الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ الْإِسْلَامِ، وَكَفَى بِهَا نِعْمَةً، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّ الْإِسْلَامِ، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِينَ
Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam, dan cukuplah nikmat itu sebagai suatu nikmat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Islam, Muhammad, Nabi pembawa rahmat, serta kepada keluarga beliau yang suci dan seluruh sahabat beliau.
Amma ba’du.
Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah, tahukah kalian bahwa nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita sangat banyak dan sangat besar? Jumlahnya tidak mungkin dapat kita hitung, sebagaimana rasa syukur kita pun tidak akan mampu memenuhi haknya. Dengarkanlah firman Allah Yang Mahapemberi Nikmat tentang hal itu:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS an-Nahl: 18)
Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya menyebut-nyebut nikmat merupakan bagian dari mensyukurinya, sedangkan melupakannya merupakan bentuk pengingkaran terhadapnya. Maka marilah kita memohon perlindungan kepada Allah dari mengingkari nikmat-nikmat-Nya, karena hal itu menyebabkan nikmat tersebut lenyap dan menyeret pelakunya kepada kesengsaraan dan kerugian.
Wahai orang-orang yang beriman, hamba-hamba Allah, sesungguhnya nikmat yang paling agung dan paling besar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita adalah nikmat Islam. Dengan nikmat itu Allah menyelamatkan kita dari kekafiran dan menyelamatkan kita dari kekekalan di dalam Neraka.
Pertanyaannya, wahai orang-orang yang beriman, adalah apakah kita telah mengenal nikmat ini dengan sebenar-benarnya, sehingga menjadi mudah bagi kita untuk mensyukurinya, nikmat itu tetap lestari bagi kita, lalu kita hidup sebagai orang-orang yang bersyukur, mulia, suci, berbahagia, dan aman?
Sesungguhnya Islam, wahai hamba-hamba Allah, adalah agama Allah yang tidak menerima agama selainnya. Allah Ta’ala berfirman, dan firman-Nya adalah benar:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Ali ‘Imran: 85)
Sesungguhnya berita Ilahi yang benar ini telah membatalkan setiap agama selain Islam. Tidak ada lagi agama Yahudi, Nasrani, majusi, Buddha, maupun agama-agama lain yang dipeluk oleh berbagai umat manusia pada masa sekarang ataupun sebelumnya. Sebab, semuanya telah dibatalkan oleh Allah Yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. Allah telah mensyariatkan Islam sebagai penggantinya dan menjadikan di dalamnya kesempurnaan serta kebahagiaan bagi setiap hamba yang memeluknya sebagai agama untuk beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam. Maka kita beribadah kepada Allah semata dengan ajaran yang dibawa oleh agama Islam, berupa akidah, ibadah, hukum-hukum, adab, dan akhlak.
Wahai hamba-hamba Allah, wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya masuk ke dalam Islam berarti seorang hamba menyerahkan hati, wajah, dan seluruh anggota tubuhnya kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian, tidak ada lagi perbuatan ataupun tindakan yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan dari upaya mencari keridhaan-Nya. Hati tidak berbolak-balik kecuali dalam mencintai Allah dan mencari keridhaan-Nya. Seluruh anggota badan dikerahkan untuk menaati Allah dan mencari keridhaan-Nya. Maka mata tidak melihat, telinga tidak mendengar, tangan tidak bertindak, dan kaki tidak melangkah kecuali pada apa yang Allah izinkan dan Allah cintai.
Wahai hamba-hamba Allah, inilah hakikat Islam dan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Maka, sudahkah kita mengenalnya? Sudahkah kita benar-benar mensyukurinya? Apakah dengan itu kita benar-benar menjadi orang-orang Islam?
Sesungguhnya Islam, wahai hamba-hamba Allah, dibangun di atas lima dasar, yaitu dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah yang haram. Kapan saja salah satu dari lima dasar tersebut runtuh, maka bangunan itu pun runtuh dan roboh, sehingga pemiliknya tidak lagi memiliki tempat tinggal maupun tempat bernaung. Maka, tidak ada Islam bagi orang yang mempersekutukan Allah dalam ibadah dengan menyembah selain-Nya. Tidak ada Islam bagi orang yang menolak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak pula bagi orang yang meninggalkan shalat, atau enggan menunaikan zakat, atau tidak berpuasa Ramadhan, atau tidak menunaikan ibadah haji ke Baitullah yang haram.
Sesungguhnya seorang hamba, wahai orang-orang yang beriman, apabila ia telah masuk ke dalam Islam dan memperbaiki keislamannya, maka seluruh kehidupannya menjadi ibadah kepada Allah. Ia tidak melihat dirinya melakukan suatu pekerjaan pun kecuali berada dalam ketaatan kepada Allah dan dalam mencari keridhaan-Nya. Seorang pedagang di tokonya, seorang petani di ladangnya, dan seorang pekerja di tempat kerjanya, kedudukannya seperti orang yang berjaga di perbatasan, orang yang beri’tikaf di masjidnya, orang yang mengerjakan shalat di tempat shalatnya, orang yang berpuasa pada siang harinya, dan orang yang menghidupkan malamnya dengan ibadah. Semuanya, seluruhnya, berada dalam ketaatan kepada Allah dan dalam mencari keridaan-Nya. Inilah yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya, dan umat beliau mengikuti beliau dalam hal itu, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama berserah diri.” (QS al-An’am: 162-163)
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ
Khotbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ وَخَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ، وَنَتَرَضَّى عَنْ آلِهِ وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِينَ
Amma ba’du.
