PAHALA AMAL SALEH SAAT SAKIT DAN SAFAR

PAHALA AMAL SALEH SAAT SAKIT DAN SAFAR

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Apabila seorang hamba sakit atau safar, dituliskan baginya pahala sebagaimana amal yang biasa ia kerjakan ketika menetap dalam keadaan sehat.” (HR al-Bukhari)

PENJELASAN

Adapun hadisnya yang kedua adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau safar, dituliskan baginya pahala sebagaimana amal yang biasa ia kerjakan ketika menetap dalam keadaan sehat.” Artinya, apabila seseorang terbiasa melakukan amal saleh lalu ia sakit sehingga tidak mampu melakukannya, maka tetap dituliskan baginya pahala secara penuh. Wal-hamdu lillah ‘ala ni‘amih

Jika kamu misalnya terbiasa shalat bersama jamaah, kemudian kamu sakit dan tidak mampu melakukannya, maka seakan-akan kamu tetap shalat bersama jamaah, dan dituliskan bagimu pahala dua puluh tujuh derajat. Demikian pula jika kamu safar, padahal kebiasaanmu ketika menetap di negeri adalah shalat nawafil (shalat sunah), membaca al-Qur’an, bertasbih, bertahlil, dan bertakbir, namun ketika safar kamu tersibukkan dengan perjalanan sehingga tidak dapat melakukannya, maka tetap dituliskan bagimu apa yang biasa kamu kerjakan ketika berada di negeri dalam keadaan menetap. Misalnya, jika kamu safar lalu shalat sendirian di padang pasir tanpa seorang pun bersamamu, maka tetap dituliskan bagimu pahala shalat berjamaah secara penuh, apabila ketika menetap kamu terbiasa shalat bersama jamaah.

Dalam hadis ini terdapat peringatan bahwa sepantasnya bagi orang yang berakal, selama ia berada dalam keadaan sehat dan lapang waktu, untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan amal saleh, sehingga apabila ia tidak mampu lagi melakukannya karena sakit atau kesibukan, maka tetap akan dituliskan baginya pahala secara sempurna.

Manfaatkanlah kesehatan, manfaatkanlah waktu luang, beramallah dengan amal saleh, sehingga apabila kamu tersibukkan darimu karena sakit atau sebab lainnya, tetap akan dituliskan bagimu pahala secara sempurna. Wa lillahi al-hamd.

Karena itu Ibnu ‘Umar berkata, “Ambillah dari sehatmu untuk sakitmu, dan dari hidupmu untuk matimu.” (HR al-Bukhari) Demikianlah yang datang dalam hadis Ibnu ‘Umar. Bisa jadi dari perkataan beliau sendiri atau dari sabda Nabi ‘alaihishshalatu wassalam. Maksudnya, seseorang hendaklah memanfaatkan kesempatan ketika sehat, sehingga apabila ia sakit tetap akan dituliskan baginya amal yang biasa ia lakukan saat sehat. Hendaklah ia bersungguh-sungguh memperbanyak amal saleh selama ia dalam keadaan menetap, sehingga apabila ia bepergian tetap akan dituliskan baginya amal yang biasa ia kerjakan ketika menetap.

Kami memohon kepada Allah agar Dia memurnikan niat bagi kami dan kalian, serta memperbaiki amal bagi kami dan kalian.

Baca juga: SEDEKAH YANG PALING UTAMA

Baca juga: SIFAT SHALAT NABI – POSISI KAKI SAAT BERDIRI

Baca juga: IZIN HIJRAH

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati Riyadhush Shalihin