Penulis rahimahullah berkata, “Bab Mujahadah”.
Mujahadah berarti berjuang atau bersungguh-sungguh dalam melawan diri sendiri dan melawan orang lain. Adapun mujahadah seseorang dalam melawan diri sendiri, maka ini termasuk hal yang paling berat. Mujahadah dalam melawan orang lain tidak akan sempurna kecuali setelah seseorang terlebih dahulu melakukan mujahadah dalam melawan diri sendiri.
Mujahadah dalam melawan diri sendiri dilakukan dengan bersungguh-sungguh dalam dua hal, yaitu melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
Melakukan ketaatan berat bagi jiwa, kecuali bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Begitu pula, meninggalkan kemaksiatan berat bagi jiwa, kecuali bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Oleh karena itu, jiwa membutuhkan mujahadah, terutama ketika keinginan terhadap kebaikan melemah. Sesungguhnya manusia mengalami kesulitan besar dalam menghadapi dirinya sendiri supaya memaksa dirinya melakukan kebaikan.
Di antara hal yang paling penting dalam mujahadah dalam melawan diri sendiri adalah mujahadah dalam mencapai keikhlasan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah. Sebab, keikhlasan merupakan perkara yang sangat agung dan berat, hingga sebagian ulama salaf berkata, “Aku tidak pernah bersungguh-sungguh melawan diriku sendiri dalam sesuatu sebagaimana aku bersungguh-sungguh dalam mencapai keikhlasan.” Oleh karena itu, balasan bagi orang-orang yang ikhlas adalah bahwa barang siapa mengucapkan “Laa ilaaha illallaah” dengan ikhlas dari hatinya, maka Allah akan mengharamkannya dari Neraka.
Kapan kalimat itu terealisasi? Sesungguhnya hal itu sangat berat. Mujahadah dalam mencapai keikhlasan kepada Allah adalah salah satu perkara yang paling sulit bagi jiwa. Hal itu karena jiwa memiliki kepentingan dan keinginan, dan karena manusia senang dihormati di hadapan orang lain, serta ingin dikatakan, “Orang ini ahli ibadah,” “Orang ini memiliki sifat-sifat kebaikan.” Dari sinilah setan masuk kepada manusia, mendorongnya untuk berbuat riya’ (pamer) dalam amalnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَمِعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ بِهِ
“Barang siapa mencari ketenaran, maka Allah akan memperdengarkan (aibnya), dan barang siapa riya’, maka Allah akan memperlihatkan (niatnya yang buruk).” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Artinya, orang tersebut akan menampakkan amalnya kepada manusia hingga akhirnya terbongkar —wal’iyadzu billah.
Di antara hal yang harus diperjuangkan oleh seseorang dalam melawan diri sendiri adalah melakukan ketaatan yang berat, seperti puasa. Sesungguhnya puasa adalah salah satu ketaatan yang paling berat bagi jiwa, karena di dalamnya terdapat peninggalan terhadap hal-hal yang biasa dilakukan, seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri. Oleh karena itu, kamu mendapati puasa terasa berat bagi banyak orang, kecuali orang yang dimudahkan dan diringankan oleh Allah.
Kamu mendapati sebagian orang, misalnya, ketika memasuki bulan Ramadhan, merasa seakan-akan gunung diletakkan di atas punggungnya —wal’iyadzu billlah— karena menganggap puasa sebagai sesuatu yang berat dan sulit. Hingga sebagian dari mereka menjadikan siangnya untuk tidur, dan malamnya untuk begadang dalam perkara yang tidak ada kebaikan di dalamnya. Semua itu terjadi karena beratnya ibadah itu baginya.
Di antara hal yang membutuhkan mujahadah, yaitu mujahadah seseorang melawan dirinya sendiri, adalah mujahadah dalam melaksanakan shalat berjamaah. Banyak orang merasa mudah untuk shalat di rumahnya, tetapi merasa berat untuk shalat berjamaah di masjid. Kamu mendapati seseorang berjuang melawan dirinya sendiri dan berkata, “Aku akan bersabar dulu,” “Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini dulu,” “Aku akan melakukan ini atau itu dulu,” hingga akhirnya shalat berjamaah pun terlewatkan darinya.
