BAHAYA MEMAKAI GELANG UNTUK MENOLAK PENYAKIT

BAHAYA MEMAKAI GELANG UNTUK MENOLAK PENYAKIT

Manusia melakukan berbagai usaha atau sebab agar sembuh dari penyakit. Usaha itu terbagi menjadi dua:

1. Usaha yang diperbolehkan

Usaha yang diperbolehkan adalah usaha yang dilakukan dengan cara yang disyariatkan atau dimubahkan oleh agama, seperti rukiah, minum madu, minum habatussauda (jintan hitam), dan minum obat yang diperbolehkan. Meskipun diperbolehkan, hati tetap harus bergantung kepada Allah Ta’ala, dan tidak bersandar kepada usaha atau sebab tersebut.

2. Usaha yang diharamkan

Usaha yang diharamkan adalah usaha yang sebagian manusia tergantung kepadanya, seperti memakai gelang dan benang. Usaha itu berbahaya dan tidak bermanfaat. Jika seseorang meyakini bahwa benda-benda itu bermanfaat dengan sendirinya, maka hukumnya adalah syirik besar yang menafikan tauhid secara keseluruhan. Jika ia meyakini bahwa benda-benda itu adalah salah satu sebab, maka usaha itu termasuk syirik kecil yang menafikan kesempurnaan tauhid yang wajib.

Dalam hadis dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari bulu di tangannya.

Beliau bertanya, “Apa ini?

Laki-laki itu menjawab, “Ini untuk menolak penyakit.”

Beliau bersabda,

انْزَعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

Lepaskanlah, karena gelang itu tidak menambah kepadamu kecuali kelemahan. Jika engkau mati dalam keadaan gelang itu masih di tanganmu, maka engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.” (HR Ahmad dengan sanad yang dapat diterima)

Tiada satu kebajikan pun melainkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkannya, dan tiada satu keburukan pun melainkan beliau telah memperingatkannya.

Hadis di atas adalah dalil untuk memerangi syirik dan mengingkari pelaku syirik. Di dalam hadis ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang dari bulu untuk melindungi dirinya dari penyakit. Beliau memerintahkan orang itu segera melepaskan gelang itu dari tangannya, karena memakai gelang merupakan kemungkaran  yang wajib dilenyapkan dan haram dibiarkan. Beliau mengabarkan bahwa gelang itu tidak bermanfaat baginya, bahkan merugikannya. Penyakit di dirinya tetap bercokol, bahkan semakin melemahkannya, sebagai bentuk perlakuan terhadapnya dengan memberikan kebalikan dari keinginannya. Itu terjadi karena ia telah mempertautkan hatinya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya dan tidak pula menolak kemudaratan darinya. Ini adalah dalil tentang penyesalan yang akan dialami pelakunya.

Secara umum semua perkara yang dilarang adalah tidak bermanfaat. Sekalipun bermanfaat, mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya, sebagai ujian dari Allah Ta’ala. Seperti itu pula perkara-perkara syirik. Mudarat yang ditimbulkan oleh syirik menimpa pelakunya di dunia dan di akhirat. Hal itu karena hatinya berpaling kepada selain Allah Ta’ala. “Barangsiapa menggantungkan sesuatu, maka ia dipasrahkan kepadanya.” Barangsiapa dipasrahkan kepada selain Allah, maka ia binasa. Jika ini berkenaan dengan syirik kecil yang mencampuri pokok tauhid, maka bagaimana halnya dengan syirik besar yang menafikan tauhid secara keseluruhan?

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta laki-laki itu melepas gelangnya dan menjelaskan bahwa gelang itu tidak menambah kecuali kelemahan, beliau bersabda, “Jika engkau mati dalam keadaan gelang itu masih di tanganmu, maka engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafikan keberuntungan darinya jika ia mati dengan gelang itu berada di tangannya. Hal itu karena perkara tersebut adalah perkara kesyirikan dan keadaannya tetap seperti itu.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Di dalam hadis ini terdapat bukti mengenai ucapan para sahabat bahwa syirik kecil adalah lebih besar daripada dosa besar, dan bahwa syirik kecil tidak diberi uzur karena ketidaktahuan. Buktinya adalah pengingkaran yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis itu juga sebagai dalil tentang dilarangnya memakai gelang, benang dan semisalnya untuk tujuan tersebut. Di dalam hadis ini juga berisi pengingkaran terhadap berbagai kemungkaran syirik.”

Baca juga: HUKUM MEMAKAI GELANG, BENANG DAN SEBAGAINYA UNTUK MENOLAK BENCANA

Baca juga: SETIAP PENYAKIT ADA OBATNYA

Baca juga: LAKI-LAKI DILARANG MEMAKAI BARANG DARI EMAS

(Abdul Malik bin Muhammad Abdurrahman al-Qasim)

Akidah