Wahai kaum muslimin, wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Islam adalah agama Allah yang tidak menerima agama selainnya. Meskipun Islam dibangun di atas dasar-dasar yang telah kalian ketahui, yaitu dua kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji, namun Islam merupakan manhaj Ilahi yang sempurna, yang ditetapkan oleh Rabb Tabaraka wa Ta’ala untuk menyempurnakan manusia dan mewujudkan kebahagiaannya. Hal itu ditunjukkan dan ditegaskan oleh kenyataan bahwa dalam Islam terdapat amalan-amalan batin yang dilakukan oleh hati, ucapan-ucapan lahir yang diucapkan oleh lisan, dan amal-amal saleh yang dilakukan oleh anggota badan.
Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah, wajib bagi orang yang telah masuk ke dalam Islam untuk mempelajari —dengan cara bertanya dan menuntut ilmu— amalan-amalan hati, agar ia menjadikan hatinya berpegang teguh kepada amalan-amalan tersebut. Ia juga wajib mempelajari perkataan yang baik dan perkataan yang buruk, agar lisannya senantiasa mengucapkan perkataan yang baik dan menahan diri dari perkataan yang buruk. Demikian pula, ia wajib mengetahui amal saleh serta bagaimana melaksanakannya dan menegakkannya. Ia juga harus mengetahui amal yang buruk serta bagaimana cara menjauhinya, sehingga ia tidak berhubungan dengannya, baik dari jauh maupun dari dekat. Ilmu ini bukanlah sesuatu yang boleh dipilih oleh seorang muslim untuk dipelajari atau ditinggalkan, karena ia merupakan kewajiban yang Allah tetapkan atasnya. Allah Ta’ala berfirman:
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS an-Nahl: 143)
Wahai kaum muslimin, wahai hamba-hamba Allah, tahukah kalian bahwa seorang muslim sejati adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya? Ia tidak mencaci seorang muslim, tidak memakinya, tidak menuduhnya fasik, tidak mengafirkannya, tidak menyakitinya dengan tangannya melalui pukulan atau menumpahkan darahnya, dan tidak mengambil hartanya tanpa kerelaan dan keikhlasan hatinya.
Dengarkanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hakikat ini dan menguatkannya dengan sabda beliau,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dan beliau bersabda,
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Ia tidak menzaliminya, tidak meremehkannya, dan tidak membiarkannya (tanpa pertolongan).” (HR Muslim)
Beliau juga bersabda,
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ
“Setiap muslim atas muslim yang lain adalah haram (dilanggar), yaitu darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim)
Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah, wajib bagi kita untuk memastikan kebenaran keislaman kita. Caranya adalah dengan melihat perilaku kita. Jika perilaku kita sesuai dengan keislaman kita, maka hendaklah kita memuji Allah, bersyukur kepada-Nya, dan memohon kepada-Nya tambahan keridhaan dan taufik. Jika keadaannya tidak demikian, maka hendaklah kita memperbarui keislaman kita dan mewujudkannya dengan sebenar-benarnya pada diri kita, agar kita benar-benar menjadi orang-orang Islam yang berhak memperoleh kemuliaan dan kehormatan di dunia, serta keselamatan dari Neraka dan masuk ke dalam Surga di akhirat.
Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa Allah Ta’ala telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang Dia memulainya dengan diri-Nya sendiri, kemudian diikuti oleh para malaikat-Nya. Dia Yang Mahamulia berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab: 56)
Ketahuilah bahwa barang siapa bershalawat kepada Nabi satu kali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. (HR. Muslim, dengan makna yang sama). Maka bershalawatlah kepada beliau dan ucapkanlah salam dengan sebenar-benarnya. Ridhailah keluarga dan para sahabat beliau, limpahkanlah rahmat kepada umat beliau, dan berdoalah untuk para imam serta para pemimpin urusan kalian agar mereka diberi petunjuk, taufik, pertolongan, dan dukungan, sehingga mereka dapat menolong agama Allah dan para wali-Nya.
Ya Allah, berilah mereka petunjuk, tolonglah mereka, dan jadikanlah mereka sebagai sebab tegaknya pertolongan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Rabb kami dan Rabb mereka.
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya. Maka berdoalah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengabulkan doa kalian. Dia juga memerintahkan kalian untuk memohon ampun kepada-Nya. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni kalian. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Baca juga: DUA NIKMAT YANG BANYAK ORANG TERTIPU
Baca juga: AGAMA ISLAM TELAH SEMPURNA
Baca juga: JANGAN MARAH
(Syekh Abu Bakar Jabir al-Jazairi)

