Dari Abu Dzarr al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 21392 dan at-Tirmidzi no. 1987)
Ini adalah hadis yang agung. Di dalamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara hak Allah dan hak-hak para hamba.
Adapun hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa. Mereka menjaga diri dari kemurkaan dan azab-Nya dengan menjauhi segala perkara yang dilarang dan menunaikan segala kewajiban. Wasiat ini merupakan wasiat Allah kepada umat-umat terdahulu dan umat-umat yang datang kemudian. Ia juga merupakan wasiat setiap rasul kepada kaumnya, yaitu agar mengatakan,
اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ
“Beribadahlah kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya.”
Allah telah menyebutkan sifat-sifat ketakwaan dalam firman-Nya:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan shalat dan menunaikan zakat; orang-orang yang memenuhi janji apabila berjanji; serta orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan pada waktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Baqarah: 177)
Dan dalam firman-Nya:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali ‘Imran: 133)
Kemudian Allah menyebutkan sifat-sifat ketakwaan dengan firman-Nya:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Yaitu orang-orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang memaafkan manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS Ali ‘Imran: 134)
Allah menyifati orang-orang yang bertakwa dengan keimanan terhadap pokok-pokok iman, akidah-akidahnya, serta amalan-amalannya yang lahir maupun batin; dengan menunaikan ibadah-ibadah badan dan ibadah-ibadah harta; dengan bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan ketika menghadapi peperangan; dengan memaafkan manusia, bersabar menghadapi gangguan mereka, serta berbuat baik kepada mereka. Allah juga menyifati mereka dengan sikap segera memohon ampun dan bertobat apabila mereka melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dan mewasiatkan agar seorang hamba senantiasa bertakwa di mana pun ia berada, pada setiap waktu, di setiap tempat, dan dalam setiap keadaan, karena ia sangat membutuhkan ketakwaan dan sama sekali tidak dapat terlepas darinya dalam keadaan apa pun.
Kemudian, karena seorang hamba pasti mengalami kekurangan dalam memenuhi hak-hak ketakwaan dan kewajiban-kewajibannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sesuatu yang dapat menghilangkan dan menghapus kekurangan tersebut, yaitu mengiringi keburukan dengan kebaikan.
Kebaikan (الْحَسَنَةُ) adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Kebaikan terbesar yang dapat menghapus berbagai keburukan adalah tobat nasuha, memohon ampun, dan kembali kepada Allah dengan mengingat-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, serta senantiasa mengharapkan Allah dan karunia-Nya pada setiap waktu. Termasuk di dalamnya adalah berbagai kafarat yang berupa harta maupun amalan badan yang telah ditetapkan batas dan ketentuannya oleh syariat.
Termasuk kebaikan yang dapat menghapus keburukan adalah memaafkan manusia, berbuat baik kepada makhluk, baik manusia maupun selainnya, menghilangkan berbagai kesusahan, memberikan kemudahan kepada orang-orang yang mengalami kesulitan, serta menghilangkan bahaya dan kesulitan dari seluruh makhluk.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.” (QS Hud: 114)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (Diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi no. 214 dan Ahmad no. 10285, keduanya dengan tambahan pada lafaznya, serta Ibnu Majah no. 1086 secara ringkas)
Betapa banyak nash yang menerangkan bahwa ampunan Allah diberikan sebagai balasan atas berbagai ketaatan.
Termasuk perkara yang dengannya Allah menghapus berbagai kesalahan adalah musibah. Sesungguhnya tidaklah seorang mukmin ditimpa kegelisahan, kesedihan, ataupun gangguan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)
Musibah itu dapat berupa hilangnya sesuatu yang dicintai atau datangnya sesuatu yang tidak disukai, baik yang menimpa badan, hati, maupun harta; baik yang bersifat internal maupun eksternal. Musibah terjadi bukan karena perbuatan hamba. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya melakukan sesuatu yang merupakan perbuatannya sendiri, yaitu mengiringi keburukan dengan kebaikan.
Kemudian, setelah menyebutkan hak Allah, yaitu wasiat untuk bertakwa yang mencakup akidah-akidah agama serta amalan-amalannya yang batin maupun lahir, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”
Akhlak yang baik pertama-tama adalah menahan segala bentuk gangguanmu terhadap mereka, memaafkan keburukan dan gangguan yang mereka lakukan kepadamu, kemudian memperlakukan mereka dengan kebaikan, baik melalui ucapan maupun perbuatan.
Di antara perkara yang paling utama dalam akhlak yang baik adalah berlapang dada terhadap manusia, bersabar menghadapi mereka, tidak merasa jengkel terhadap mereka, menampakkan wajah yang ceria, bertutur kata dengan lembut, serta mengucapkan perkataan yang baik dan menyenangkan orang yang duduk bersamanya, yang dapat memasukkan kegembiraan ke dalam hatinya, menghilangkan rasa keterasingannya, dan menghilangkan kesulitan yang timbul karena rasa sungkannya.
Bercanda terkadang juga baik apabila mengandung kemaslahatan. Namun, tidak selayaknya terlalu banyak bercanda. Sesungguhnya candaan dalam pembicaraan seperti garam dalam makanan. Apabila tidak ada sama sekali atau terlalu banyak hingga melampaui batas, maka hal itu tercela.
Termasuk akhlak yang baik adalah memperlakukan setiap orang dengan cara yang layak baginya dan sesuai dengan keadaannya, baik anak kecil maupun orang dewasa, orang yang berakal maupun orang yang kurang akalnya, orang berilmu maupun orang yang tidak berilmu.
Barang siapa bertakwa kepada Allah dan merealisasikan ketakwaannya serta mempergauli manusia dari berbagai tingkatan mereka dengan akhlak yang baik, maka sungguh ia telah memperoleh seluruh kebaikan. Hal itu karena ia telah menunaikan hak Allah dan hak-hak para hamba, serta termasuk orang-orang yang berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat ihsan kepada hamba-hamba Allah.
Baca juga: KEUTAMAAN MEMPERBANYAK SUJUD
Baca juga: AMALAN PENGHAPUS DOSA KECIL DAN DOSA BESAR SEKALIGUS
Baca juga: AMAL PENGHAPUS DOSA KECIL YANG TIDAK MENGHAPUS DOSA BESAR
Baca juga: KEUTAMAAN WUDHU, LANGKAH KE MASJID, DAN MENUNGGU SHALAT
Baca juga: ALLAH MEMBERIKAN FURQAN DAN MENGAMPUNI DOSA ORANG YANG BERTAKWA
(Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

