TINGGINYA TEKAD DAN CONTOHNYA

TINGGINYA TEKAD DAN CONTOHNYA

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Amma ba’du:

Sesungguhnya di antara sifat-sifat yang indah, perangai-perangai yang terpuji, dan akhlak-akhlak yang luhur lagi mulia adalah tingginya tekad. Sesungguhnya kedudukan manusia menjadi tinggi dan derajat mereka menjadi mulia sesuai dengan tingginya tekad dan mulianya tujuan mereka.

Sebagian ulama berkata, “Tingginya tekad adalah menganggap kecil segala sesuatu yang berada di bawah puncak perkara-perkara yang luhur.”

Maknanya adalah bahwa seorang mukmin tidak berhenti dalam pencapaiannya pada urusan agama dan dunianya. Bahkan, setiap kali selesai dari suatu pencapaian, ia berusaha meraih pencapaian lainnya. Demikianlah keadaan orang yang memiliki tekad tinggi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mendorong hamba-hamba-Nya agar memiliki tekad yang tinggi, bersegera dalam berbagai kebaikan, dan berlomba-lomba meraih derajat-derajat yang tinggi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali ‘Imran: 133)

Allah Ta’ala juga berfirman:

لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

Untuk kemenangan seperti inilah hendaklah orang-orang yang beramal beramal.” (QS ash-Shaffat: 61)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Untuk yang demikian itu hendaklah orang-orang yang berlomba saling berlomba.” (QS al-Muthaffifin: 26)

Allah Ta’ala menjelaskan keutamaan orang-orang yang berjihad, yaitu mereka yang memiliki tekad tinggi, atas orang-orang yang duduk dan lebih memilih kenyamanan serta ketenteraman.

Allah Ta’ala berfirman:

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidaklah sama orang-orang mukmin yang duduk, selain mereka yang mempunyai uzur, dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing Allah menjanjikan kebaikan. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS an-Nisa’: 95)

Allah Ta’ala juga berfirman:

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ

Tidak sama di antara kalian orang yang berinfak sebelum penaklukan dan berperang. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang berinfak dan berperang sesudah itu. Kepada masing-masing Allah menjanjikan kebaikan.” (QS al-Hadid: 10)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

Apabila Kiamat telah terjadi, sedangkan di tangan salah seorang dari kalian terdapat bibit pohon kurma, lalu jika ia mampu untuk tidak beranjak hingga menanamnya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR Ahmad 20/296 no. 12981. Para penelitinya berkata, “Sanadnya sahih berdasarkan syarat Muslim.”)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada para sahabatnya, sebagaimana diriwayatkan ath-Thabrani dalam al-Kabir dari al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ مَعَالِيَ الْأُمُورِ وَأَشْرَافَهَا، وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا

Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai perkara-perkara yang tinggi dan mulia serta membenci perkara-perkara yang rendah.” (HR ath-Thabrani dalam al-Kabir 3/131 no. 2894. Disahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah 1/384 no. 1890)

Yakni, perkara-perkara yang hina dan rendah.

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk manusia yang paling tinggi tekadnya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ۝ نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ۝ أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Wahai orang yang berselimut, bangunlah pada malam hari kecuali sedikit, yaitu separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari separuh itu, dan bacalah al-Qur’an dengan tartil.” (QS al-Muzzammil: 1–4)

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan petunjuk Rabbani yang agung ini. Beliau berdiri hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah. Pada siang hari beliau berjihad, berdakwah, dan memimpin umat. Di rumah beliau terdapat sembilan istri yang beliau urus segala keperluannya. Beliau pernah meletakkan batu pada perutnya karena lapar. Malam demi malam berlalu tanpa ada api yang dinyalakan di rumah Rasulullah. Yang ada hanyalah dua yang hitam, yaitu kurma dan air. Sungguh, masa tidur dan beristirahat telah berlalu.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

Maka apabila engkau telah selesai, tetaplah bekerja keras. Hanya kepada Rabb-mulah engkau berharap.” (QS asy-Syarh: 7–8)

Beliau ‘alaihish shalatu was salam mendorong para sahabatnya agar memiliki tekad tinggi dan berlomba meraih derajat-derajat yang tinggi.

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dalam Perang Badar. Ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pun berangkat hingga mereka mendahului kaum musyrikin sampai di Badar. Kemudian kaum musyrikin datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُقَدِّمَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلَى شَيْءٍ حَتَّى أَكُونَ أَنَا دُونَهُ

Janganlah seorang pun dari kalian maju melakukan sesuatu hingga aku berada di depannya.’

Ketika kaum musyrikin telah mendekat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُومُوا إِلَى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ

Bangkitlah menuju Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.’

‘Umair bin al-Humam al-Anshari berkata, ‘Wahai Rasulullah, Surga yang luasnya seluas langit dan bumi?’

Beliau menjawab, ‘Ya.’

Ia berkata, ‘Bakh, bakh!’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

مَا يَحْمِلُكَ عَلَى قَوْلِكَ بَخٍ بَخٍ؟

Apa yang mendorongmu mengucapkan bakh, bakh?

Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah! Tidak lain hanyalah karena aku berharap menjadi salah seorang penghuninya.’

Beliau bersabda,

فَإِنَّكَ مِنْ أَهْلِهَا

Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.’

Kemudian ia mengeluarkan beberapa butir kurma dari tempat anak panahnya dan mulai memakannya. Lalu ia berkata, ‘Jika aku hidup sampai selesai memakan kurma-kurmaku ini, sungguh itu merupakan kehidupan yang panjang.’ Kemudian ia membuang kurma yang masih bersamanya, lalu memerangi mereka hingga terbunuh.” (HR Muslim no. 1901)

Di antara contoh tingginya tekad adalah apa yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Shahih mereka dari Anas. Ia berkata, “Pamanku, Anas bin an-Nadhr, tidak ikut dalam Perang Badar. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak ikut dalam peperangan pertama ketika engkau memerangi kaum musyrikin. Sungguh, jika Allah mempertemukan aku dengan peperangan melawan kaum musyrikin, niscaya Allah benar-benar akan melihat apa yang akan aku lakukan.’

Ketika Perang Uhud terjadi dan kaum muslimin tersingkap, ia berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf kepada-Mu atas apa yang dilakukan mereka —yakni para sahabatnya— dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka —yakni kaum musyrikin.’

Kemudian ia maju dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz. Ia berkata, ‘Wahai Sa’ad bin Mu’adz, Surga, demi Rabb an-Nadhr! Sesungguhnya aku benar-benar mencium aromanya dari arah sebelum Uhud.’

Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mampu melakukan seperti apa yang telah dilakukannya.’

Anas berkata, ‘Kami menemukan pada tubuhnya lebih dari delapan puluh luka akibat tebasan pedang, tusukan tombak, atau lemparan anak panah. Kami mendapatinya telah terbunuh dan kaum musyrikin telah mencincang tubuhnya. Tidak seorang pun mengenalinya kecuali saudara perempuannya melalui ujung jarinya.’

Anas berkata, ‘Kami berpendapat atau mengira bahwa ayat ini turun berkenaan dengannya dan orang-orang yang semisal dengannya:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ

Di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.’ (QS al-Ahzab: 23).” (HR al-Bukhari no. 2805 dan Muslim no. 1903)

Tingginya tekad terbagi menjadi dua:

Pertama: Seseorang yang merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan perkara-perkara besar, lalu ia menjadikan perkara-perkara besar tersebut sebagai tekadnya. Ini disebut orang yang besar tekadnya atau besar keyakinannya.

Kedua: Seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan perkara-perkara besar, tetapi ia meremehkan dirinya sendiri sehingga menempatkan tekadnya pada perkara-perkara rendah dan kecil. Ini disebut orang yang kecil tekadnya.

al-Mutanabbi berkata, “Aku tidak melihat di antara aib manusia suatu aib,
seperti kekurangan orang-orang yang mampu mencapai kesempurnaan.”

Di antara contoh tingginya tekad:

Apa yang dikatakan Masruq tentang Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, “Demi Allah, tidaklah satu ayat pun diturunkan melainkan aku mengetahui tentang apa ayat itu diturunkan dan di mana ayat itu diturunkan. Seandainya aku mengetahui seseorang yang lebih mengetahui Kitab Allah daripada aku, yang dapat dicapai oleh kendaraan, niscaya aku akan mendatanginya.”

Imam al-Bukhari biasa bangun dalam satu malam hampir dua puluh kali untuk mencatat sebuah hadis atau suatu pemikiran.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku melakukan perjalanan untuk mencari sunah menuju daerah-daerah perbatasan, negeri Syam, daerah-daerah pesisir, Maghrib, al-Jazair, Makkah, Madinah, Yaman, Khurasan, dan Persia.”

Ia juga berkata, “Aku menunaikan haji sebanyak lima kali, tiga di antaranya dengan berjalan kaki dari Baghdad menuju Makkah.”

Ibnu al-Jauzi berkata, “Imam Ahmad bin Hanbal mengelilingi dunia dua kali hingga berhasil mengumpulkan al-Musnad yang berisi tiga puluh ribu hadis.”

Ia juga berkata, “Seandainya aku mengatakan bahwa aku telah menelaah dua puluh ribu jilid buku, tentu sebenarnya lebih banyak lagi, sedangkan aku masih terus mencari. Dari menelaah buku-buku tersebut, aku memperoleh manfaat dengan memperhatikan perjalanan hidup mereka, kadar tekad mereka, hafalan mereka, ibadah mereka, dan berbagai keunikan ilmu mereka yang tidak diketahui oleh orang yang tidak menelaahnya. Akhirnya aku memandang rendah keadaan manusia sekarang dan menganggap kecil tekad para penuntut ilmu. Alhamdulillah.”

