Selain keutamaan-keutamaan puasa yang telah disebutkan sebelumnya, puasa Ramadhan secara khusus memiliki beberapa keutamaan tambahan, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 38, Muslim no. 759, at-Tirmidzi no. 683, an-Nasa’i 4/157, dan Ibnu Majah no. 1641)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pula, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النِّيرَانِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
Dalam riwayat at-Tirmidzi terdapat tambahan:
وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Seorang penyeru menyerukan, ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan, datanglah! Wahai orang yang menginginkan keburukan, berhentilah!’ Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari Neraka, dan hal itu terjadi pada setiap malam.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1898, Muslim no. 1079, dan an-Nasa’i 4/126. Tambahan lafaz tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 682 dengan sanad yang kuat)
Makna “shuffidat” adalah dibelenggu atau dirantai.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, lalu beliau mengucapkan
آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ
“Amin, amin, amin.”
Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sebelumnya engkau tidak pernah melakukan hal seperti ini?”
Beliau bersabda,
قَالَ لِي جِبْرِيلُ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ ـ أَوْ بَعُدَ ـ دَخَلَ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ
“Jibril berkata kepadaku, ‘Sungguh terhina seorang hamba —atau sungguh jauh (dari rahmat Allah)— yang memasuki bulan Ramadhan, tetapi ia tidak mendapatkan ampunan.’ Maka aku berkata, ‘Amin.’”
Kemudian Jibril berkata,
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ ـ أَوْ بَعُدَ ـ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ، فَقُلْتُ: آمِينَ
“‘Sungguh terhina seorang hamba —atau sungguh jauh (dari rahmat Allah) —yang mendapati kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya, tetapi hal itu tidak menjadikannya masuk Surga.’ Maka aku berkata, ‘Amin.’”
Kemudian Jibril berkata,
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ ـ أَوْ بَعُدَ ـ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: آمِينَ
“‘Sungguh terhina seorang hamba —atau sungguh jauh (dari rahmat Allah)— yang ketika namamu disebut di sisinya, ia tidak bershalawat kepadamu.’ Maka aku berkata, ‘Amin.’” (Hadis hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 1888, Ibnu Hibban no. 907, dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 646. Syekh al-Albani berkata, “Hadis hasan sahih.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 3545 tanpa menyebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar)
Baca juga: MAKNA DAN KEUTAMAAN PUASA
Baca juga: BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM BERIBADAH
Baca juga: RUKUN ISLAM – BERPUASA PADA BULAN RAMADHAN
Baca juga: ADZAN DIKUMANDANGKAN JIKA SUDAH MASUK WAKTUNYA
Baca juga: KEWAJIBAN TAAT KEPADA RASUL SEBAGAI BENTUK KETAATAN KEPADA ALLAH
(Syekh Abu Abdurrahman Adil bin Yusuf al-Azazy)

