MENJADI IMAM BAGI ORANG BERTAKWA

MENJADI IMAM BAGI ORANG BERTAKWA

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Dan orang-orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami penyejuk mata, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS al-Furqan: 74)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا

Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” (QS al-Anbiya’: 73)

PENJELASAN

Penulis rahimahullah menyebutkan bab ini, yaitu bab tentang “Memulai Sunah yang Baik atau Sunah yang Buruk”, untuk menjelaskan bahwa di antara perkara-perkara terdapat perkara yang asalnya telah memiliki landasan yang tetap. Apabila seseorang melakukannya dan ia adalah orang pertama yang melakukannya, maka ia seperti orang yang memulainya. Baginya pahala amalan tersebut dan pahala orang-orang yang mengamalkannya hingga Hari Kiamat.

Telah kita ketahui sebelumnya bahwa agama Islam —alhamdulillah— adalah agama yang sempurna, tidak membutuhkan tambahan penyempurnaan dan tidak pula membutuhkan bid’ah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً

Pada hari ini Aku telah sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku telah sempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS al-Ma’idah: 3)

Kemudian penulis berdalil dengan dua ayat dari Kitab Allah. Ayat yang pertama adalah firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Dan orang-orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami penyejuk mata, dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.’” (al-Furqān: 74)

Doa ini termasuk doa yang dipanjatkan oleh hamba-hamba ar-Rahman, yang Allah sebutkan sifat-sifat mereka di akhir surah al-Furqan, mulai dari firman-Nya:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً

Dan hamba-hamba ar-Rahman adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati,”

hingga firman-Nya:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

Dan orang-orang yang berkata, ‘Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami penyejuk mata.’” (QS al-Furqan: 74)

Kata “hab lana” berarti “anugerahkanlah kepada kami” atau “berikanlah kepada kami”. Adapun “al-azwaj” merupakan bentuk jamak dari zauj. Kata ini berlaku untuk laki-laki maupun perempuan. Pasangan bagi seorang laki-laki disebut zauj. Oleh karena itu, kamu dapati dalam hadis-hadis ungkapan: (عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) “Dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Inilah bahasa Arab yang fasih, bahwa perempuan juga disebut zauj. Akan tetapi, para ahli faraidh (ilmu waris) rahimahumullah menggunakan istilah zauj untuk laki-laki dan zaujah untuk perempuan, demi membedakan keduanya dalam pembagian warisan. Adapun dalam bahasa Arab secara umum, kata zauj berlaku untuk laki-laki maupun perempuan. Maka doa ini, “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari pasangan-pasangan kami dan keturunan kami penyejuk mata,” sebagaimana berlaku bagi laki-laki, juga berlaku bagi perempuan.

Makna “penyejuk mata” pada diri seorang istri adalah bahwa ketika kamu memandangnya, ia membuatmu merasa senang. Ketika kamu pergi meninggalkannya, ia menjaga amanahmu pada harta dan anak-anakmu. Ketika kamu menelusuri keadaannya, kamu dapati ia taat kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Maka perempuan-perempuan yang salehah adalah yang taat dan menjaga (kehormatan serta amanah) ketika (suami) tidak ada, karena penjagaan Allah.” (QS an-Nisa’: 34)

Perempuan seperti inilah yang menjadi penyejuk mata dan menyenangkan hati suaminya.

Demikian pula keturunan: apabila Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai penyejuk mata bagi seseorang, mereka akan taat ketika diperintah, menjauhi apa yang dilarang, menyenangkan orang tuanya dalam setiap kesempatan, dan menjadi anak-anak yang saleh. Inilah yang termasuk penyejuk mata bagi orang-orang yang bertakwa.

Adapun kalimat terakhir, “Dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa,” itulah yang menjadi dalil untuk bab ini. Maksudnya, jadikanlah kami sebagai teladan bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga mereka meneladani kami dalam ucapan dan perbuatan, baik dalam apa yang kami lakukan maupun dalam apa yang kami tinggalkan.

