HUKUM AIR KENCING DAN KOTORAN HEWAN

HUKUM AIR KENCING DAN KOTORAN HEWAN

Hewan terdiri dari dua macam: hewan yang dagingnya halal dimakan dan hewan yang dagingnya tidak halal dimakan.

Kencing dan kotoran hewan yang dagingnya halal dimakan adalah suci. Demikian pendapat yang benar dan pendapat-pendapat ulama.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Beberapa orang dari Ukal atau dari suku Urainah tiba di Madinah. Mereka merasa tidak cocok dengan udara Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan beberapa orang sahabat untuk memberikan kepada mereka beberapa ekor unta yang banyak air susunya sekaligus menyuruh mereka keluar meninggalkan Madinah. Mereka pun meminum kencing dan air susu unta-unta itu. (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa-i)

Hadis ini dijadikan dalil bagi mereka yang berpendapat sucinya air kencing hewan yang dagingnya halal dimakan dan yang demikian ini adalah pendapat Malik, Ahmad dan lainnya.

asy-Syaukani berkata, “Pendapat tersebut juga dikuatkan bahwa setiap sesuatu itu adalah suci hingga ada dalil yang menetapkan kenajisannya.”

Kencing dan kotoran hewan yang dagingnya tidak halal dimakan, menurut sebagian ulama adalah najis. Mereka berhujah dengan hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dimana ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi jamban. Beliau menyuruhku untuk membawakan untuknya tiga batu. Dua batu telah kudapatkan. Aku masih mencari batu yang ketiga, namun tidak kutemukan. Sebagai gantinya aku mengambil satu kotoran hewan yang sudah mengering dan menyerahkannya kepada beliau. Beliau mengambil dua batu dan membuang kotoran. Beliau bersabda,

هِيَ رِجْسٌ

Ini adalah najis (rijsun).” (HR al-Bukhari, an-Nasa-i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah ada tambahan: Lalu aku mendapatkan dua batu untuk beliau dan kotoran keledai.

Beberapa ulama lainnya berpendapat sucinya kencing dan kotoran hewan yang dagingnya tidak halal dimakan kecuali kotoran keledai, berdasarkan hadis di atas.

Shiddiq Hasan Khan rahimahullah berkata, “Kebenaran yang mesti diterima adalah menghukumi kenajisan sesuatu yang kenajisannya merupakan hal yang dapat diterima sebagai kebenaran di dalam agama, yaitu kencing dan kotoran manusia. Adapun selain itu, jika terdapat dalil yang menunjukkan kenajisannya seperti kotoran keledai sebagaimana hadis Ibnu Mas’ud, maka wajib dihukumi demikian (najis). Jika tidak terdapat dalil yang menunjukkan kenajisannya, maka asal sesuatu itu tidak ada’ cukup untuk meniadakan bentuk peribadatan bahwa sesuatu itu adalah najis tanpa dalil, karena asal pada tiap-tiap sesuatu adalah suci, dan menghukumi kenajisannya adalah hukum pembebanan yang merata kepada banyak orang, dan ini tidak halal kecuali setelah tegaknya hujah.

Baca juga: HUKUM AIR KENCING BAYI

(Syekh Abu Abdurrahman Adil bin Yusuf al-Azazy)

Fikih