MELUASNYA MAKSIAT SEBAGAI SEBAB KEBINASAAN UMAT

MELUASNYA MAKSIAT SEBAGAI SEBAB KEBINASAAN UMAT

Dari Ummul Mukminin Ummul Hakam Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuinya dalam keadaan gelisah seraya bersabda,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمأْجُوجَ

La ilaha illallah. Celaka bagi orang-orang Arab karena keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini telah terbuka dari benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini.”

Beliau membentuk lingkaran dengan kedua jarinya, yaitu ibu jari dan jari yang di sebelahnya.

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sementara di tengah kita masih ada orang-orang saleh?”

Beliau menjawab,

نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Ya, apabila keburukan telah merebak.” (Muttafaq ‘alaih)

PENJELASAN

Penulis rahimahullah berkata dalam riwayat yang dinukilnya dari Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuinya dengan wajah memerah seraya bersabda, “La ilaha illallah. Celaka bagi orang-orang Arab karena keburukan yang telah mendekat.”

Beliau masuk menemuinya dalam keadaan seperti itu, dengan perubahan pada wajahnya yang memerah, sambil mengucapkan, “La ilaha illallah.” Ucapan ini untuk menegaskan tauhid dan meneguhkannya, karena tauhid merupakan fondasi yang di atasnya seluruh syariat dibangun.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzariyat: 56)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sembahan selain Aku, maka sembahlah Aku.” ( QS al-Anbiya’: 25)

Mengesakan Allah dalam ibadah, dalam cinta, pengagungan, kembali (bertobat) kepada-Nya, bertawakal, memohon pertolongan, rasa takut kepada-Nya, dan selain itu, merupakan dasar agama. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “La ilaha illallah” dalam keadaan ketika beliau merasa cemas dan wajahnya berubah. Hal itu sebagai peneguhan tauhid dan untuk menenangkan hati.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan orang-orang Arab dengan sabdanya, “Celaka bagi orang-orang Arab karena keburukan yang telah mendekat.” Hal itu karena mereka adalah orang-orang yang memikul panji Islam. Allah Ta’ala mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum yang ummi, yaitu orang-orang Arab.

Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ۝ وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, padahal sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan juga kepada kaum yang lain dari mereka yang belum bergabung dengan mereka. Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS al-Jumu’ah: 2–3)

Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan peringatan keras ini kepada orang-orang Arab, sebab mereka adalah pembawa panji Islam.

Sabda beliau, “dari keburukan yang telah mendekat”, yang dimaksud dengan keburukan di sini adalah apa yang akan terjadi akibat Ya’juj dan Ma’juj. Karena itu beliau menafsirkannya dengan sabdanya, “Pada hari ini telah terbuka dari benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini.”

Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan ibu jari, yakni menunjukkan suatu bukaan yang kecil. Meskipun hanya bagian kecil yang terbuka, hal itu tetap merupakan ancaman bagi orang-orang Arab.

Orang-orang Arab yang memikul panji Islam sejak masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari ini berada dalam ancaman dari Ya’juj dan Ma’juj, yaitu kaum yang membuat kerusakan di bumi, sebagaimana Allah Ta’ala mengisahkan tentang Dzulqarnain ketika dikatakan kepadanya:

إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ

Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj adalah orang-orang yang membuat kerusakan di bumi.”

Mereka adalah kaum yang membawa keburukan dan kerusakan.

Kemudian Zainab berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sementara di tengah kita ada orang-orang saleh?”

Beliau menjawab, “Ya, apabila keburukan telah merebak.”

Orang saleh pada hakikatnya tidak binasa. Ia selamat dan mendapat keselamatan. Namun apabila keburukan telah merebak, maka orang-orang saleh pun bisa tertimpa kebinasaan (secara umum), sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS al-Anfal: 25)

Yang dimaksud al-khabats (keburukan) di sini mencakup dua hal:

1. Perbuatan-perbuatan yang buruk (maksiat).

2. Manusia-manusia yang buruk (orang-orang fasik dan jahat).

Apabila perbuatan-perbuatan buruk dan maksiat telah banyak tersebar di tengah masyarakat, meskipun mereka kaum muslimin, maka mereka telah menjerumuskan diri mereka kepada kebinasaan. Demikian pula jika orang-orang kafir banyak terdapat di dalamnya, maka mereka juga telah menjerumuskan diri mereka kepada kebinasaan. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar tidak membiarkan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrik tinggal di Jazirah Arab. Beliau memperingatkan hal tersebut dengan sabdanya,

أَخْرِجُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ

Keluarkanlah orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab.”

Ketika beliau berada dalam sakit menjelang wafatnya, beliau bersabda,

أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ

Keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab.”

Beliau juga bersabda pada akhir hayatnya,

لَئِنْ عِشْتُ لَأُخْرِجَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ

Seandainya aku masih hidup, sungguh aku akan mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab.”

Beliau bersabda,

لَأُخْرِجَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ حَتَّى لَا أَدَعَ فِيهَا إِلَّا مُسْلِمًا

Sungguh aku akan mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab hingga aku tidak membiarkan di dalamnya kecuali seorang muslim.”

Demikianlah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih.

Sangat disayangkan, pada masa sekarang kamu dapati sebagian orang seakan-akan berlomba-lomba mendatangkan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan para penyembah berhala ke negeri-negeri kita untuk bekerja. Bahkan ada yang mengklaim bahwa mereka lebih baik daripada kaum muslimin.

Kita berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Beginilah setan mempermainkan akal sebagian manusia hingga mereka lebih mengutamakan orang kafir daripada orang beriman. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan sungguh seorang hamba mukmin lebih baik daripada seorang musyrik, walaupun ia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedangkan Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dia menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS al-Baqarah: 221)

Maka hendaklah benar-benar berhati-hati dari mendatangkan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum penyembah berhala seperti kaum Buddha dan selain mereka ke jazirah ini. Sebab, jazirah ini adalah jazirah Islam. Dari sinilah Islam bermula dan kepadanya pula ia akan kembali.

Bagaimana mungkin kita membiarkan unsur-unsur yang buruk itu berada di tengah-tengah kita, di antara anak-anak kita, keluarga kita, dan masyarakat kita? Hal seperti itu merupakan tanda yang dapat membawa kepada kebinasaan.

Karena itu, siapa yang memerhatikan keadaan kita pada masa sekarang lalu membandingkannya dengan keadaan kita pada masa dahulu, niscaya ia akan melihat perbedaan yang besar. Seandainya bukan karena generasi muda yang baik —yang Allah anugerahi komitmen terhadap agama dan kita memohon kepada Allah agar meneguhkan mereka di atasnya— niscaya kamu akan melihat keburukan yang jauh lebih banyak.

Semoga Allah merahmati kita dengan ampunan-Nya, dan juga melalui para pemuda saleh yang memiliki kebangkitan yang baik. Semoga Allah melanggengkan karunia-Nya kepada mereka dan melindungi kita serta mereka dari godaan setan yang terkutuk.

Baca juga: KEMULIAAN BUKAN DENGAN NASAB, TETAPI DENGAN TAKWA

Baca juga: RASULULLAH MENAWARKAN DIRI KEPADA KABILAH-KABILAH

Baca juga: DOA PERLINDUNGAN DARI KEBURUKAN MAKHLUK CIPTAAN-NYA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Riyadhush Shalihin