MELURUSKAN SAF: MAKNA DAN HUKUMNYA

MELURUSKAN SAF: MAKNA DAN HUKUMNYA

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan para sahabat untuk meluruskan saf dalam salat berjamaah melalui sabdanya,

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ

Luruskanlah saf kalian.” (HR al-Bukhari)

Beliau membimbing para sahabat untuk meluruskan saf sehingga para sahabat benar-benar memahami perintah itu dengan baik.

Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersamaan dengan dikumandangkannya ikamah. Saat beliau menoleh, beliau melihat dada salah seorang sahabat condong ke depan. Beliau pun bersabda,

عِبَادَ اللهِ، لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُم أَوْ لَيُخَالِفُنَّ الله ُبَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

Wahai hamba-hamba Allah, luruskanlah saf kalian atau Allah akan memecah-belah persatuan kalian.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Huruf lam dalam lafaz perintah pada teks bahasa Arab hadis di atas berfungsi sebagai sumpah. Jadi, arti sebenarnya adalah, “Demi Allah, hendaklah kalian meluruskan saf.”

Kalimat tersebut memiliki penekanan dengan tiga bentuk piranti penguat dalam bahasa Arab, yakni sumpah, huruf lam dan nun. Kalimat tersebut berbentuk kalimat informatif yang mengandung peringatan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Luruskanlah saf kalian atau Allah akan memecah belah persatuan kalian.” Yakni memecah-belah pola pikir kalian, sehingga hati kalian juga berselisih.

Tidak diragukan lagi bahwa itu merupakan ancaman terhadap orang yang tidak meluruskan saf. Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa hukum meluruskan saf adalah wajib. Mereka berdalil dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ancaman beliau terhadap orang yang melanggar ajaran atau perintahnya. Beliau memang mengancam orang yang melanggar ajaran meluruskan saf sehingga tidak mungkin dikatakan bahwa hukumnya hanya sunah. Dengan demikian, pendapat yang unggul dalam perkara meluruskan saf adalah bahwa hukum meluruskan saf adalah wajib. Bila jamaah salat tidak meluruskan saf, maka mereka semua berdosa. Itulah pendapat eksplisit dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Tanya: Jika makmum tidak juga meluruskan saf, apakah salat mereka batal?

Jawab: Bisa jadi salat mereka batal, karena mereka meninggalkan perkara yang wajib dalam salat. Bisa jadi pula salat mereka tidak batal, melainkan mereka berdosa. Pendapat kedua adalah lebih kuat dari pendapat pertama, yakni mereka berdosa, tetapi salat mereka tidak batal. Hal itu karena meluruskan saf merupakan kewajiban untuk salat, bukan kewajiban dalam salat, yakni kewajiban di luar substansi salat. Sesuatu yang wajib untuk salat akan membuat seseorang berdosa bila meninggalkannya, tetapi salatnya tidak batal. Azan adalah sesuatu yang wajib untuk salat. Salat tidak batal jika tanpa azan. Meluruskan saf adalah membuat saf satu garis sehingga tidak seorang pun lebih maju ke depan.

Tanya: Apakah yang dijadikan patokan dalam meluruskan saf adalah kaki bagian depan?

Jawab: Tidak. Yang dijadikan patokan adalah bahu, yaitu bagian atas tubuh dan mata kaki, yaitu bagian bawah tubuh. Pelurusan saf dilakukan ketika posisi tubuh tegak lurus. Jika tubuh bongkok, maka bahu tidak dijadikan patokan, karena bahu dan mata kaki tidak segaris lurus lagi. Mata kaki dijadikan patokan karena anggota tubuh itu merupakan pokok sandaran tubuh untuk berdiri. Mata kaki berada di betis paling bawah, sementara betis adalah penopang tubuh, sehingga betis layak dijadikan patokan. Jari-jari kaki tidak bisa dijadikan patokan, karena jari-jari kaki orang berbeda-beda; ada yang panjang dan ada yang pendek. Oleh karena itu, anggota tubuh yang dijadikan patokan adalah mata kaki. Cara meluruskan saf adalah dengan meluruskan garis saf, dengan berdiri sejajar dan bersebelahan, baik saf di samping imam (saat berdua) ataupun di belakang imam.

Tanya: Jika seorang imam dan seorang makmum berdiri untuk salat, di manakah posisi imam?

Jawab: Sejajar dengan makmum. Imam tidak boleh lebih maju dari makmum, tidak seperti pendapat sebagian orang yang menyatakan bahwa imam harus lebih ke depan sedikit dari makmum sehingga imam dan makmum dapat dibedakan. Tentu saja pendapat ini berlawanan dengan teks dalil.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kepala Ibnu Abbas dari arah belakang, lalu meletakkannya di sisi kanan beliau. (HR al-Bukhari) Tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa beliau menarik Ibnu Abbas lebih ke belakang dari posisi beliau. Selain itu, jika imam dan makmum hanya berdua, maka imam dan makmum terhitung satu saf. Bila mereka berdua terhitung satu saf, maka yang disyariatkan adalah membuat saf lurus.

Ada juga makna lain dari pelurusan saf, yakni menyempurnakan saf, yakni istawa (lurus) dalam arti kamula (sempurna), sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Saat ia sudah berusia balig dan istawa (sempurna).”

Kalau kita katakan, saf itu lurus, artinya sempurna, hal itu tidak hanya sebatas meluruskan saf dalam satu garis, tetapi juga meliputi beberapa hal berikut:

1. Meluruskan saf dalam satu garis

Hukum meluruskan saf dalam satu garis menurut pendapat yang paling tepat adalah wajib.

2. Merapatkan saf

Merapatkan saf termasuk bagian dari kesempurnaan saf. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk merapatkan saf dan menganjurkan menyusun saf seperti para malaikat menyusun saf di sisi Rabb mereka, yaitu dengan merapatkan dan menyempurnakan saf satu persatu, dimulai dari bagian paling depan. Namun yang dimaksud dengan merapatkan saf adalah tidak membiarkan celah bagi setan. Selain itu, maksud merapatkan saf di sini bukan berdesak-desakan. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُصُّوا صُفُوفَكُمْ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا، وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ. فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ، كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

Rapatkanlah dan dekatkanlah antara saf dan luruskanlah leher kalian. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku dapat melihat setan menyelinap di sela-sela saf kalian seperti seekor anak kambing.” (HR Abu Dawud dengan sanad yang sahih dan sesuai dengan kriteria Muslim. Lihat Shahih al-Jami’)

Yakni jangan ada celah pada saf sehingga dimasuki setan. Setan biasa memasuki celah-celah saf seperti anak kambing agar dapat mengganggu orang yang sedang salat.

3. Menyempurnakan saf

Yaitu menyempurnakan saf satu persatu dari saf pertama hingga saf terakhir. Menyempurnakan saf termasuk ke dalam makna meluruskan saf. Seseorang tidak boleh masuk ke saf kedua sebelum saf pertama sempurna. Ia harus menyempurnakan saf satu persatu, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلاَّ أنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

Kalau saja kaum muslimin mengetahui keutamaan azan dan saf pertama, kemudian mereka mendapatkannya hanya melalui berundi, mereka pasti berundi.”  (HR al-Bukhari dan Muslim)

Yakni melakukan pengundian untuk mendapatkannya. Sebagaimana ilustrasi berikut ini: Seseorang mendapatkan saf pertama. Ia berkata, “Aku paling berhak mendapatkannya.” Orang yang lain berkata, “Tidak, aku yang lebih berhak.” Orang pertama menanggapi, “Kalau begitu, mari kita berundi. Siapa di antara kita yang beruntung mendapatkan tempat kosong ini.”

Sayang, banyak orang sekarang ini dipermainkan oleh setan. Mereka menganggap bahwa saf pertama hanya setengah saf saja, sehingga mereka langsung mengisi saf kedua. Ketika diperingatkan, “Sempurnakan saf pertama kalian,” mereka saling menoleh kebingungan dan tidak segera mengisi saf pertama. Wal ‘iyadzu billah. Perilaku ini disebabkan ketidaktahuan yang amat parah. Juga karena imam tidak peduli dengan persoalan ini, yakni persoalan meluruskan, menyempurnakan, dan merapatkan saf.

Seorang imam seharusnya memberi peringatan ketika dilihatnya saf belum lurus seperti anak panah dengan berkata, “Luruskanlah saf.” Kalau saf itu tetap bengkok menyerupai busur, imam yang baik tidak akan berhenti memberi peringatan, melainkan ia sendiri yang meluruskan saf dengan menyentuh pundak dan dada makmum dengan tangannya mulai dari ujung saf yang satu ke ujung yang lain sehingga saf benar-benar lurus.

