BERJIHAD MELAWAN ORANG LAIN

BERJIHAD MELAWAN ORANG LAIN

Berjihad melawan orang lain adalah berusaha dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga melawan orang lain. Berjihad melawan orang lain terdiri dari berjihad melawan orang yang mengaku muslim dan berjihad melawan musuh.

🅰️ Berjihad Melawan Orang yang Mengaku Muslim

Salah satu bentuk berjihad melawan orang lain adalah berjihad melawan orang yang mengaku muslim tetapi bukan muslim, seperti orang munafik dan ahli bidah. Berjihad melawan mereka tidak dilakukan dengan senjata, karena mereka menampakkan keislaman. Mereka harus dilawan dengan ilmu dan penjelasan.

Allah Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۗوَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS at-Taubah: 73)

Ayat di atas menjelaskan bahwa berjihad melawan orang kafir adalah dengan senjata, dan berjihad melawan orang munafik adalah dengan ilmu dan penjelasan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar bahwa di sekitar beliau terdapat banyak orang munafik. Beliau melarang para sahabat membunuh mereka. Ketika seorang sahabat ingin membunuh orang munafik, beliau melarangnya dan memberi alasan,

لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ بِأَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ

Agar orang-orang tidak mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabatnya.” (HR al-Bukhari)

Begitu pula dengan ahli bidah yang berlindung di bawah panji-panji Islam, kita tidak boleh melawan mereka dengan senjata, tetapi dengan ilmu dan argumen yang kuat. Oleh karena itu, generasi muda Islam wajib membekali diri dengan ilmu yang kuat. Tidak seperti kebanyakan generasi sekarang yang mengaji ilmu sebatas kulitnya saja. Ilmu tidak menghunjam ke dalam sanubarinya. Mereka menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan ijazah dan gelar. Padahal hakikat ilmu adalah ilmu yang menghunjam ke dalam hati dan menyatu bersamanya, sehingga orang yang menguasai disiplin ilmu tertentu tidak mendapatkan satu masalah pun kecuali menjelaskannya secara rinci sesuai dengan dalil al-Qur’an, sunah, dan kias yang benar.

Masyarakat sekarang membutuhkan ilmu yang kuat, karena bidah menyelimuti negeri kita, terutama di era keterbukaan. Banyak generasi muda kita menuntut ilmu ke luar negeri. Sebaliknya, banyak orang lain masuk ke negeri kita dengan membawa pemikiran dan akidah yang tidak benar, sehingga kegelapan bidah mulai menyelimuti. Untuk menghadapi keadaan seperti ini kita membutuhkan banyak cahaya ilmu yang menerangi lorong-lorong kegelapan agar kita tidak terperosok ke dalam kegelapan bidah yang penuh dengan kemungkaran, seperti yang terjadi di negeri-negeri lain. Bahkan sampai ke tataran kufur. Na’udzubillah.

Oleh karena itu, diperlukan kesungguhan untuk melawan para penebar bidah dengan ilmu dan argumen yang kuat. Kita perlu menjelaskan kebatilan yang mereka pegang dengan argumen-argumen yang kuat dari al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, perkataan para ulama salafush shalih, para sahabat, tabiin dan para imam yang mendapatkan petunjuk setelah mereka.

🅱️ Berjihad Melawan Musuh

Bentuk lain dari berjihad melawan orang lain adalah berjihad melawan musuh yang terang-terangan menampakkan permusuhan terhadap Islam, seperti orang Yahudi dan Nasrani dengan senjata. Orang-orang Nasrani mengklaim diri sebagai pengikut Isa al-Masih, padahal Isa ‘alaihissalam berlepas dari kesesatan mereka. Seandainya Isa turun ke bumi, ia pasti memerangi mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua ilah selain Allah?’’” (QS al-Maidah: 116)

Apa jawaban Nabi Isa ‘alaihissalam?

قَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّ ۗاِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗ ۗتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَآ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَ ۗاِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ؛ مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَآ اَمَرْتَنِيْ بِهٖٓ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۚوَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ ۗوَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

Isa menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Mahamengetahui segala yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, (yaitu) ‘Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu.’ Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Mahamenyaksikan segala sesuatu.’” (QS al-Maidah: 116-117)

Nabi Isa putra Maryam ‘alaihissalam menyampaikan perintah Allah Taala, “Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabb kalian,” tetapi mereka menyembah Nabi Isa, Maryam, dan Allah. Mereka berkata, “Sesungguhnya Allah adalah satu di antara tiga.” Klaim mereka bahwa mereka adalah pengikut Nabi Isa tidak bisa diterima, karena Nabi Isa sendiri berlepas diri di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani, orang-orang musyrik seperti Buda, Hindu dan komunis adalah musuh kaum muslimin yang harus diperangi sehingga kalimat Allah tinggi. Sayangnya, kaum muslimin sekarang ini sangat lemah. Mereka saling bermusuhan, melebihi permusuhan dengan musuh-musuh mereka. Keadaan ini menyebabkan musuh mudah menguasai mereka dan memperlakukan mereka seperti bola yang ditendang ke sana ke mari.

Oleh karena itu, kaum muslimin wajib memperhatikan masalah ini dan mempersiapkan kekuatan, karena Allah Ta’ala berfirman:

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يُوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggetarkan musuh Allah, musuh kalian dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya, sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepada kalian. Dan kalian tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS al-Anfal: 60)

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَلَا يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَلَا يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حَتّٰى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَّدٍ وَّهُمْ صَاغِرُوْنَ

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedangkan mereka dalam keadaan tunduk.” (QS at-Taubah :29)

Sampai mereka membayar jizyah,” yaitu sampai mereka menyerahkan pajak.

Firman-Nya: “Dengan patuh” mengandung dua penafsiran. Pertama: Mereka tunduk kepada kita karena kita berkuasa atas mereka. Kedua: Orang-orang Yahudi dan Nasrani menyerahkan jizyah langsung dengan tangan mereka. Sebagian ulama berpendapat: “Jika mereka mengutus utusan untuk membayar jizyah, maka janganlah jizyah itu diterima. Mereka harus datang sendiri kepada pemimpin kaum muslimin untuk menyerahkan jizyah.”

Mari kita perhatikan ayat ini. Betapa Allah menginginkan kita dan betapa agung kedudukan Islam. Kita mewajibkan mereka membayar jizyah dan harus mereka sendiri yang datang membayarnya sehingga mereka kecil di hadapan kaum muslimin. Mereka tidak datang dengan bala tentara yang kuat, tetapi datang dengan hina, kecil, dan rendah diri.

Jika ada orang bertanya, “Benarkah ajaran Islam seperti itu? Bukankah itu sikap yang egois?” Kita menjawab “Apanya yang egois? Apakah kaum muslimin harus mengikuti keinginan mereka yang bertindak sewenang-wenang terhadap semua orang? Sama sekali tidak boleh. Umat Islam adalah umat yang akhlaknya paling mulia. Kalimat Allah adalah tinggi dan mulia. Tidak tercapai kemuliaan itu kecuali setelah kaum muslimin mulia. Lalu, kapan kaum muslimin mencapai kemuliaan? Mereka mencapainya apabila mereka berpegang teguh dengan ajaran agama dengan benar secara lahir dan batin, memahami bahwa kemuliaan milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum muslimin. Jika kaum muslimin masih menghina ajaran agamanya sendiri, tunduk dan mengekor kepada musuh, maka kemuliaan selamanya tidak akan pernah dicapai. Islam adalah agama yang benar dan tinggi, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَلَا تَهِنُوْا وَتَدْعُوْٓا اِلَى السَّلْمِۖ وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَۗ وَاللّٰهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَّتِرَكُمْ اَعْمَالَكُمْ

Janganlah kalian lemah dan minta damai padahal kalianlah yang di atas, dan Allah (pun) beserta kalian, dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amal kalian.” (QS Muhammad: 35)

Bagaimana mungkin kalian berdamai dengan mereka? Bagaimana mungkin kalian lemah, padahal kalian lebih tinggi dan Allah selalu bersama kalian. Sayangnya, kita telah bergeser dari jalur ajaran agama kita sehingga posisi kita terbalik. Generasi salafush shalih terdahulu ketika berjalan di muka bumi, mereka merasa lebih berhak mendudukinya, karena Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis di dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS al-Anbiya: 105)

Yaitu merasa dirinya memiliki dunia ini.

Tetapi keadaan sekarang terbalik.

Oleh karena itu, kami selalu memotivasi generasi muda untuk memahami dan berpegang-teguh pada ajaran agama dengan benar, selalu mewaspadai musuh-musuh Allah, memahami bahwa musuh sama sekali tidak akan berbuat untuk kemaslahatan kaum muslimin, tetapi berbuat untuk kemaslahatan diri sendiri dan kerusakan kaum muslimin dengan berlindung di balik tabir Islam.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memuliakan kita dengan agama ini, dan memuliakan agama ini dengan kita, menjadikan kita termasuk para penyeru dan penolong kebenaran, menyiapkan pemimpin yang saleh untuk umat Islam menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Baca juga: BERJIHAD MELAWAN DIRI SENDIRI

Baca juga: JIHAD PADA JALAN ALLAH

Baca juga: KAUM MUKMININ BAGAIKAN SATU BANGUNAN YANG SATU SAMA LAIN SALING MENGUATKAN

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati