KEMUNCULAN SEKTE KHAWARIJ

KEMUNCULAN SEKTE KHAWARIJ

Di antara fitnah pertama yang pengaruhnya paling besar dalam memecah belah kaum muslimin adalah kemunculan sekte Khawarij. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau taat kepada imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, setelah kasus Tahkim yang terjadi antara Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu seusai Perang Shiffin. Mereka menetap di sebuah desa dekat Kufah yang bemama Harura. Di antara pemikiran sesat mereka yang paling menonjol adalah menuduh Utsman radhiyallahu ‘anhu melakukan penyimpangan di akhir masa kepemimpinannya sehingga ia wajib dibunuh atau dilengserkan. Di antara pemikiran sesat mereka yang lain adalah mengkafirkan pelaku dosa besar selama belum bertobat, dan menghalalkan darah penentang mereka dari kalangan umat Islam, sehingga mereka membuat kerusakan dalam Islam dan menimbulkan bencana. Meski demikian mereka mengklaim diri sebagai ahli ilmu dan giat beribadah. Di antara tokoh pertama mereka adalah Dzul Khuwaishirah dan terakhir Dzuts Tsadyah. Merekalah orang-orang yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَيَخْرُجُ قَومٌ  فِي آخِرِ الزَّمَانِ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُوْلُوْنَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ إِيْمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ. فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ فِيْ قَتْلِهُمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَاللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Di akhir zaman nanti akan muncul komunitas yang terdiri dari anak-anak ingusan yang berpikiran dangkal. Mereka berbicara dengan ucapan makhluk terbaik dan membaca alQuran, tetapi iman mereka tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya. Bila kalian menemukan mereka, bunuhlah mereka! Siapa saja yang membunuh mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada Hari Kiamat.” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tengah membagi-bagikan harta rampasan perang, seorang laki-laki Bani Tamim yang bernama Dzul Khuwaishirah mendatangi beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah engkau!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكَ، وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ؟

Celaka kamu! Siapa yang akan berbuat adil bila aku tidak berbuat adil?

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Izinkanlah aku membunuhnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْهُ، فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا، يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ

Biarkan ia! Ia akan memiliki banyak pengikut. Salah seorang dari kalian akan menganggap remeh salat dan puasanya dibandingkan salat dan puasa meraka. Mereka membaca al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Ciri-ciri mereka adalah (dipimpin oleh) seorang laki-laki berkulit hitam yang salah satu lengan atasnya terdapat seperti onggokan daging yang bergerak-gerak.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

أَنَّ فِيهِمْ رَجُلًا لَهُ عَضُدٌ لَيْسَ لَهُ ذِرَاعٌ، عَلَى عَضُدِهِ مِثْلُ حَلَمَةِ الثَّدْيِ عَلَيْهِ شَعَرَاتٌ بِيضٌ

Di antara mereka ada seorang laki-laki yang memiliki lengan atas tetapi tidak memiliki lengan bawah. Di lengan atasnya ada seperti puting susu yang padanya banyak bulu putih.”

Abu Sa’id lebih lanjut berkata: Aku bersaksi bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku juga bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib memerangi mereka dan aku ikut bersamanya. Lalu Ali menyuruh agar laki-laki tersebut dicari. Kemudian dia mencari sendiri dan menemukannya. Kemudian laki-laki tersebut dibawa kepadanya dan aku melihat ciri-ciri yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada pada laki-laki tersebut. (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa-i, dan Malik)

Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar membunuh mereka dan penjelasan bahwa yang melakukannya akan mendapat pahala serta perbuatan para sahabat yang memerangi mereka merupakan bukti jelas bahwa kelompok tersebut merupakan kelompok sesat yang jauh dari Islam.

Imam Bukhari berkata, “Ibnu Umar radhiyallalhu ‘anhuma berpendapat bahwa mereka (sekte Khawarij) adalah seburuk-buruk makhluk Allah. Ia berkata, ‘Mereka menafsirkan ayat-ayat yang turun untuk orang-orang kafir, lalu menerapkannya pada orang-orang beriman.’”

al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang mereka, “Fitnah yang timbul karena sepak terjang mereka sangat besar dan mereka semakin lancang dalam menetapkan akidah mereka yang rusak. Mereka membatalkan hukuman rajam bagi pelaku zina muhshan, memotong tangan pencuri dari ketiak, mewajibkan salat atas wanita-wanita haid, dan mengkafirkan orang-orang yang tidak melakukan amar makruf nahi munkar.”

Di antara kesesatan Khawarij adalah mereka membunuh orang-orang Islam yang mereka lewati, sementara orang-orang kafir dan musyrik mereka biarkan. Pernah suatu ketika mereka melewati seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu ‘anhu yang sedang bersama istrinya. Mereka membunuhnya dan membelah perut istrinya, lalu mengeluarkan bayinya.

Ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengetahui hal itu, ia menanyakan kepada mereka “Siapakah yang membunuhnya?”

Mereka menjawab, “Kami semua membunuhnya.”

Maka Ali menyiapkan pasukan untuk memerangi mereka dan bertemu mereka dalam pertempuran an-Nahrawan yang terkenal dan berhasil mengalahkan mereka.

Sekte-sekte Khawarij paling besar ada enam, yaitu: al-Azariqah, an-Najdat, ash-Shafariyyah, al-Ajaridah, al-Ibadhiyyah, dan ats-Tsa’alibah. Sisanya adalah cabang-cabang mereka.

Yang sangat menyedihkan adalah kita mendapati di zaman sekarang ada kelompok yang berusaha menghidupkan kembali pemikiran kelompok sesat ini dan mengangkat paham Khawarij ke permukaan, khususnya dalam masalah takfir. Oleh karena itu, hendaklah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dan mengingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ: يَا كَافِرٌ، فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا

Barangsiapa berkata kepada saudaranya, ‘Wahai orang kafir,’ maka ucapan itu akan kembali kepada salah satunya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلٍ أَخَاهُ،  فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya, maka ucapan itu akan kembali kepada salah satunya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

Siapa saja yang berkata kepada saudaranya ‘Wahai orang kafir,’ maka ucapan itu akan kembali kepada salah satunya bila memang seperti yang dikatakannya. Bila tidak, maka ucapan itu akan kembali kepada dirinya.” (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Malik)

Baca juga: PEREMPUAN BERPAKAIAN TETAPI TELANJANG

(Mushthafa Abu an-Nashr as-Silbi)

Akidah