KISAH NABI NUH – ASAL-USUL KESYIRIKAN

KISAH NABI NUH – ASAL-USUL KESYIRIKAN

Selama sepuluh generasi setelah masa Adam, umat manusia tetap berpegang teguh pada Islam. Setiap nabi mewasiatkan kepada penggantinya untuk selalu beriman dan bertauhid. Tapi setelah itu terjadi petaka. Fitrah ternoda. Iblis melancarkan serangannya, yaitu berbisik ke dalam jiwa manusia.

Karena masa berlalu lama, hati manusia menjadi keras. Banyak di antara mereka menyimpang dari ajaran agama. Dari zaman Nabi Nuh hingga sekarang manusia mengultuskan orang-orang saleh, baik ketika orang saleh masih hidup maupun setelah mati.

Di antara orang-orang saleh yang pernah hidup sebelum Nuh adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Mereka memiliki kedudukan tinggi di hati manusia karena ketakwaannya berada di atas manusia umumnya pada masa itu. Sampai akhirnya mereka meninggal dunia dengan membawa kesalehan dan ketakwaan.

Masa generasi orang-orang saleh itu telah berlalu, namun nama mereka tetap harum dan terngiang di telinga banyak orang. Di sinilah setan menjalankan tipu dayanya. Setan mendatangi manusia lalu berkata, “Buatlah patung-patung orang-orang saleh itu di majelis-majelis yang biasa mereka duduki! Namailah patung-patung itu dengan nama mereka masing-masing!”

Mereka pun melakukan perintah setan. Mulanya patung-patung itu tidak disembah. Hingga setelah mereka meninggal dunia dan ilmu terhapus, patung-patung itu pun disembah oleh generasi berikutnya.

Setan melakukan permainan ini hingga mengotori fitrah manusia, menjauhkan dan menyingkirkan manusia dari agama mereka, hingga syariat diganti setelah akidah mengalami kerusakan. Di sinilah seorang rasul atau nabi dibutuhkan untuk mengembalikan fitrah yang suci dan jernih. Karena petaka yang terjadi begitu besar, kesyirikan adalah dosa besar, dan penduduk bumi telah buta akan tujuan mereka diciptakan, maka Allah mengutus Nuh untuk mengobati luka akidah mereka.

Nuh adalah rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi. Dia menyeru kaumnya agar beribadah kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya, serta menjauhi penyembahan-penyembahan kepada selain-Nya. Nuh berdakwah dengan berbagai cara, di siang dan malam hari, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Selama itu dia mengalami gangguan dan siksaan dari kaumnya.

Nabi atau rasul diutus dari kalangan yang memiliki nasab terbaik, paling tinggi tingkatan ilmu dan akhlaknya. Seperti itulah nabi Allah Nuh. Dia memulai dakwah setelah Allah menurunkan wahyu kepadanya.

Nuh menyeru kaumnya seraya memperkenalkan diri, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kalian, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku.” (QS Nuh: 2-3)

Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat).” (QS al-A’raf 59)

Sungguh, aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian, agar kalian tidak menyembah selain Allah. Aku benar-benar khawatir kalian akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat pedih.” (QS Hud: 25-26)

Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia. Maka mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS al-A’raf: 65)

Hanya saja kaumnya seperti yang disebutkan al-Qur’an: “Sungguh, mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka.” (QS an-Najm: 52) “Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.” (QS adz-Dzariyat: 46).

Nuh menjalankan tugas sulit di tengah-tengah mereka. Dia memerangi mereka dengan pedang hidayah di tengah hutan kesyirikan yang dipenuhi binatang buas yang terbiasa dengan kekafiran. Mereka melupakan Allah hingga Allah membiarkan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.

Kaum Nuh tidak memenuhi seruan tauhid yang disampaikan Nuh. Mereka malah mencemooh dakwah Nuh karena mengira dakwah Nuh tidak lebih dari gagasan sepintas yang akan segera hilang jika dihadang, ditolak atau diingkari. Namun kenyataan berkata lain. Kebenaran muncul dengan jelas. Mereka kemudian menyadari bahwa dakwah Nuh serius. Mereka mendapati fakta bahwa dakwah Nuh diterima oleh orang-orang lemah yang menemukan kenikmatan beriman.

Baca sesudahnya: PERSEKONGKOLAN ORANG-ORANG TERKEMUKA

Baca juga: GHULUW TERHADAP ORANG SALEH ADALAH AWAL KESYIRIKAN

(Dr Hamid Ahmad ath-Thahir)

Kisah