HIDUP MEWAH DAN DAMPAK BURUKNYA

HIDUP MEWAH DAN DAMPAK BURUKNYA

Allah Ta’ala berfirman:

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah). Tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu. Maka, sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS al-Isra’: 16)

Kata ‘al-mutrif’ pada ayat di atas bermakna orang yang menikmati kelezatan dan syahwat dunia serba mewah. Maksud ayat tersebut adalah bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah agar melakukan ketaatan kepada Allah. Namun, mereka enggan melaksanakannya. Bahkan mereka melakukan kefasikan dan kerusakan. Oleh karena itu, mereka berhak mendapatkan siksa dan kehancuran.

Dan Allah Ta’ala telah memberitahukan tentang kehidupan orang-orang yang hidup mewah, bahwa telah datang kepada mereka ayat-ayat Allah yang mereka diperingatkan dengannya. Namun mereka sombong dan berpaling darinya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mengazab mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

حَتّٰٓى اِذَآ اَخَذْنَا مُتْرَفِيْهِمْ بِالْعَذَابِ اِذَا هُمْ يَجْـَٔرُوْنَ ۗ لَا تَجْـَٔرُوا الْيَوْمَۖ اِنَّكُمْ مِّنَّا لَا تُنْصَرُوْنَ قَدْ كَانَتْ اٰيٰتِيْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُوْنَ ۙ مُسْتَكْبِرِيْنَۙ بِهٖ سٰمِرًا تَهْجُرُوْنَ

Hingga apabila Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, dengan serta merta mereka berteriak minta tolong. Janganlah kalian berteriak minta tolong pada hari itu. Sesungguhnya kalian tiada akan mendapat pertolongan dari Kami. Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (al-Qur’an) selalu dibacakan kepada kalian. Maka kalian selalu berpaling ke belakang dengan menyombongkan diri terhadap al-Qur’an dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kalian bercakap-cakap di malam hari.” (QS al-Mu’minun: 64-67)

Allah Ta’ala telah memberitahukan bahwa hidup mewah adalah sifat orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاَصْحٰبُ الشِّمَالِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الشِّمَالِۗ فِيْ سَمُوْمٍ وَّحَمِيْمٍۙ وَّظِلٍّ مِّنْ يَّحْمُوْمٍۙ لَّا بَارِدٍ وَّلَا كَرِيْمٍ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُتْرَفِيْنَ

Dan golongan kiri. Siapakah golongan kiri itu? (Mereka) dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam yang tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup mewah.” (QS al-Waqi’ah: 41-45)

Maksudnya, mereka hidup mewah dan terjerumus kepada syahwat dan kelezatan dunia. Allah Ta’ala memberitahukan bahwa hidup mewah dapat berdampak buruk bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala bercerita tentang Nabi Shalih ketika dia memberi peringatan kepada kaum Tsamud. Mereka adalah bangsa Arab yang menempati kota batu yang terletak di antara lembah al-Qura dan negeri Syam. Tempat tinggal mereka cukup terkenal, dan sekarang disebut dengan Mada’in Shalih.

Allah Ta’ala berfirman:

اَتُتْرَكُوْنَ فِيْ مَا هٰهُنَآ اٰمِنِيْنَ ۙ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍ ۙ وَّزُرُوْعٍ وَّنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيْمٌ ۚ وَتَنْحِتُوْنَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا فٰرِهِيْنَ

Adakah kalian akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri kalian ini) dengan aman, di kebun-kebun serta mata air, dan tanam-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut. Dan kalian pahat sebagian gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin.” (QS al-Syu’ara’: 146-149)

Hingga Allah Ta’ala berfirman:

فَاَخَذَهُمُ الْعَذَابُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ

Maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahapenyayang.” (QS al-Syu’ara’: 158-159)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman untuk memberitahukan dan memperingatkan kaum Tsamud bahwa siksa Allah akan turun kepada mereka. Allah Ta’ala juga mengingatkan mereka akan nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka berupa rezeki yang berlimpah ruah, menjadikan mereka aman dari segala bahaya, memberi mereka kebun-kebun yang penuh dengan tanaman, mengalirkan bagi mereka air yang mengalir deras dari mata air, dan memberikan mereka tanaman dan buah-buahan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:

وَنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيْمٌ

“…dan tanam-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut” ketika basah dan menjulur. Selain itu, kalian pahat dengan rajin sebagian gunung untuk dijadikan rumah-rumah.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan ulama lainnya berkata ‘memahatnya dengan baik’. Dalam riwayat lain disebutkan ‘memahatnya dengan rakus dan melampaui batas’. Inilah pendapat yang dipilih oleh Mujahid dan jemaah ahli tafsir. Tidak ada kontradiksi di antara kedua pendapat tersebut, sebab sesungguhnya mereka membuat rumah-rumah yang terukir di gunung-gunung secara liar dan melampui batas demi kesombongan dan sia-sia, bukan untuk tempat tinggal. Mereka sangat profesional dalam memahat dan mengukir batu-batuan. Seperti itulah yang disimpulkan tentang keadaan mereka oleh orang yang pernah melihat tempat tinggal mereka.”