Tanya: Apakah adab seperti itu dilakukan oleh imam-imam di negeri kita?

Jawab: Sama sekali tidak. Jika terjadi kerenggangan saf dan salah seorang jamaah di saf pertama sudah mengisyaratkannya, si imam biasanya meninggalkan tugasnya itu. Ia langsung pergi ke mihrabnya untuk salat. Ia tidak sabar.

Setiap muslim harus bersabar dan membiarkan saudaranya meluruskan saf, sehingga saf betul-betul lurus. Muslim yang pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُم أَوْ لَيُخَالِفُنَّ الله ُبَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

Luruskanlah saf kalian atau Allah akan memecah-belah persatuan kalian,” tetapi tidak segera meluruskan saf tentu sangatlah aneh.

Tanya: Bila dibandingkan dengan saf ketiga, apakah saf kedua dapat disebut sebagai saf pertama, seperti yang dijanjikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلاَّ أنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

Kalau saja kaum muslimin mengetahui keutamaan azan dan saf pertama, kemudian mereka mendapatkannya hanya melalui berundi, mereka pasti berundi.”  (HR al-Bukhari dan Muslim)

Jawab: Secara eksplisit tidak. Sebab saf pertama membawa konsekuensi untuk segera datang ke masjid, sedangkan saf kedua dapat diperoleh, sekalipun imam datang terlambat, padahal segera datang ke masjid merupakan hal yang sangat dianjurkan.

4. Mendekatkan jarak antar saf dan dengan imam

Di antara makna meluruskan saf adalah mendekatkan jarak di antara saf makmum, juga jarak antara makmum dan imam. Itu karena mereka berada dalam satu jamaah, sedangkan kata jamaah diambil dari kata ijtima’ (berkumpul). Berkumpul tidak terwujud dengan berjauhan. Jika jarak antar saf dan juga jarak antara saf pertama dan iman diperdekat, maka jamaah menjadi semakin bagus dan semakin baik.

Kita melihat di sejumlah masjid bahwa antara imam dan saf pertama terdapat jarak yang cukup jauh yang dapat dibuat satu hingga dua saf lagi. Menurut kami, itu terjadi karena ketidaktahuan. Sunahnya adalah imam mendekat ke makmum. Hendaklah makmum juga mendekat ke imam. Antar saf hendaklah juga berdekatan. Itu semua termasuk bentuk pelurusan saf.

5. Mengambil posisi terdekat dengan imam

Di antara makna meluruskan saf dan menyempurnakannya adalah mengambil posisi terdekat dengan imam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Hendaklah (yang) berada di dekatku (di belakangku) dari kalian adalah orang-orang yang berakal dan berilmu. Kemudian diikuti oleh orang-orang berikutnya.” (HR Muslim)

Semakin makmum dekat dengan imam adalah semakin baik. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan makmum untuk mendekat ke imam pada salat Jumat. Dengan mendekat ke imam, ia dekat dengan salat dan dekat dengan khotbah.

Mendekat ke imam dianjurkan. Sayangnya, kita sering menyaksikan orang yang melihat tempat longgar di dekat imam malah mencari saf paling belakang di dekat dinding. Perbuatan itu jauh dari ajaran sunah.

6. Mendahulukan saf sebelah kanan daripada saf sebelah kiri

Saf di sebelah kanan imam (di belakang imam) adalah lebih baik daripada saf di sebelah kiri. Akan tetapi, keutamaan ini tidak bersifat mutlak, seperti halnya hukum pada saf pertama. Jika bersifat mutlak, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sempurnakanlah saf bagian kanan satu persatu,” sebagaimana perintah beliau untuk saf pertama,

أَتِمُّوا الصَّفَّ الْمُقَدَّمَ ثُمَّ الَّذِي يَلِيهِ فَمَا كَانَ مِنْ نَقْصٍ فَلْيَكُنْ فِي الصَّفِّ الْمُؤَخَّرِ

Sempurnakanlah saf pertama, kemudian saf berikutnya. Kalaupun ada saf yang kurang, maka hendaklah itu saf belakang.” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i)

Jika memang tidak disyariatkan untuk mulai membentuk saf dari kanan terus-menerus hingga saf sebelah kanan sempurna, kita juga perlu meneliti dasar-dasar syariat bila itu dilakukan di sebelah kiri. Ternyata hasilnya sama. Jika posisi sebelah kanan dan sebelah kiri sudah sama, maka posisi kanan lebih baik.

