AKHLAK NON MUSLIM

AKHLAK NON MUSLIM

Banyak orang mengatakan bahwa akhlak orang barat adalah lebih baik daripada akhlak orang Islam saat bermuamalah dan berjual beli. Pada saat yang sama, kamu mendapati penipuan, kecurangan dan sumpah palsu dalam jual beli tersebar di kalangan kaum muslimin.

Untuk membantah ucapan ini, kita katakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

البَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي

Bukti harus didatangkan oleh penuduh.” (HR at-Tirmidzi. Disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Berita yang masyhur di kalangan manusia bahwa orang barat mempunyai akhlak baik ketika bermuamalah adalah tidak benar. Sebaliknya, mereka memiliki akhlak buruk saat bermuamalah. Ini diketahui oleh orang yang pernah pergi ke negeri mereka dan melihat mereka dengan pandangan yang adil dan objektif, bukan pandangan yang memuliakan dan mengagumi mereka.

Seorang penyair berkata,

Pandangan rida tumpul terhadap segala aib

Sebagaimana pandangan benci menampakkan berbagai keburukan

Sungguh, banyak pemuda tepercaya yang pernah pergi ke negeri barat menceritakan kepadaku berbagai perbuatan mereka yang termasuk akhlak yang paling buruk.

Ketika mereka jujur dalam jual beli, itu bukan karena mereka mempunyai akhlak yang baik. Mereka melakukannya hanyalah karena mereka adalah hamba materi. Semakin baik muamalah seseorang dalam urusan dunia, semakin diterima dia oleh manusia. Barangnya lebih cepat laku dan lebih laris.

Mereka berbuat baik dalam muamalah bukan karena kesempurnaan akhlak mereka, melainkan karena mereka adalah hamba materi. Mereka memandang bahwa termasuk faktor terbesar cepat berkembangnya harta adalah bermuamalah dengan bagus, dalam rangka menarik keuntungan yang besar.

Mereka sebenarnya sebagaimana dikatakan oleh Allah Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahlul kitab dan orang-orang musyrik berada di Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk.” (QS al-Bayyinah: 6)

Aku yakin, tidak ada yang lebih jujur daripada Allah Ta’ala saat menyifati orang-orang kafir bahwa mereka adalah sejelek-jelek makhluk. Bagaimana mungkin diharapkan kebaikan yang tulus dari kaum yang disifati oleh Allah Ta’ala sebagai sejelek-jelek makhluk?

Aku tidak yakin bahwa perbuatan baik mereka berlangsung langgeng. Kejujuran, penjelasan, dan iktikad baik mereka pada beberapa muamalah memiliki tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan materi dan penghasilan. Sebenarnya, siapa yang melihat kezaliman, tipu daya, dan sikap tinggi hati mereka terhadap orang lain di banyak tempat, dia akan mengetahui kebenaran firman Allah Ta’ala:

أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ

Mereka adalah sejelek-jelek makhluk.”

Adapun penipuan, kedustaan, dan khianat dalam bermuamalah yang dilakukan oleh banyak kaum muslimin dilakukan oleh orang-orang yang kurang keislaman dan keimanannya, sesuai dengan kadar penyelisihan mereka terhadap syariat muamalah tersebut.

Ketika sebagian muslimin menyelisihi dan keluar dari bingkai syariat dalam beberapa urusan di atas, hal itu tidak menunjukkan kekurangan syariat Islam. Syariat Islam tetap sempurna. Namun, merekalah yang berbuat buruk terhadap syariat Islam, terhadap saudara mereka sendiri, dan terhadap orang non muslim. Mereka juga sebenarnya berbuat buruk terhadap diri mereka sendiri. Orang yang berakal tidak akan menjadikan perbuatan buruk seseorang sebagai keburukan syariat Islam yang dia mengaku berada di atasnya.

Oleh karena itu, aku sungguh berharap agar seluruh kaum muslimin bersemangat untuk memerangi akhlak-akhlak buruk di atas; akhlak yang tidak disetujui oleh Islam, yaitu kedustaan, khianat, penipuan, kecurangan dan yang lainnya. Karena itu, kita wajib menjelaskan kepada manusia bahwasanya termasuk kesempurnaan agama Islam adalah kesempurnaan akhlak. Hal ini sebagaimana hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi. at-Tirmidzi berkata, “Hadis hasan sahih.” Kedua riwayat ini ada dalam Shahih al-Jami’)

Oleh karena itu, orang yang kurang baik akhlaknya berarti kurang agamanya. Kesempurnaan agama adalah dengan kesempurnaan akhlak. Sesungguhnya, orang yang akhlaknya sempurna lebih besar pengaruhnya dalam menarik orang lain untuk masuk Islam daripada orang yang beragama tetapi berakhlak buruk. Apabila orang yang kuat beribadah diberi taufik untuk menyempurnakan akhlaknya, itu lebih baik dan lebih sempurna.

Baca juga: ADAB BERGAUL DENGAN NON MUSLIM

Baca juga: TENTANG AKHLAK BAIK DAN DOSA

Baca juga: AKHLAK YANG BAIK

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati