BERPAMITAN KETIKA HENDAK BEPERGIAN

BERPAMITAN KETIKA HENDAK BEPERGIAN

Di antara adab safar (bepergian) adalah bahwa orang yang hendak bepergian dianjurkan untuk berpamitan (mengucapkan kata-kata perpisahan) kepada keluarga, kerabat, dan saudara-saudaranya.

Ibnu Abdul Barr rahimahullah berkata, “Jika salah seorang dari kalian hendak bepergian, hendaklah ia mengucapkan salam perpisahan kepada saudara-saudaranya. Sesungguhnya Allah menciptakan keberkahan di dalam doanya.”

asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Sunahnya adalah jika seseorang datang dari bepergian, hendaklah ia mendatangi saudara-saudaranya dan mengucapkan salam kepada mereka. Jika ia hendak bepergian, hendaklah ia mendatangi saudara-saudaranya untuk berpamitan kepada mereka dan untuk mendapatkan doa mereka.”

Berpamitan sebelum bepergian adalah sunah yang telah ditinggalkan. Sangat sedikit orang mengamalkannya.

Ketahuilah bahwa sunah yang dimaksud adalah orang yang hendak bepergian berpamitan dengan mengucapkan doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Ibnu Umar radhyiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpamitan kepada kami (sebelum safar), kemudian berdoa,

‏أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

‘Astaudi’ullah diinaka wa amaanataka wa khawaatiima amalika (Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu, dan penutup amalanmu).” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi. Disahihkan oleh Syekh Ahmad Syakir)

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku titipkan kepada Allah agamamu…” Maksunya adalah, “Aku memohon kepada Allah agar Dia menjaga agamamu.”

Sabda beliau, “…amanahmu.” al-Khaththabi berkata, “Amanah di sini adalah keluarganya dan siapa saja yang ia tinggalkan, demikian juga hartanya yang dijaga dan diwenangkan kepada orang kepercayaannya atau wakilnya atau siapa saja yang bermakna sama dengan keduanya.

Agama disebutkan bersamaan dengan semua macam benda titipan karena safar merupakan sesuatu yang dikhawatirkan dan berbahaya. Orang yang bepergian kadang-kadang mengalami kesulitan atau kelelahan sehingga ia menyepelekan sebagian urusan yang berhubungan dengan agama. Oleh karena itu, orang yang bepergian berdoa untuk orang-orang yang ditinggalkannya agar mereka mendapatkan pertolongan dan taufik dari Allah Ta’ala dalam keduanya.”

Di antara adab bepergian adalah orang yang ditinggalkan dianjurkan mengucapkan kata-kata perpisahan kepada orang yang hendak bepergian.

Dari Anas radhyiallahu ‘anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Aku berniat untuk melakukan perjalanan. Oleh karena itu, berilah aku bekal.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى

Zawwadaka Allahut-taqwa (Semoga Allah memberimu takwa sebagai bekalmu).

Dia berkata, ‘Berilah aku lebih.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَغَفَرَ ذَنْبَكَ

Wa ghafara dzanbaka (Dan semoga Dia mengampuni dosamu).

Dia berkata lagi, ‘Berilah aku lebih banyak. Semoga ayahku ditebus untukmu dan ibuku.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ ‏

Wa yassara lakal-khaira haitsu ma kunta (Dan semoga Dia memudahkan kebaikan untukmu dimana pun kamu berada).’” (HR at-Tirmidzi. Disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi).

Seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam hendak melakukan perjalanan. Dia datang untuk meminta izin melakukan perjalanan sambil meminta bekal. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendoakannya dengan doa yang manfaatnya menjadi bekalnya. Bekalnya berupa melaksanakan perintah-perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Selanjutnya dia mengulangi permintaan tambahan dengan harapan memperoleh kebaikan dan keberkahan doa. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabulkan permintaan tambahannya untuk menyenangkan hatinya. Beliau shallallahu alaihi wa sallam berdoa, “Semoga Dia (Allah) mengampuni dosamu.” Selanjutnya orang itu mengulangi permintaan tambahan dengan harapan memperoleh kebaikan dan keberkahan doa. Beliau shallallahu alaihi wa sallam mengakhiri doanya untuk orang itu dengan penutup yang indah dan mencakup kebaikan dan keberuntungan. Beliau mendoakannya agar Allah memudahkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, di setiap tempat yang ia tempati dan di segala masa yang ia tempuh.

Baca juga: ADAB KELUAR RUMAH

Baca juga: DI ANTARA ADAB MEMINTA IZIN

Baca juga: ADAB AZAN

(Fuad bin Abdul ‘Aziz asy-Syalhub)

Adab