WASIAT NABI KEPADA MU’ADZ TENTANG DOA SETELAH SHALAT

WASIAT NABI KEPADA MU’ADZ TENTANG DOA SETELAH SHALAT

344. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ: لَا تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Aku berwasiat kepadamu, wahai Mu’adz: Janganlah sekali-kali engkau meninggalkan untuk mengucapkan pada dubur setiap shalat, ‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.’” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 22164, Abu Dawud no. 1301, dan an-Nasa’i no. 1286)

345. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ، لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ

“Barang siapa membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk Surga kecuali kematian.” (Diriwayatkan oleh an-Nasa’i no. 100)

346. Hadis ini dinilai sahih oleh Ibnu Hibban (Lihat at-Targhib wa at-Tarhib 2/362). ath-Thabrani menambahkan dalam riwayatnya:

وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Dan (membaca) ‘Qul Huwallahu Ahad’.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 8/114)

PENJELASAN

Penulis rahimahullah membawakan dua hadis ini untuk menjelaskan dzikir-dzikir yang juga dibaca setelah shalat. Ia menyebutkan hadis dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ

“Aku berwasiat kepadamu, wahai Mu’adz.”

Wasiat adalah seseorang memberikan pesan kepada orang lain mengenai suatu perkara yang penting. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi Kitab sebelum kalian, dan juga kepada kalian, agar bertakwa kepada Allah.” (QS an-Nisa’: 131)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada Mu’adz agar tidak pernah meninggalkan doa berikut setiap selesai shalat:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

Sabda beliau (دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ) “dubur setiap shalat,” para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “dubur setiap shalat” adalah pada akhir setiap shalat sebelum salam. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “dubur setiap shalat” adalah setelah selesai shalat, yaitu setelah salam. Inilah yang tampak dari cara penulis rahimahullah menyusun pembahasannya, yaitu bahwa doa tersebut dibaca setelah salam.

Berdasarkan pendapat pertama, maka doa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

termasuk doa yang dibaca di dalam shalat. Adapun menurut pendapat kedua, doa tersebut termasuk doa yang dibaca setelah shalat.

Pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu bahwa doa ini dibaca sebelum seseorang mengucapkan salam, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam salah satu lafaz hadis ini bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya agar berdoa dengan doa ini sebelum mengucapkan salam. Beliau bersabda,

فَإِنِّي أُوصِيكَ بِكَلِمَاتٍ تَقُولُهُنَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Maka aku berwasiat kepadamu beberapa kalimat yang hendaklah engkau ucapkan pada setiap shalat: ‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu.’” (Diriwayakan oleh Ahmad no. 22477)

Dengan demikian, doa ini dibaca di dalam shalat itu sendiri, yaitu ketika shalat telah selesai dan yang tersisa hanyalah salam. Maka hendaklah seseorang mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya,” sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan doa tersebut kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.

Apabila Allah ‘Azza wa Jalla tidak menolong seseorang, maka Allah akan membiarkannya bergantung kepada dirinya sendiri. Apabila Allah membiarkannya bergantung kepada dirinya sendiri, berarti Allah menyerahkannya kepada kelemahan, ketidakmampuan, dan kekurangannya. Oleh karena itu, dalam setiap rakaat shalat kita mengucapkan firman Allah Ta’ala:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS al-Fatihah: 5) Karena apabila Allah tidak menolongmu, niscaya engkau akan gagal, menjadi lemah, dan tidak mampu melaksanakan apa yang wajib atasmu, baik dalam urusan agamamu maupun urusan duniamu.

(اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ) yaitu, bantulah aku untuk menaati-Mu, karena seluruh bentuk ketaatan adalah dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

(وَشُكْرِكَ) yaitu, bantulah aku untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Mu yang tidak mampu aku hitung.

(وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ) yaitu, bantulah aku agar dapat menyempurnakan dan memperindah ibadah kepada-Mu sehingga sesuai dengan tuntunan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini adalah doa yang sangat agung. Sepatutnya seseorang senantiasa membacanya pada akhir setiap shalat dan tidak meninggalkannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkannya kepada Mu’adz. Wasiat adalah pesan yang diberikan kepada seseorang mengenai suatu perkara yang penting.

Selain itu, doa ini mengandung manfaat yang sangat besar bagi seorang hamba, yaitu agar Allah ‘Azza wa Jalla menolongnya dalam urusan agama dan dunianya:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

Apabila Allah menolongmu untuk melakukan semua itu, niscaya Allah akan memudahkan pula bagimu segala urusan dunia.

Adapun hadis yang lain, yaitu hadis Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membaca Ayat Kursi dan surah Qul Huwallahu Ahad setiap selesai shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk Surga selain kematian.” Maksudnya, membaca kedua bacaan tersebut merupakan salah satu sebab masuk Surga.

Akan tetapi, hadis ini masih diperselisihkan. Sebagian ulama melemahkannya, sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut kuat. Bagaimanapun juga, apabila seseorang membaca Ayat Kursi setelah shalat-shalat wajib, yaitu setelah dzikir-dzikir yang disyariatkan sesudah shalat, maka ia akan memperoleh kebaikan. Kalaupun tidak ada keutamaan lain, cukuplah keutamaan bahwa barang siapa membacanya pada malam hari, niscaya akan selalu ada penjaga dari Allah yang menjaganya, dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2311)

Ayat Kursi adalah firman Allah Ta’ala:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak ditimpa rasa kantuk dan tidak pula tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS al-Baqarah: 255)

Adapun firman Allah Ta’ala:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama,” (QS al-Baqarah: 256) maka ayat tersebut bukan termasuk Ayat Kursi.

Adapun (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) adalah Surah al-Ikhlash yang telah dikenal, yaitu:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dia-lah Allah Yang Mahaesa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’” (QS al-Ikhlash: 1–4)

Allah-lah Yang Maha Memberi taufik.

Baca juga: ADAB MAJELIS (5)

Baca juga: DOA UNTUK MENGAKHIRI MAJELIS

Baca juga: DOA KETUNDUKAN DAN TAWAKAL KEPADA ALLAH

Baca juga: DZIKIR MEMOHON KEBAIKAN DAN BERLINDUNG DARI KEBURUKAN

Baca juga: DOA ISTIFTAH: BACAAN, MAKNA, DAN KEUTAMAANNYA DALAM SHALAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Bulughul Maram