338. Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ajarkanlah kepadaku suatu doa yang akan aku panjatkan dalam shalatku.”
Beliau bersabda,
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705)
339. Dari Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengucapkan salam ke sebelah kanannya,
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
‘Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian,’
dan ke sebelah kirinya,
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
‘Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian.’” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 846 dengan sanad yang sahih)
PENJELASAN
Kedua hadis ini dibawakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Bulughul Maram pada Bab Sifat Shalat.
Hadis pertama berasal dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, khalifah pertama sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kekhalifahannya ditetapkan dengan dalil yang hampir merupakan nash yang tegas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuknya untuk menjadi imam shalat, dan ini merupakan kepemimpinan. Ia juga ditunjuk memimpin kaum muslimin dalam pelaksanaan ibadah haji pada tahun kesembilan Hijriah, dan ini merupakan bentuk kepemimpinan pula.
Pernah seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk suatu keperluan. Perempuan itu berkata, “Bagaimana jika aku tidak menjumpaimu, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda,
فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ
“Kalau begitu, datangilah Abu Bakar.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 7361)
Ini hampir merupakan nash yang tegas bahwa Abu Bakar adalah khalifah sepeninggal beliau.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
يَأْبَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ
“Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman tidak menghendaki selain Abu Bakar.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2387)
Maksudnya, sebagai khalifah. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Kemudian setelah beliau adalah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, yang menjadi khalifah berdasarkan penunjukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.
Hal ini termasuk bukti kecerdasan dan keluasan ilmu Abu Bakar tentang siapa yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, Umar dan Abu Bakar adalah dua menteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya selalu pergi bersama beliau dan kembali bersama beliau. Beliau juga sering bersabda,
ذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
“Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3685)
Karena itulah, keduanya merupakan dua menteri beliau.
Ketika Zaid bin Ali bin al-Husain radhiyallahu ‘anhuma ditanya oleh kaum Rafidhah, “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar?” ia memuji keduanya dengan sebaik-baiknya seraya berkata,
هُمَا وَزِيرَا جَدِّي
“Keduanya adalah dua menteri kakekku,” yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, kaum Rafidhah menyelisihinya. Lalu sebagian pengikut mengikuti Zaid, yang kemudian dikenal dengan sebutan Zaidiyah.
Kemudian, kelompok Rafidhah bercabang menjadi banyak golongan. Sebagian di antara mereka telah sampai pada tingkat kekafiran kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan keluar dari agama Islam. Sebagian lainnya mendekati keadaan tersebut, sedangkan sebagian yang lain berada di bawah tingkat itu. Hal ini karena mereka terdiri dari berbagai golongan yang beragam.
Kesimpulannya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling dekat dengan beliau. Sampai-sampai ketika beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?”
Beliau menjawab,
عَائِشَةُ
“Aisyah.”
Lalu ditanyakan lagi, “Kemudian dari kalangan laki-laki?”
Beliau menjawab:
أَبُوهَا
“Ayahnya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3662 dan Muslim no. 2384)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyatakan bahwa laki-laki yang paling beliau cintai adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliau lebih beliau cintai daripada Umar, lebih beliau cintai daripada Ali, lebih beliau cintai daripada Utsman, lebih beliau cintai daripada al-Abbas, dan lebih beliau cintai daripada siapa pun. Laki-laki yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Oleh karena itu, kita lebih mengutamakan kecintaan kepada Abu Bakar daripada sahabat-sahabat yang lain, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutamakan kecintaannya kepada Abu Bakar di atas sahabat-sahabat lainnya.
Apabila engkau telah mengetahui hal itu, dan telah mengetahui bahwa orang yang bertanya adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta telah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tulus memberi nasihat kepada manusia dan yang paling mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi mereka, niscaya engkau akan mengetahui besarnya nilai pertanyaan ini dan besarnya nilai jawaban tersebut.
Orang yang bertanya adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, “Ajarkanlah kepadaku suatu doa yang akan aku panjatkan dalam shalatku.” Padahal shalat adalah ibadah badan yang paling utama. Di dalamnya terdapat tiga keistimewaan:
1. Keutamaan orang yang bertanya.
2. Keutamaan orang yang ditanya.
3. Keutamaan tempat atau keadaan ketika doa itu dipanjatkan.
Apabila engkau telah mengetahui ketiga hal ini, niscaya engkau akan mengetahui bahwa doa ini termasuk doa yang paling utama.
Baca juga: WAKTU-WAKTU DOA DIKABULKAN
Baca juga: SIAPAKAH YANG KAYA, SIAPA YANG MISKIN?
Baca juga: STRATEGI PENEMPATAN PASUKAN DI MATA AIR BADAR
Baca juga: DOA ISTIFTAH: BACAAN, MAKNA, DAN KEUTAMAANNYA DALAM SHALAT
Baca juga: HIJRAHNYA UMAR BIN KHATHTHAB DAN ORANG-ORANG BERSAMANYA
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

