JANGAN BERJALAN DENGAN SATU ALAS KAKI

JANGAN BERJALAN DENGAN SATU ALAS KAKI

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ، وَلْيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا

Janganlah salah seorang dari kalian berjalan dengan satu alas kaki. Hendaklah ia memakai keduanya atau melepas keduanya.” (Muttafaq ‘alaihi)

PENJELASAN

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah salah seorang dari kalian berjalan dengan satu alas kaki.” Maksudnya, janganlah salah seorang dari kalian berjalan dengan memakai satu alas kaki saja, sedangkan kaki yang lain telanjang.

Sabda beliau, “Hendaklah ia memakai keduanya.” Maksudnya, janganlah ia berjalan kecuali dengan menggunakan dua alas kaki, dan hendaklah sertiap kakinya memakai alas kaki.

Sabda beliau, “Atau melepas keduanya.” Maksudnya, atau jika tali salah satu alas kakinya putus sehingga tidak mungkin digunakan untuk berjalan, maka hendaklah kedua alas kaki tersebut dilepas agar ia tidak berjalan kaki dengan satu alas kaki.

Agama Islam adalah agama yang sempurna dan selalu mendorong umatnya meraih kesempurnaan. Berjalan dengan menggunakan satu alas kaki merupakan bentuk kekurangan atau aib, bertolak belakang dengan adat, dan sesuatu yang aneh. Oleh karena itu, agama Islam melarang seseorang berjalan dengan satu alas kaki. Ia memakai keduanya atau melepaskan keduanya. Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Asal dari larangan adalah pengharaman. Tetapi, kebanyakan ulama membawa pelarangan ini kepada makruh, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Pada suatu ketika tali sandal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam putus. Beliau pun berjalan hanya dengan menggunakan satu sandal sampai beliau memperbaikinya.”

Dalam al-Furu’ disebutkan, “Makruh berjalan dengan menggunakan satu sandal kecuali ada keperluan. Bahkan Imam Ahmad menyatakan bahwa berjalan dengan satu sandal tetap makruh meskipun dilakukan dalam waktu sesaat.”

Baca juga: KAKI KANAN DULU KETIKA MEMAKAI ALAS KAKI, DAN KAKI KIRI DULU KETIKA MELEPASNYA

Baca juga: MAKRUH HUKUMNYA MINUM SAMBIL BERDIRI

Baca juga: ADAB BERSIN

Baca juga: ADAB BERDOA

Rujukan:

1. Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram,

2. Abdul Qadir Syaibah al-Hamd, Fiqhul Islam, Syarh Bulugh al-Maram min jam’ Adillatil Ahkam.

Adab