1️⃣0️⃣ Perhatian Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya, di mana Dia menugaskan para malaikat untuk menjaga manusia ketika masih berada dalam rahim ibu mereka, dan menugaskan malaikat ketika mereka keluar ke dunia, serta menugaskan para malaikat ketika mereka meninggal. Semua ini merupakan bukti perhatian Allah Ta’ala kepada kita.
1️⃣1️⃣ Bahwa roh ditiupkan ke dalam jasad dengan suatu tiupan, namun kita tidak mengetahui bagaimana caranya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا
“Dan (ingatlah) Maryam binti ‘Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalamnya dari roh Kami.” (QS at-Tahrim: 12)
Akan tetapi kita tidak mengetahui bagaimana hakikat tiupan tersebut, karena ini termasuk perkara-perkara ghaib.
1️⃣2️⃣ Bahwa roh adalah suatu wujud (jism), karena ia ditiupkan lalu menetap di dalam jasad.
Namun, apakah wujud ini sejenis dengan jasad-jasad kita yang kasar, yang tersusun dari tulang, daging, saraf, dan kulit?
Jawabannya: Manusia tidak memiliki ilmu tentang hakikatnya. Kita hanya mengatakan sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh termasuk urusan Rabb-ku.’” (QS al-Isra’: 85)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ketika para ahli kalam dan filsuf tidak memiliki ilmu syar’i tentang keadaan roh, mereka pun kacau dalam membahasnya. Sebagian mereka berkata bahwa roh adalah ‘arad (sifat) dari jasad, seperti panjang–pendek, putih–hitam. Sebagian lagi berkata bahwa roh adalah darah. Ada pula yang mengatakan bahwa roh adalah bagian dari manusia, seperti tangan atau kakinya. Maka mereka pun saling bertentangan dan kacau dalam persoalan ini.”
Adapun Ahlus Sunnah, mereka mengatakan bahwa roh termasuk urusan Allah ‘Azza wa Jalla. Namun kami beriman terhadap apa yang kami ketahui tentang sifat-sifatnya berdasarkan al-Kitab dan as-Sunnah.
Di antara hal tersebut adalah firman Allah Ta’ala:
قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ
“Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) kalian akan mewafatkan kalian,’” (QS as-Sajdah: 11) yakni mencabut nyawa kalian.
Dan firman-Nya:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَ
“Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, para utusan Kami mewafatkannya,” (QS al-An’am: 61) yakni mencabut nyawanya.
Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Malaikat Maut apabila mencabut roh dari jasad, jika ia termasuk penghuni Surga —semoga Allah menjadikan kita termasuk di dalamnya— maka bersama para malaikat terdapat kain kafan dari Surga dan wewangian (hanuth) dari Surga. Lalu para malaikat mengambil roh itu dari tangan Malaikat Maut— tidak membiarkannya walau sekejap mata— kemudian mereka membungkusnya dengan kain kafan tersebut dan membawanya naik ke langit. (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud)
Maka roh itu adalah suatu wujud, tetapi berbeda dengan jasad-jasad kasar seperti tubuh kita. Allah lebih mengetahui hakikat dan bagaimana keadaannya.
Roh adalah sesuatu yang menakjubkan. Ia memiliki keadaan ketika tidur. Ia keluar dari jasad, namun bukan keluar secara sempurna. Kamu bisa mendapati dirimu menjelajahi berbagai tempat— barangkali sampai ke Tiongkok atau ke ujung Maroko— atau terbang dengan pesawat, atau menaiki kendaraan, padahal kamu tetap berada di tempatmu, selimut menutupi tubuhmu. Namun demikian, kamu seakan berkeliling di bumi, sementara rohmu tidak berpisah dari jasad dengan perpisahan yang sempurna.
Maka urusan roh adalah perkara yang aneh (menakjubkan). Kita tidak mengetahui tentangnya kecuali apa yang datang dalam al-Kitab dan as-Sunnah. Adapun apa yang tidak kita ketahui, maka kita serahkan ilmunya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika kamu tidak mengetahui hakikat dirimu sendiri yang berada di antara kedua sisimu, maka bagaimana mungkin kamu berusaha mengetahui bagaimana hakikat sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla, yang Dia Mahabesar dan Mahaagung, sehingga tidak mungkin dijangkau oleh pengetahuan makhluk.