Ibnu al-Jauzi berkata dalam biografi ath-Thabrani, “Ia adalah al-’Allamah Sulaiman bin Ahmad, ahli hadis dunia. Karya-karyanya berjumlah lebih dari tujuh puluh lima karya. Ia ditanya tentang banyaknya hadis yang dimilikinya. Ia menjawab, ‘Aku tidur di atas tikar selama tiga puluh tahun.’”

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Merantaulah dari tanah air untuk mencari kemuliaan, dan bepergianlah, karena dalam perjalanan terdapat lima manfaat:
hilangnya kesusahan, memperoleh penghidupan, ilmu, adab, dan persahabatan dengan orang yang mulia.”

Di antara contoh tingginya tekad pada zaman kita sekarang:

Apa yang disampaikan salah seorang saudara kepadaku bahwa terdapat seorang yang buta, tuli, dan bisu yang tidak pernah tertinggal takbiratul ihram. Yang mengherankan, orang yang menuntunnya menuju masjid adalah anaknya yang tuli dan bisu. Meskipun demikian, keduanya memiliki tekad tinggi untuk bersegera menuju rumah-rumah Allah dan melaksanakan shalat berjamaah, padahal secara syariat keduanya memiliki uzur.

al-Mutanabbi berkata, “Apabila jiwa-jiwa itu besar, tubuh-tubuh akan letih dalam meraih keinginannya.”

Ia juga berkata, “Apabila engkau menempuh bahaya demi kemuliaan yang diinginkan, janganlah merasa puas dengan sesuatu yang berada di bawah bintang-bintang. Rasa kematian dalam perkara yang hina sama dengan rasa kematian dalam perkara yang agung.”

Abu Firas al-Hamdani berkata, “Kami adalah kaum yang tidak mengenal pertengahan,
bagi kami kedudukan terdepan di antara seluruh manusia atau kubur. Jiwa kami terasa ringan untuk dikorbankan demi kemuliaan, dan orang yang meminang perempuan cantik tidak akan menganggap mahal maharnya.”

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata ketika berbicara tentang tekad, “Bagaimana pantas bagi orang yang memiliki tekad, yang Allah telah menyingkirkan berbagai penghalang darinya dan telah memperkenalkan kepadanya kebahagiaan dan kesengsaraan, untuk merasa puas menjadi hewan, padahal ia mampu menjadi manusia; atau merasa puas menjadi manusia, padahal ia mampu menjadi malaikat; atau merasa puas menjadi malaikat, padahal ia mampu menjadi raja di tempat yang benar di sisi Raja Yang Mahakuasa, sehingga para malaikat berdiri melayaninya dan masuk menemui mereka dari setiap pintu.

Allah Ta’ala berfirman:

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.’ (QS ar-Ra’d: 24)

Kesempurnaan ini hanya dapat diraih dengan ilmu, memeliharanya, dan melaksanakan konsekuensinya. Kekurangan yang paling besar adalah kekurangan orang yang sebenarnya mampu mencapai kesempurnaan dan penyesalannya karena menyia-nyiakannya. Dengan demikian, terbukti bahwa tidak ada sesuatu yang lebih buruk bagi manusia daripada lalai terhadap berbagai keutamaan agama, ilmu-ilmu yang bermanfaat, dan amal-amal saleh. Barang siapa demikian, maka ia termasuk orang-orang awam yang tidak berarti, yang mengeruhkan air dan sedikit manfaatnya. Jika hidup, ia hidup tanpa terpuji; jika mati, ia mati tanpa dirindukan. Ketiadaan mereka merupakan ketenteraman bagi negeri dan manusia. Langit tidak menangisi mereka dan bumi pun tidak merasa kehilangan mereka.”

Kesimpulan

Sesungguhnya seorang mukmin sepatutnya memiliki tekad yang tinggi. Ia berusaha meraih perkara-perkara yang luhur dan perkara-perkara yang memperbaiki urusan agama dan dunianya. Ia hendaklah mengorbankan segala sesuatu yang mahal dan berharga untuk itu. Janganlah ia menjadi orang yang lemah tekadnya, mencintai kenyamanan dan kemalasan. Sebab, kemuliaan diraih sesuai dengan kadar kesungguhan, dan barang siapa mencari kedudukan tinggi, ia akan berjaga pada malam hari.

Seorang penyair berkata:

Barang siapa menginginkan kemuliaan tanpa bersusah payah,

ia telah menyia-nyiakan umur untuk mencari sesuatu yang mustahil.

Engkau menginginkan kemuliaan, tetapi kemudian tidur pada malam hari,

orang yang mencari mutiara harus menyelam ke dalam lautan.

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.

Baca juga: TEKAD PASUKAN MUSLIM

Baca juga: DAKWAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI

Baca juga: PENTINGNYA BERDZIKIR DAN KEDUDUKANNYA

Baca juga: WASPADA AGAR TIDAK TERPENGARUH OLEH FITNAH HARTA

Baca juga: KEUTAMAAN MEMERHATIKAN DAN MENYEBARKAN SUNAH NABI

(Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi)

Kelembutan Hati