Misalnya, pada suatu saf terdapat lima orang di sebelah kanan imam dan lima orang di sebelah kiri. Lalu orang kesebelas datang. Kita katakan kepadanya, “Isilah sebelah kanan, karena sebelah kanan lebih baik,” karena jumlah orang di sebelah kiri dan kanan sama atau hampir sama. Jika jarak ke kanan terlalu jauh, tidak diragukan lagi bahwa sebelah kiri yang dekat lebih baik daripada sebelah kanan yang jauh. Itu ditunjukkan oleh perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, yaitu ketika jumlah imam dan makmum tiga orang, maka dua orang makmum beliau perintahkan berada di sebelah kanan dan sebelah kiri di belakang imam. Ini menunjukkan bahwa sebelah kanan tidak lebih baik secara mutlak. Seandainya lebih baik secara mutlak, tentu kedua makmum tersebut beliau perintahkan untuk memenuhi saf sebelah kanan terlebih dahulu. Tetapi ternyata beliau memerintahkan satu orang mengisi sebelah kanan dan satu orang lagi mengisi sebelah kiri di belakang imam sehingga posisi imam berada di tengah, dan sehingga tidak terjadi ketimpangan saf.

7. Memosisikan kaum perempuan dalam saf tersendiri

Di antara perwujudan meluruskan saf adalah memosisikan kaum perempuan dalam saf tersendiri. Artinya, kaum perempuan berada di belakang saf kaum laki-laki, tidak bercampur dengan lawan jenisnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا، وَشَرُّهَا أوَّلُهَا

Sebaik-baik saf laki-laki adalah saf paling depan, dan seburuk-buruknya adalah saf paling belakang. Sebaik-baik saf perempuan adalah saf paling belakang, dan seburuk-buruknya adalah saf paling depan.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa posisi saf perempuan yang semakin ke belakang sehingga semakin jauh dari saf laki-laki adalah semakin baik. Dengan demikian, yang terbaik bagi perempuan adalah menjauhkan safnya dari saf laki-laki.

Apabila saf perempuan dekat dengan saf laki-laki, maka godaan akan muncul. Hal yang lebih parah lagi adalah percampurbauran kaum laki-laki dan kaum perempuan. Misalnya, seorang perempuan berada di sebelah laki-laki, atau letak saf perempuan terapit di antara saf-saf laki-laki, dan sebagainya. Semua itu tidak pantas terjadi, bahkan lebih lugas bila diharamkan, karena dapat menimbulkan godaan syahwat. Seandainya godaan tidak muncul, seperti seorang perempuan yang berada di sebelah saf laki-laki mahramnya, tetap saja hal itu lebih baik dijauhi, tetap lebih afdal dihindari.

Tanya: Apakah di antara perwujudan meluruskan saf adalah laki-laki dewasa berada di saf lebih depan dari anak-anak?

Jawab: Sebagian ulama berpendapat bahwa di antara aplikasi pelurusan saf adalah memosisikan laki-laki yang sudah balig di saf persis di belakang imam, sementara anak-anak kecil di saf belakang. Kalau ada seratus orang laki-laki balig yang cukup memenuhi satu saf dan seratus anak kecil yang bisa memenuhi setengah saf, menurut pendapat mereka seratus laki-laki balig itu  diposisikan di saf pertama, sedangkan anak-anak kecil di saf kedua. Kalau ada anak-anak maju ke saf pertama, laki-laki balig harus menyuruh mereka ke belakang, karena syarat saf yang sempurna adalah bila kaum laki-laki balig berada di saf depan. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah (yang) berada di dekatku (di belakangku) dari kalian adalah orang-orang yang berakal dan berilmu.” (HR Muslim)