Sesungguhnya orang beriman —terlebih para ahli ilmu— menjadi teladan bagi orang lain melalui ucapan dan perbuatan mereka. Oleh karena itu, kamu akan mendapati orang-orang awam, apabila diperintahkan untuk melakukan sesuatu atau dilarang dari suatu perkara, mereka berkata, “Si fulan melakukan ini dan itu,” yaitu orang yang mereka jadikan sebagai imam atau teladan bagi mereka.

Para imam mencakup para pemimpin dalam urusan agama —yaitu ibadah yang bersifat pribadi— serta para pemimpin dalam dakwah, pendidikan, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta berbagai syiar dan syariat agama lainnya. “Jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa,” yakni sebagai teladan bagi mereka dalam segala hal.

Adapun ayat yang kedua, Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا

Dan Kami jadikan mereka sebagai para imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” (QS al-Anbiya’: 73)

Maksudnya, Kami jadikan mereka para imam yang berilmu, yang memberi petunjuk kepada manusia, yaitu menunjukkan mereka kepada agama Allah dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, seandainya penulis menyebutkan akhir ayat tersebut, maknanya akan lebih jelas, karena Allah Ta’ala menjelaskan sebab dijadikannya mereka sebagai imam melalui firman-Nya:

يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآياتِنَا يُوقِنُونَ

Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami karena mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS as-Sajdah: 24)

Mereka bersabar dalam ketaatan kepada Allah sehingga mereka melaksanakan apa yang diperintahkan, bersabar dari maksiat kepada Allah sehingga mereka meninggalkan apa yang dilarang, dan bersabar atas takdir-takdir Allah yang menimpa mereka akibat  dakwah mereka kepada kebenaran, amar ma’ruf, dan nahi mungkar. Sebab seseorang yang menempatkan dirinya sebagai penyeru kepada kebenaran, yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, pasti akan tertimpa gangguan. Kebanyakan orang yang membenci kebenaran akan menjadi musuh baginya, maka hendaklah ia bersabar. Demikian pula terhadap takdir-takdir Allah yang datang tanpa sebab, itu pun mereka bersabar atasnya.

Mereka meyakini ayat-ayat Kami,” yakni mereka meyakini dengan pasti apa yang Allah kabarkan kepada mereka, serta meyakini balasan yang akan mereka peroleh dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, meninggalkan larangan-larangan-Nya, berdakwah kepada Allah, serta melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Artinya, mereka beramal dalam keadaan yakin terhadap balasan.

Ini merupakan satu poin penting yang patut kita perhatikan, yaitu bahwa kita beramal dengan disertai keyakinan terhadap balasan. Banyak orang beramal —seperti shalat, puasa, dan bersedekah— semata-mata karena itu adalah perintah Allah. Hal ini baik dan tidak diragukan merupakan kebaikan. Namun, hendaklah kamu menyadari dan menghadirkan dalam hati bahwa semua amalan tersebut dilakukan dengan harapan akan pahala dan rasa takut terhadap hukuman, agar keyakinan terhadap akhirat benar-benar tertanam dalam diri.

Syaikhul Islam rahimahullah mengambil dari ayat ini sebuah ungkapan yang sangat baik. Ia berkata, “Dengan kesabaran dan keyakinan diraih kepemimpinan dalam agama.” Ungkapan ini diambil dari firman Allah Ta’ala:

لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآياتِنَا يُوقِنُونَ

Ketika mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS as-Sajdah: 24)

Maka dengan kesabaran dan keyakinan diraih kepemimpinan dalam agama.

Aku memohon kepada Allah agar Dia menjadikanku dan kalian sebagai imam-imam dalam agama Allah, sebagai pemberi petunjuk bagi hamba-hamba Allah, dalam keadaan mendapat petunjuk.

Sesungguhnya Dia Mahapemurah lagi Mahamulia.

Baca juga: BALASAN BAGI ORANG YANG DITINGGAL MATI ORANG YANG DICINTAINYA

Baca juga: ALLAH MEMBERIKAN FURQAN DAN MENGAMPUNI DOSA ORANG YANG BERTAKWA

Baca juga: DOA AGAR DIJADIKAN PEMIMPIN BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati Riyadhush Shalihin