Beratnya shalat berjamaah bagi seseorang menunjukkan kemunafikan dalam hatinya, sebagaimana dalil dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَثْقَلُ الصَّلَوَاتَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، لَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا حَبْوًا
“Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Hal ini membutuhkan mujahadah.
Adapun mujahadah melawan diri sendiri dalam meninggalkan hal yang diharamkan, maka betapa banyak hal yang diharamkan yang terasa berat bagi sebagian orang untuk meninggalkannya. Kamu mendapati sebagian orang terbiasa melakukan sesuatu yang haram, sehingga terasa berat baginya untuk meninggalkannya. Mari kita berikan dua contoh mengenai hal ini.
Contoh pertama: merokok
Banyak orang diuji dengan kebiasaan merokok. Ketika rokok pertama kali muncul, para ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Di antara mereka ada yang mengatakan halal, ada yang mengatakan haram, ada yang mengatakan makruh, dan ada pula yang menyamakannya dengan khamar hingga mereka mewajibkan hukuman bagi peminumnya. Namun, setelah waktu berlalu, terungkap dengan jelas tanpa keraguan bahwa rokok adalah haram. Sebab, para dokter telah sepakat bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, menjadi penyebab penyakit kronis yang membawa seseorang kepada kematian. Oleh karena itu, kamu mendapati beberapa perokok meninggal saat ia sedang berbicara denganmu, atau meninggal ketika ia sedang berbaring di tempat tidur. Bahkan, jika ia mengangkat sesuatu yang ringan, jantungnya berhenti dan ia pun meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa rokok berbahaya, dan segala sesuatu yang berbahaya diharamkan bagi manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا
“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Mahapenyayang kepada kalian.” (QS an-Nisa’: 29)
Sebagian orang yang sudah kecanduan rokok merasa sulit meninggalkan rokok. Padahal, jika ia membiasakan diri untuk meninggalkannya sedikit demi sedikit, serta menjauh dari orang-orang yang merokok, maka hal itu akan menjadi mudah baginya, dan ia akan mulai membenci bau asapnya. Tetapi, hal ini membutuhkan tekad yang kuat dan iman yang tulus.
Contoh kedua: mencukur jenggot
Di antara perkara yang berat bagi banyak orang dan banyak orang yang diuji dengannya adalah mencukur jenggot. Sesungguhnya mencukur jenggot adalah haram, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَالِفُوا الْمَجُوسَ، خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ، وَفِرُّوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
“Berbedalah dengan orang-orang majusi. Berbedalah dengan orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot tumbuh panjang dan cukurlah kumis.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Banyak orang dikalahkan oleh hawa nafsunya sehingga mereka mencukur jenggotnya. Aku tidak tahu apa yang mereka dapatkan dari mencukur jenggot? Mereka tidak mendapatkan apa-apa selain dosa yang terus bertambah, hingga akhirnya imannya menjadi lemah —wal’iyadzu billah. Sebab, menurut mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maksiat mengurangi iman. Maka orang yang mencukur jenggotnya mendapatkan dosa yang mengurangi imannya, padahal mencukur jenggot tidak menambah kebugaran atau kesehatannya, dan tidak pula mencegahnya dari penyakit. Namun, karena kebiasaan, berhenti dari mencukur jenggot terasa sulit baginya. Oleh karena itu, seseorang harus bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, hingga ia menjadi bagian dari orang-orang yang berjihad di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman mengenai balasan bagi mereka:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar–benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS al-’Ankabut: 69)
Baca juga: JIHAD DAN SABAR
Baca juga: JIHAD PADA JALAN ALLAH
Baca juga: MEMBANTU DALAM KETAATAN KEPADA ALLAH
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

