. Yang wajib adalah mencintai para nabi dan orang-orang saleh dengan mengikuti apa yang mereka serukan berupa ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.
Ketiga: menyerupai orang-orang kafir. Banyak manusia pada masa-masa belakangan ini telah diuji dengan hal tersebut karena mudahnya komunikasi dan lemahnya agama.
Keempat: mengagungkan peninggalan-peninggalan atau meyakini keberkahannya, seperti suatu tempat, sudut, kuburan, tempat yang dikeramatkan, batu, atau seperti Gua Hira yang dahulu digunakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beribadah, dan kamar tempat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun Hajar Aswad, maka tidak dicari berkah darinya. Akan tetapi, seseorang beribadah kepada Allah dengan menyentuh dan menciumnya, sebagaimana Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa engkau hanyalah sebuah batu yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan mudarat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR al-Bukhari no. 1597 dan Muslim no. 1270)
Oleh karena itu, tidak boleh melampaui batas yang disyariatkan, yaitu mencium dan menyentuhnya. Hal ini berbeda dengan perbuatan sebagian orang yang tidak mengetahui. Mereka menyangka bahwa padanya terdapat keberkahan yang bersifat fisik. Karena itu, apabila sebagian mereka menyentuh Hajar Aswad atau menyentuh Rukun Yamani, mereka mengusapkannya pada tubuh mereka untuk mencari berkah dengan hal tersebut. Ini merupakan ketidaktahuan. Maka tidak disyariatkan bagi orang yang menyentuhnya untuk mengusapkan tangannya pada tubuhnya atau tubuh anaknya. Oleh karena itu, seorang muslim wajib memahami agama dan mengetahui tauhid serta membedakannya dari syirik agar tidak terjerumus ke dalam perkara yang merusak akidahnya.
Semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, yaitu orang-orang yang beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya ibadah.
Baca juga: DEBAT IBNU ABBAS DENGAN AL-HARURIYYAH
Baca juga: MENCARI REZEKI DENGAN BERTAWAKAL KEPADA ALLAH
Baca juga: GHULUW TERHADAP ORANG SHALIH ADALAH AWAL KESYIRIKAN
Baca juga: BERLEBIH-LEBIHAN TERHADAP RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Baca juga: NERAKA HARAM ATAS ORANG YANG IKHLAS MENGUCAPKAN ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’
(Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim)