Yang menjadi penekanan kita di sini adalah bahwa mereka terjebak dalam gaya hidup mewah sehingga mereka mendustakan para rasul. Akibatnya, mereka binasa di dunia dan di akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa pada Hari Kiamat kelak orang-orang yang hidup mewah akan melupakan semua kenikmatan yang pernah mereka nikmati selama hidup di dunia.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً. ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ. وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ. فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ. مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ، وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

Akan didatangkan pada Hari Kiamat seorang penghuni Neraka yang kenikmatannya paling banyak selama di dunia. Dia dicelupkan ke dalam Neraka satu kali saja. Dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan sedikit saja selama hidupmu? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan sedikit saja?’ Dia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.’

Didatangkan pula seorang penghuni Surga yang paling sengasara di dunia. Dia dicelupkan ke dalam Surga satu kali saja. Dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan sekali saja selama hidupmu? Apakah engkau pernah merasakan kesusahan sekali saja?’ Dia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabbku. Aku tidak pernah merasakan kesengsaraan sama sekali, dan aku tidak pernah merasakan kesusahan sedikit pun.” (HR Muslim)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling jauh dari gaya hidup mewah.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang tidur dengan beralas tikar kasar sehingga membekas di pinggang beliau. Umar menangis dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi) penuh dengan kemewahan dengan apa yang mereka miliki, sedangkan engkau adalah Rasulullah. Mereka dan engkau adalah makhluk pilihan Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الْآخِرَةُ

Apakah engkau tidak rela jika mereka memiliki dunia sedangkan engkau memiliki akhirat?” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Di antara cermin kehidupan mewah pada zaman sekarang adalah tenggelam dalam memenuhi kebutuhan sekunder secara berlebihan. Contohnya adalah keluarga yang mengganti perabot rumah tangga setahun sekali meskipun perabot lama masih bagus. Mereka membelinya dengan harga yang sangat mahal.

Di antara bentuk kemewahan adalah keluarga yang membeli makanan dan minuman setiap hari dari restoran mahal, padahal mereka tidak membutuhkannya.

Di antara bentuk kemewahan adalah perempuan yang memakai pakaian yang berbeda-beda di setiap pesta dan resepsi pernikahan. Pakaian-pakaian tersebut tidak dikenakan kecuali satu kali saja. Mereka harus membayar mahal untuk gaya hidup seperti itu.

Di antara bentuk kemewahan adalah orang yang berwisata setiap tahun. Mereka mengeluarkan uang yang banyak untuk hal tersebut walaupun harus berutang.

Masih banyak bentuk kemewahan lainnya.

Dampak Buruk Gaya Hidup Mewah

Dampak buruk gaya hidup mewah adalah:

Pertama. Munculnya berbagai macam penyakit seperti kegemukan, liver, dan stroke.

Kedua. Gaya hidup seperti ini menjerumuskan pelakunya kepada kemalasan, hidup santai, dan bergantung kepada dunia sehingga memudahkan musuh menguasai umat ini,  merusak akidah mereka, dan mengeksploitasi kekayaan alam yang tersimpan di dalam negari mereka. Umat Islam harus memroyeksikan diri sebagai umat pejuang, kuat, serta mempersiapkan diri untuk berdakwah kepada Allah dan menyebarkan agama ini di bumi belahan barat dan timur dan mengeluarkan orang-orang dari kegelapan kesyirikan menuju cahaya tauhid. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan bekerja keras, bukan dengan hidup mewah dan santai.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ

Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu.’” (QS at-Taubah: 105)

Ketiga. Hidup mewah mengakibatkan tersalurnya sumber daya dan potensi umat Islam pada perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat. Umat Islam sangat membutuhkan pemanfaatan kekayaan untuk membangun kekuatan ekonomi dan militer sehingga menjadi umat yang memiliki harga diri di hadapan negara-negara lain.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian.” (QS al-Anfal: 60)

Keempat. Hidup mewah membuat umat Islam lemah dan menggantungkan diri pada uluran tangan orang lain serta tidak berdiri pada sumber daya pemuda dan potensi mereka. Keadaan ini memaksa mereka tunduk pada kekuatan musuh, kekayaan mereka terperas, agama mereka rusak, dan banyak kerusakan lainnya. Hal ini terjadi bila gaya hidup mewah hanya terbatas pada perkara-perkara yang mubah. Jika sudah mengarah pada perkara yang diharamkan, maka perkaranya menjadi lebih bahaya lagi. Itulah lonceng kehancuran dan kebinasaan sebagaimana disebutkan di dalam ayat-ayat sebelumnya.

Baca juga: FENOMENA DAN GEJALA LEMAH IMAN

Baca juga: DUNIA SEMAKIN BERDEKATAN

Baca juga: ZUHUD TERHADAP DUNIA

(Dr Amin bin ‘Abdullah asy-Syaqawi)

Serba-Serbi