Namun keabsahan pendapat ini perlu diteliti ulang. Kami berpendapat bahwa bila anak-anak kecil sudah berada di saf terdepan, maka mereka lebih berhak dengan saf tersebut daripada laki-laki balig yang datang belakangan. Ini berdasarkan keumuman dalil, “Barangsiapa lebih dahulu mendapatkan sesuatu dari yang lain (saf depan), maka ia lebih berhak menempatinya.” (HR Abu Dawud dengan  sanad yang lemah. Lihat Irwa’ al-Ghalil)

Masjid adalah rumah Allah yang menyamaratakan hamba-hamba Allah. Anak-anak kecil yang mendapatkan saf pertama terlebih dahulu lalu duduk di situ boleh tetap berada di tempatnya. Jika kita menyuruh mereka pindah ke saf belakang, memosisikan mereka dalam satu saf tersendiri, besar kemungkinan mereka akan bermain-main. Mereka akan mengobrol, atau tertawa-tawa, terutama saat mengetahui imam keliru atau melihat orang yang baru masuk ke masjid.

Jika laki-laki dewasa yang baru hadir di masjid saat saf telah tersusun membiarkan anak-anak kecil itu tetap dalam satu saf di depan mereka, besar kemungkinan anak-anak itu mengganggu makmum lainnya. Di antara mereka ada yang mondar-mandir, ada yang bermain-main, ada yang menulis-nulis, ada yang melihat-lihat jam tangan, bahkan ada yang memukul temannya. Perbuatan mereka tentu menyibukkan orang-orang yang berada di belakang mereka. Sebaliknya, jika mereka yang baru hadir menyuruh mereka keluar dari saf depan, mungkin akan terjadi dua hal:

Pertama: Anak-anak menjadi enggan ke masjid

Meskipun mereka masih kecil, mereka punya perasaan. Jika kita mengusir mereka dari tempatnya di masjid, bisa jadi perbuatan itu menyinggung perasaan mereka. Padahal mereka datang ke masjid benar-benar untuk salat. Mereka telah berwudu di rumah, mengenakan pakaian yang paling bagus, duduk di safnya, salat semampunya, kemudian seseorang datang dan mengusir mereka dengan berkata, “Pergi ke belakang!” Ini akan menimbulkan kesan negatif terhadap masjid pada diri mereka sehingga mereka enggan ke masjid.

Kedua: Anak-anak tidak akan melupakan perlakuan orang yang telah mengeluarkan mereka dari safnya dan menyuruhnya ke belakang.

Kesimpulannya, pendapat yang mengatakan bahwa anak-anak berada di saf belakang adalah lemah. Adapun sabda Nabi “Hendaklah (yang) berada di dekatku (di belakangku) dari kalian adalah orang-orang yang berakal dan berilmu,” (HR Muslim) merupakan anjuran agar orang-orang datang lebih awal, bukan untuk mengusir anak-anak dari saf terdepan.

8. Setiap saf mengikuti saf di depannya

Yaitu, ketika suara imam tidak terdengar jelas atau tidak seorang pun membantu menyampaikan suara iman. Dalam keadaan demikian saf yang berada di belakang mengikuti saf yang berada di depan. Oleh karena itu, para ulama menegaskan, “Orang yang berada di luar masjid tidak sah bermakmum kecuali ia masih melihat imam atau sebagian makmum.” Namun demikian, pelurusan saf dengan cara pertama, yakni dengan mengikuti imam hukumnya wajib, menurut pendapat yang benar.

Tanya: Ada hadis,

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu berjalan menuju salah satu rumah Allah (masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka satu langkah kakinya akan menghapuskan dosanya dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Apakah orang yang keluar rumah menuju masjid, lalu berwudu di tempat wudu di masjid tidak mendapatkan pahala seperti orang yang disebutkan dalam hadis itu?

Jawab: Secara eksplisit hadis itu tidak menunjukkan bahwa orang itu mendapatkan pahala yang sama, karena ada perbedaan antara orang yang keluar rumah ke masjid dalam keadaan sudah siap untuk salat dan orang yang datang ke masjid tanpa bersiap untuk salat.

Baca juga: RUKUN-RUKUN SALAT

Baca juga: KHUSYUK DALAM SALAT

Baca juga: BERDIRI SAAT IKAMAH

Baca juga: NIAT ADALAH SALAH SATU SYARAT SAH SALAT

Baca juga: BEBERAPA CATATAN TENTANG AZAN DAN IKAMAH

Baca juga: PERHIASAN DALAM SALAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Fikih