Apabila kamu telah mengenal dirimu dan mengetahui bahwa kamu tidak mampu memahami bagaimana hakikat sifat-sifat Allah, apa pun keadaanmu, maka janganlah berusaha menelusuri hakikat (kaifiyah)-nya dan jangan pula bertanya tentangnya. Karena itulah Imam Malik rahimahullah berkata ketika ditanya tentang bagaimana hakikat istiwa’, “Itu adalah bid’ah.”
Contoh ini —yang aku maksud adalah contoh tentang roh— merupakan hujah yang meyakinkan bagi siapa saja yang mencari-cari hakikat sifat-sifat Allah. Jika seorang hamba tidak mengetahui tentang rohnya sendiri yang merupakan penopang keberadaan tubuhnya, maka bagaimana mungkin ia mengetahui hakikat sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla?
1️⃣3️⃣ Bahwa para malaikat ‘alaihimussalam adalah hamba-hamba yang diperintah dan dilarang, sebagaimana dalam firman-Nya: “Lalu diperintahkan dengan empat perkara,” dan yang memerintahkannya adalah Allah ‘Azza wa Jalla.
1️⃣4️⃣ Bahwa empat perkara ini telah ditetapkan (dituliskan) atas manusia: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia. Namun apakah hal itu berarti kita tidak perlu melakukan sebab-sebab untuk memperoleh rezeki? Jawabannya: Tentu kita perlu melakukannya. Apa yang kita lakukan berupa sebab-sebab itu mengikuti (ditentukan bersama) rezeki.
1️⃣5️⃣ Bahwa para malaikat menulis (amal perbuatan).
Jika seseorang bertanya kepada kita, “Dengan huruf apa mereka menulis? Apakah mereka menulis dengan bahasa Arab atau bahasa Suryani atau Ibrani, atau semacamnya?” Maka jawabannya: Pertanyaan seperti ini adalah bid’ah. Kewajiban kita hanyalah beriman bahwa mereka menulis. Adapun dengan bahasa apa mereka menulis, maka kita tidak mengatakan apa pun.
Apakah penulisan itu dilakukan pada sebuah lembaran (shahifah) atau ditulis pada dahi janin?
Jawabannya: Terdapat atsar-atsar yang menunjukkan bahwa ia ditulis pada dahi janin, dan terdapat pula atsar-atsar yang menunjukkan bahwa ia ditulis pada sebuah lembaran. Mengompromikan kedua riwayat ini adalah perkara yang mudah. Bisa jadi ia ditulis pada lembaran lalu malaikat membawanya hingga waktu yang Allah kehendaki, dan bisa pula ditulis pada dahi manusia.
1️⃣6️⃣ Bahwa manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan (dituliskan) baginya. Oleh karena itu, ia diperintahkan untuk berusaha memperoleh apa yang bermanfaat baginya. Ini adalah perkara yang sudah disepakati. Kita semua tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuk kita, namun kita diperintahkan untuk berusaha memperoleh apa yang bermanfaat bagi kita dan meninggalkan apa yang membahayakan kita.
1️⃣7️⃣ Bahwa akhir perjalanan bani Adam hanya salah satu dari dua perkara: kesengsaraan atau kebahagiaan.
Allah Ta’ala berfirman:
فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ
“Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia.” (QS Hud: 105)
Dia juga berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ
“Dialah yang menciptakan kalian. Maka di antara kalian ada yang kafir dan di antara kalian ada yang beriman.” (QS at-Taghabun: 2)
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menjadikan kita semua termasuk golongan orang-orang yang berbahagia.
Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahadekat.
Baca sebelumnya: PENCIPTAAN MANUSIA, PENULISAN TAKDIR, DAN PENENTUAN AKHIR AMAL
Baca sebelumnya: HUKUM JANIN SETELAH DITIUPKAN ROH
Baca juga: HAKIKAT TAKWA
Baca juga: KEMATIAN – PERJALANAN ROH PASCA KEMATIAN
Baca juga: TOBAT MASIH DITERIMA SEBELUM ROH SAMPAI DI TENGGOROKAN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

